38 - Aliansi Camelia dan Hakim

67 5 0
                                        

Assalamualaikum teman-teman ! Saya baru saja memposting di wattpad saya cerita lanjutan dari Kutu Buku 😁

Kisah Daud dan Arini merupakan kisah remaja yang terjebak dalam hubungan asmara cinta anak SMA. Akan tetapi latarbelakang keduanya berbeda. Arini merupakan anak seorang gubernur atau sultan di suatu daerah di Indonesia sedangkan Daud merupakan siswa tercerdas dan terkenal dingin. Mereka tidak pernah bisa cocok jika dilihat dari latarbelakang mereka. Hingga kemudian, sesuatu mengikat mereka berdua dan lambat laun asmara bersemi diantara mereka berdua.

Seperti apakah kisah mereka berdua? Seseru apa? Sebagaimana janji saya, kita bertemu selalu dengan mereka di hari Sabtu 😁

So tanpa perlu membuang waktu berlama-lama mari kita sama-sama menyelam ke dalam ceritanya 😁

******
Camelia mengunjungi Hakim di ruang OSIS selama waktu istirahat. Hakim yang sedang sendirian dan sibuk mengerjakan laporan kegiatan terkejut mendapati Camelia datang berkunjung. Ia memersilahkan Camelia masuk dan menyambutnya. Walaupun dia merasa bingung dengan kehadiran Camelia.

“Camelia?” Sapa Hakim sedikit bingung dengan kehadiran Camelia.

Camelia tersenyum ramah. “Halo Hakim.”

Dengan canggung Hakim membalas. “Halo juga Camelia. Ada apa?”

“Apa gue mengganggu lo?”

Hakim menggeleng. “Ada apa kunjungin gue?”

Camelia menatap Hakim sejenak. Hakim yang mendapati tatapan Camelia merasa tidak nyaman. Ia pun berkata dengan nada menegur.

“Camelia, lo bisa jelaskan maksud kedatangan lo kan?”

Camelia memaksakan senyum dan mengangguk pelan.

“Gue mau bicara tentang Arini.”

Mendengar nama Arini, Hakim bersikap serius dan menatap Camelia tajam.

“Ada apa dengan Arini?”

Camelia diam sejenak. Ia menatap kedua tangannya seperti sedang merenungkan sesuatu. Hingga kemudian Hakim kembali menegurnya.

“Camelia, lo bicara beritahu gue maksud lo.”

Camelia pun akhirnya menghembuskan napas berat.

“Lo cinta dengan Arini kan?”

Hakim terkejut. “Kenapa lo bertanya?”

Camelia memaksakan senyum. “Jawab gue saja.”

Hakim menghembuskan napas berat. “Gue memang mencintai Arini.” Jawab Hakim lirih. “Sekarang,” Hakim berkata dengan nada menekan. “kenapa lo bertanya hal itu pada gue?”

Dengan lirih dan tegas Camelia menjawab.

“Gue cinta dengan Daud.”

Hakim mengernyitkan alis. “Lo cinta dengan Daud?”

Camelia mengangguk pelan. “Benar. Gue cinta dengan Daud.”

“Lalu apa yang lo inginkan?”

“Lo tahu gue cinta Daud dan gue tahu lo cinta Arini.”

Hakim terdiam. Ia mulai mencerna maksud dan arah pembicaraannya bersama Camelia.

“Jangan bilang lo bermaksud untuk,”

“Tepat. Itu maksud gue.” Sela Camelia cepat.

Hakim menggeleng seperti frustrasi. “Gue nggak yakin gue bisa,”

Camelia menempatkan tangannya di atas tangan Hakim dengan lembut.

“Lo cinta dengan Arini kan?” Tanya Camelia lagi.

Hakim mengangguk dengan helaan napas pasrah.

“Gue sangat mencintai Arini.”

“Lalu apa yang ingin lo lakuin buat dapatin Arini?”

“Gue akan lakukan apapun buat mendapatkan hati Arini.”

“Sekarang, lo mau terima tawaran gue?”

Hakim merasa dirinya ditekan oleh kekuatan yang besar dan dadanya terasa berat. Ia tahu jika melakukan permintaan Camelia, ia akan menghadapi konsekuensi besar dari tindakannya. Tapi memikirkan Arini membuatnya buta. Ia sangat mendambakan Arini. Hatinya sungguh-sungguh terpaut pada Arini dan apapun yang berhubungan dengan Arini, ia akan melakukannya dengan sepenuh hati.

Hakim menatap Camelia bertanya-tanya. Cewek itu tampak tenang saja merasakan tatapan Hakim yang memiliki sorot mata tajam.

“Sekarang, beritahu gue, apa tawaran lo?”

Camelia tersenyum penuh kemenangan.

Akhirnya lo tunduk pada keinginan gue. Mudah banget menaklukkan lo Hakim. Lo cuman ganteng doang. Walaupun pintar lo tidak secerdas yang gue pikir. Gue kira lo punya prinsip sebagai cowok. Tapi baguslah, gue juga butuh tangan lain untuk mendapatkan Daud.

“Gue ingin menawari lo kerjasama.”

“Untuk mendapatkan Daud bagi lo dan Arini untuk gue?” Tebak Hakim seraya mendengus sinis.

Camelia tersenyum kecil. “Benar.”

“Sangat mudah sekali menebaknya.”

“Kita punya tujuan yang sama. Jadi menebaknya juga mudah.”

Hakim mendengus. “Gue nggak nyangka lo selicik ini Camelia.”

Camelia tampak tidak terpengaruh dengan apa yang dikatakan Hakim tentangnya.

“Gue memang licik tapi lo terlalu naif.”

Mendengar dirinya ditegur dengan sarkas oleh Camelia membuat Hakim tersenyum.

“Lo memang pintar melihat sisi buruk orang ya?”

“Bukan pintar. Lo yang nggak bisa menyembunyikan sifat lo dengan baik.”

Hakim tertawa geli. “Jadi lo mau gue melakukan apa?”

“Gue mau lo bantu gue buat Daud percaya bahwa Arini mengkhianati dia.”

Hakim mengerutkan kening. “Arini nggak bakalan mau mendengar gue. Arini nggak suka dengan gue.”

Camelia tertawa renyah. “Lo nggak harus meyakinkan Arini.”

“Lalu kalau begitu apa?” Desak Hakim.

Camelia terdiam. Raut wajahnya mendadak berubah serius.

“Lo harus membuat mereka berdua tidak saling memercayai satu sama lain.”

“Gue?” Tunjuk Hakim pada dirinya sendiri. “Kenapa harus gue?”

“Karena lo punya pengaruh buat sebuah berita buruk tentang masing-masing diantara mereka.”

“Lo mau gue membuat cerita bohong tentang mereka berdua?”

Camelia mengangguk. “Benar. Apa itu terlalu berat bagi lo?” Tanyanya dengan nada menantang.

Hakim menggeleng dengan kepala tertunduk. “Bukan berat. Gue hanya tidak ingin membuat berita buruk untuk Arini. Kalau untuk Daud gue sanggup tapi jangan buat gue menyakiti perasaan Arini.”

Camelia terdiam berpikir. Kemudian ia mengangguk.

“Lo benar. Gue nggak memikirkan hal itu. Begini saja, lo buat berita buruk untuk Daud. Biar gue yang buat berita buruk untuk Arini dan pada akhirnya mereka akan saling berselisih untuk mempertanyakan masing-masing dari berita buruk yang muncul tentang mereka. Lalu setelah itu, kita bakalan muncul di momen-momen kesedihan mereka untuk mencuri hati mereka.” Ujar Camelia.

Hakim menatap Camelia yang tersenyum licik. Di dalam hati walaupun Hakim tidak tega untuk melakukan itu semua, namun ia tidak ingin kehilangan kesempatan untuk dapat memiliki Arini dan dengan berat hati Hakim mengangguk sepakat.

“Walaupun ini terasa berat bagi gue. Tapi demi mendapatkan Arini, gue akan bekerja sama dengan lo.” Kata Hakim sembari mengulurkan tangan dengan enggan.

Camelia tersenyum gembira merasa menang. Ia menjabat tangan Hakim dengan sukacita.

“Bagus. Mulai sekarang kita punya misi masing-masing. Untuk mendapatkan hati mereka berdua.”

Hakim memaksakan senyum. “Semoga berjalan lancar.”

Camelia tersenyum. “Tentu saja. Ini akan berhasil.”

******

“Arini!”

Arini terbangun dari tidurnya di perpustakaan sedikit terkejut mendapatkan teguran Daud.

“Apa sih? Mengganggu tidur cantik gue saja lo.”

Daud menghembuskan napas berat. “Mau belajar atau nggak sih?”

Dengan santai dan acuh tak acuh Arini menjawab. “Mau tidur aja.”

“Ya sudah lo pulang sana tidur di Kasur empuk lo.” Cibir Daud.

“Lalu lo dimana?”

“Gue tetap disini. Mau belajar.”

Arini mendesah kecewa. “Ya udah gue juga tetap disini. Mau tidur.”

“Perpustakaan bukan tempat untuk tidur.”

“Gue tidur di samping lo.”

“Nggak nyambung.”

Arini tertawa renyah. “Tapi dekat lo selalu. Udah gitu aja deh. Simple kok.”

Daud melirik Arini sejenak dan mendengus geli. “Lo mending pulang aja deh kalau mau tiduran.”

“Gue malas di rumah. Bosan.”

“Loh kok bosan? Lo kan anak sultan. Lo bebas melakukan apapun.”

Arini memandangi Daud dengan wajah cemberut.

“Lo jadi cowok jahat banget. Emang salahkah kalau pacar ingin berduaan dengan pacarnya?”

Daud memukul kepala Arini dengan lembut menggunakan buku.

“Menurut lo perpustakaan adalah tempat untuk pacaran?”

Arini tersenyum bagai tak berdosa dan menggeleng.

“Nggak.”

“Menurut lo perpustakaan tempat untuk tidur?”

Arini menggeleng lagi.

Daud tersenyum dan mengacak kepala Arini dengan gemas.

“Makanya lo kalau mau tidur pulang aja.”

Arini merapikan rambutnya dan mengaturnya kembali sambil menggerutu kesal.

Daud tidak menghiraukan gerutuan Arini dan sibuk memusatkan perhatian pada buku di hadapannya.

Mata Arini membulat melihat buku yang sedang dibaca oleh Daud dan dia menunjuk sebuah gambar yang terdapat di dalamnya dengan riang.

“Wah gue tahu tempat ini!” Seru Arini dengan penuh semangat.

Daud segera menoleh ke sekeliling karena suara Arini yang terdengar sangat ribut dan mengganggu seisi ruangan.

“Berisik!” Daud menarik Arini untuk duduk kembali. “Lo buat gue malu Rin!” Tegur Daud berbisik.

Arini terkekeh. “He he maafin gue. Gue terlalu bersemangat.”

“Lo jangan mengulangi lagi.”

Arini mengangguk mengiyakan. “Itu adalah kincir angin di Belanda.”

Daud mengangguk membenarkan. “Benar.”

“Gue udah pernah kesana.”

Daud tertarik untuk bertanya. “Bagaimana disana?” Tanyanya dengan penuh rasa ingin tahu.

Arini merasa aneh dengan Daud yang tampak sangat ingin tahu tetapi dia mengabaikannya dan menjawab dengan santai.

“Bagus banget. Lebih bagus dari gambar yang ada di buku ini.”

Daud terpaku menatap gambar itu seperti sedang mendamba.

“Kenapa lo bertanya?”

Dengan tawa canggung Daud menjawab. “Nggak kok. Hanya ingin bertanya.” Kilahnya.

Arini menatapnya dengan curiga.

“Kenapa sih? Gue kepo nih.” Desak Arini.

Awalnya Daud tidak ingin menjawab tetapi karena Arini mendesaknya terus pada akhirnya dengan terpaksa Daud menjawabnya.

“Belanda adalah negara impian gue.”

“Negeri penjajah?”

Daud terkejut sejenak namun memaksakan senyum.

“Memang benar mereka penjajah. Tapi jangan lupa. Banyak orang besar dari negara kita belajar dan menuntut ilmu disana. Begitu pula dengan kakek-nenek lo yang dari kesultanan.”

“Lo ingin melanjutkan studi kesana?” Tanya Arini hati-hati.

Daud termenung lama.

“Gue nggak tahu. Tapi mimpi gue berada disana.”

KUTU BUKU (TELAH TERBIT)Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang