Semalam setelah mandi, ajaibnya aku langsung tidur. Entah kekuatan apa yang aku miliki, padahal hampir seharian tertidur dikamar Taeyong, sesampainya dirumah masih bisa kembali tidur dengan cepat.
Kali ini beda, saat aku terbangun ternyata Taeyong ada disampingku tertidur pulas. Aku tersenyum, sangat sejuk melihatnya dari samping seperti ini.
Tangannya juga sedang menggenggam tanganku posesif, padahal dia tertidur tapi pegangannya sangat erat.
Aku ingin bangun untuk masak, karena melihat jam di dinding kamar menunjukkan jam 7 pagi. Tapi tangan Taeyong tak mau lepas. Dengan berat hati aku harus membangunkannya.
"Taeyong, lepasin tangan ku. Aku mau masak" bisikku lirih ke telinga Taeyong.
"Gak mau" Taeyong menjawab tak kalah lirih.
"Tapi kita harus sarapan"
"Nanti aja"
"Yaudah, 10 menit"
Taeyong mengangguk, lalu ku biarkan kedua tanganku di letakkan di dadanya.
"Hari ini kamu yang masak, gak papa kan?" Taeyong masih dengan mata terpejam.
"Iya gak papa, harusnya emang gitu"
Taeyong menggeleng, "Enggak, aku udah janji bakal menjamin makanan enak dan bergizi buat kamu"
"Gak harus tiap hari kok, kalau kamu lagi lembur atau ada kerjaan dadakan begini kan kasian kamunya"
Aku berbohong, harusnya ku katakan saja apa yang ada dipikiranku tentang omongan om jaejoong kemarin. Namun, mulutku masih susah diajak jujur, gak mungkin juga hari kedua nikah udah ribut.
Taeyong terdiam, beberapa menit setelahnya tangannya mau terlepas. Aku menuju dapur dan memasak apapun yang aku bisa.
Jam 9, semua masakan sudah siap saji. Baru aku menaiki tangga untuk membangunkan Taeyong, ternyata dia baru saja keluar dari kamar dengan keadaan sudah rapi.
"Kamu mau kemana?" tanyaku.
"Aku ada urusan di hotel, mungkin pulang agak malam"
"Semalem kamu pulang jam berapa?"
"Subuh, maaf aku gak sempet bales chat kamu. Subuh tadi gak bangunin kamu juga, maaf ya"
Aku mengangguk saja, lalu kita sama-sama menuju meja makan.
"Em, Ree... Aku sarapan di hotel aja ya?"
"Kenapa?"
"Aku alergi semua jenis kacang-kacangan, sayang" Taeyong tersenyum mengelus rambutku lembut.
Harusnya aku tanya Taeyong mau makan apa dan makanan kesukaannya, batinku.
Rasanya ingin menangis, kenapa banyak hal yang aku gak tau tentang Taeyong. Sedangkan dia bahkan punya list makanan kesukaanku dan alergiku.
Dan aku baru sadar, pagi ini aku masak sate yang sudah terbaur dengan bumbu kacang, tempe dengan dengan campuran kacang panjang, tempe dan tahu goreng juga.
"Maaf..." ☹️
Dadaku sesak, aku merasa sangat jahat untuk membalas semua kebaikannya. Bilang saja aku ini lebay, karena terlalu kecewa dengan diriku sendiri yang tidak mengenal jauh suamiku.
"Gak papa, Sayaaang... Nanti aku kirim list makanan yang biasa aku makan dan list alergiku ya"
Lagi, Taeyong tersenyum lalu mendekapku. Tangis ku pecah seketika, aku buruk dalam mengenal suamiku sendiri.
"Maaf... Aku... Jahat banget pasti"
"Udah dong Ree, gak papa. Namanya juga baru nikah"
Aku diam. Membiarkan Taeyong menepuk punggung menenangkanku.
KAMU SEDANG MEMBACA
Perjodohan - Lee Taeyong [END]
Fanfiction[COMPLETE] [Mix Baku-non Baku] [REVISI] #4 - daniel (05/11/2021) #5 - lee taeyong #55 - taeil (05/11/2021) #73 - kun (05/11/2021) #120 - yuta (05/11/2021) #122 - johnny (05/11/2021) Menikah dengan orang yang dikenal hanya SATU bulan menjelang menik...
![Perjodohan - Lee Taeyong [END]](https://img.wattpad.com/cover/258566398-64-k817027.jpg)