Hold Me

841 58 6
                                        

Reena seorang diri sedang berada dipinggir pantai, bertumpu pasir dia duduk memandangi indahnya senja sore. Sejak dua minggu berada disini, ini adalah aktivitas paling dia sukai. Selain mengagumi fenomena alam yang cantik itu, baginya ini lebih menenangkan dari pada harus menatap tembok 24/7.

Reena memang duduk sendiri dipinggir pantai, namun bodyguard suruhan Yunho masih memantau dari kejauhan. Sore ini memang tidak terlalu ramai seperti hari-hari biasanya, namun masih ada beberapa orang yang juga menikmati waktu dan pemandangan tak jauh dari tempat Reena duduk.

Reena terus mengelus perutnya yang masih rata,  kare na menurut aplikasi yang Reena miliki, janinnya yang berumur 7 minggu masih seukuran buah aratilis.

"Sayang, kamu percaya omongan Papa kamu gak? Mama sih gak percaya, tapi kenapa malah banyak berharap bisa bareng lagi ya?" monolog Reena.

Entah kenapa sore ini pikirannya terus melayang membayangkan kehidupan beberapa tahun ke depan. Saat anaknya lahir, saat sang anak mulai belajar berjalan dengan Taeyong yang menuntunya. Berjalan, bermain pasir dan air laut dengan senja sore yang sama seperti saat ini.

Sadar apa yang dia katakan membuat imajinasinya semakin jauh, Reena membiarkan air matanya jatuh.

"Maafin Mama ya, ngebiarin Papa kamu berjuang sendirian. hiks... hiks..."

"Cangcimen, cangcimen... Cangcimennya kak" suara itu mengganggu Reena, pasalnya sang pedagang dengan bucket hat dan satu keranjang jualannya saat ini berdiri disampingnya.

"Enggak mas, makasih" Jawab Reena tanpa menoleh, Reena dengan cepat menghampus sisa-sisa air matanya, agar tak ketahuan menangis.

"Kakaknya butuh tissue?" Tawar si penjual lagi.

"Enggak mas, saya gak butuh tissue" Reena mengambil sapu tangan dari slingbag kecil yang dibawanya.

"Butuhnya apa kak? Butuh suami?" Reena menghentikan aktivitasnya menyeka air mata, memejamkan matanya seolah menahan emosi.

Reena menoleh ke arah si penjual bermaksud untuk mengusirnya, namun yang dia dapati adalah Suaminya, Lee Taeyong dengan senyum jahilnya.

"Tae-yong?" Mata Reena membulat sempurna saat yang dia lihat benar-benar Taeyong, membuka bucket hadnya lalu duduk disamping Reena.

Kemudian Reena mengedar pandangannya, ke arah bodyguard nya. Seakan tau apa yang membuat istrinya gelisah, Taeyong tersenyum dan memeluk Reena dari samping.

"Udah aman Ree, bodyguard kamu udah aku culik biar gak ganggu quality time kita" bisik Taeyong.

Reena berusaha melepaskan pelukan itu, Taeyong menurut.

"Aku gak mau nambah masalah, aku gak mau Papa pindahin aku ke tempat baru lagi"

Reena berdiri, ingin menghindar sebisa mungkin. Namun belum jauh, langkahnya harus terhenti akibat pelukan Taeyong dari belakangnya.

"Everything is done, kita udah bisa bareng lagi Reena" bisik Taeyong lagi.

Reena membalikkan tubuhnya menghadap Taeyong, wajahnya masih tersenyum tenang.

"Maksud kamu?" Reena mengerutkan alisnya.

"Masalah aku sama Jennie udah selesai, dan Papa udah ijinin aku buat disamping kamu lagi"

"Masalah aku sama Jennie udah selesai, dan Papa udah ijinin aku buat disamping kamu lagi"

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Perjodohan - Lee Taeyong [END]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang