24 - Perasaan Bersalah

112 15 6
                                        

Assalamualaikum teman-teman!
Hari ini adalah hari Sabtu dan itu artinya kita berjumpa kembali dalam kisah Kutu Buku 😁

Kisah dari Arini dan Daud yang selalu menjadi favorit kita semua 🤗. Siapa yang rindu dengan karakter Arini yang lucu dan menggemaskan dan Daud yang mengagumkan?

Ayo mari kita sama-sama menyelam ke dalam ceritanya 😁✌️

******

Arini datang ke sekolah pagi-pagi sekali dengan penuh semangat. Ia menenteng kantongan plastik berisi makanan dan sebotol minuman. Arini mengunjungi kelas Daud. Tidak ada siapapun disana. Arini menghela napas lega.

Arini menghampiri bangku Daud dan menyelipkan kantong plastik berisi kotak makanan dan botol minum itu di dalam laci meja Daud. Arini bertepuk tangan dengan senang.

“Dengan ini lo bisa focus belajar. Nggak usah keluar kelas. Biar gue aja yang datangin lo.”

Arini berbalik dan seketika beradu mata dengan Ilham. Arini terpaku membeku. Ilham menatapnya sebentar lalu kemudian berjalan ke bangkunya dengan tenang seakan tidak pernah menyadari kehadiran Arini.

Arini mematung di tempat. Ia melirik Ilham yang mengeluarkan gawai-nya dan mulai menonton youtube. Arini menggigit bibir dengan gugup. Ia teringat kesalahannya dulu sewaktu membuat Ilham malu di depan umum karena penolakannya yang kasar dan mentah-mentah.

Arini meremas rok-nya dengan gemetar. Ia mencuri-curi pandang Ilham yang sedang focus menyaksikan youtube. Sepertinya ia sedang menonton game. Pikir Arini.

Apapun resikonya, gue harus coba. Daud ingin gue jadi cewek yang baik. Gue harus nunjukin ke dia.

Arini memberanikan diri menyapa Ilham dengan sopan.

Now or never Arini

“Ilham,”

“Apa?” Balas Ilham tanpa memalingkan pandangannya dari gawai-nya.

Arini diam kebingungan mencari kata-kata.

Duh kok susah banget sih?

“Gu-gue ingin m-minta maaf Ilham.”
Arini merasa seakan nyawanya terlepas mengucapkannya.

Tidak ada jawaban dari Ilham.

Hening.

Lama Arini menunggu. Namun Ilham tidak berusaha untuk menunjukkan balasan.

Karena penasaran, Arini bertanya.

“Ilham,”

“Apa?” Ketus Ilham.

“Lo mau maafin gue?”

Ilham meletakkan gawai-nya dengan kasar sehingga sedikit mengejutkan Arini. Ilham menghembuskan napas berat. Ia menatap Arini dari seberang bangku Daud.

Arini yang mendapatkan tatapan tajam Ilham dibuat tidak berdaya dan tidak mampu membalas tatapannya sedikitpun.

“Lo sadar yang lo lakuin ke gue?” Tanya Ilham dengan nada tinggi.

Arini mengangguk dengan takut.

“Gu-gue sadar.”

“Yang lo lakuin ke gue itu sakit banget Rin. Sumpah sakit banget.”

Arini semakin bersalah mendengar Ilham menyebut rasa sakit itu tanpa main-main. Ia sangat serius dan terdengar sangat terluka. Ucapan yang dilontarkannya dengan sedikit isakan membuat Arini semakin merasa sangat bersalah.

“Gue sadar gue salah. Gue nggak sepantasnya melakukan hal itu pada lo.”

“Memang benar.” Dengus Ilham.

KUTU BUKU (TELAH TERBIT)Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang