Halo teman-teman ! Senang rasanya bisa kembali lagi :) kini kita sudah berada di cerita selanjutnya. Yakni bab 4 dan semakin seru saja. Kira-kira apa yang akan terjadi ya antara Arini dan Daud selanjutnya ?
Selalu sehat dimanapun kalian berada ya dear readers dan semoga selalu dimudahkan urusannya oleh Allah swt. Amin !
Let's read and have fun reading guys !
******
Arini mengunjungi perpustakaan. Bu Vega sendiri sedikit terkejut melihat cewek yang terkenal cantik tetapi pemalas dan paling banyak masalah di sekolah ini menginjakkan kaki di perpustakaan pada waktu kosongnya. Sehingga membuat bu Vega berpikir apa yang terjadi padanya.
Arini melemparkan senyum seramah mungkin pada bu Vega. Bu Vega hanya mengangguk singkat. Arini mengedarkan pandangan berkeliling dan dalam hati ia merutuki dirinya karena berada di perpustakaan. Sebuah tempat yang paling membosankan di muka bumi.
Arini memerhatikan para murid yang berada di dalam perpustakaan. Sangat sedikit sekali. Tiba-tiba ia teringat, ayahnya selalu merawat buku-bukunya di perpustakaan dan terkadang membersihkannya. Sewaktu kecil Arini dibawa ikut serta dengan ayahnya mengunjungi perpustakaan ayahnya di rumah dan disana dia menyaksikan betapa ayahnya sangat menghargai buku-buku.
"Zaman sekarang, para pemuda sangat jarang membaca buku. Apalagi buku pelajaran dan agama. Kebanyakan pemuda saat ini menghabiskan waktu dengan mengosongkan otak dan dompet untuk bersenang-senang. Sedangkan dulu di zaman papa, kami selalu mengosongkan dompet dan mengisi otak dengan buku. Coba saja kamu bertanya tentang materi pelajaran atau apapun yang bersangkutan dengan ilmu pengetahuan dan agama. Kebanyakan dari mereka tidak tahu. Tetapi kalau kamu bertanya dimana tempat makan yang bagus, tempat wisata yang bagus, game-game apa yang bagus, dan merek pakaian serta apapun yang terkesan modern tentu saja mereka tahu."
Setelah itu papanya meninggalkannya sambil tertawa membiarkan Arini menikmati perpustakaan ayahnya lebih lama sendirian.
Jauh di dalam lubuk hati Arini, ia setuju dengan papanya. Tetapi baginya, zaman telah berubah. Sekarang, bagi Arini, pemuda tidak dapat dituntut untuk mengisi otaknya dengan buku. Banyak hal baru dan keahlian baru yang justru dapat membuat otak mereka terisi tanpa harus dengan membaca buku.
Arini menghela napas. Ia tidak mau memikirkan hal-hal itu. Ia menyipitkan mata dan mendapati Daud ada di pojok ruangan sedang asyik membaca sebuah buku.
'Ngapain dia disana ?' Pikir Arini dengan heran. 'Apakah dia bolos kelas ? Ah nggak mungkin. Reputasinya sebagai siswa cerdas dan rajin tidak mengizinkannya.'
Arini tersenyum jahil dan otaknya berputar dengan cepat. Tepat, Arini sudah mendapatkan target. Arini mengambil tempat di hadapan Daud dan menarik kursi kosong yang tersedia lalu duduk. Ia melemparkan senyum menggoda dan tatapan genit pada Daud.
Daud tidak peduli dan tetap fokus membaca bukunya.
"Daud," Panggil Arini dengan menggoda.
Daud tidak menghiraukannya dan malah menulis sesuatu dari buku yang dibacanya.
Arini cemberut. Ia tidak boleh menyerah. Pikirnya dan dengan jahil, ia menyentuh tangan Daud lalu menggenggamnya lembut.
Daud sangat terkejut dengan perilaku Arini dan ia mendelik padanya.
"Daud sayang," Goda Arini dengan genit.
"Lepasin," Perintah Daud dengan dingin.
"Nggak mau,"
"Lepasin nggak,"
Arini menggeleng dengan sengaja. "Nggak mau, soalnya kamu udah megang tangan gue."
Daud menarik paksa tangannya dari genggaman Arini dan menutup bukunya. Ia beranjak berdiri dari tempatnya duduk. Arini juga ikut berdiri.
"Lo mau kemana ?"
Daud memberinya tatapan mengintimidasi. "Bukan urusan lo !"
Arini menghentakkan kaki. Daud berjalan keluar dari perpustakaan. Arini mengikuti dari belakang dengan kesal.
"Daud tunggu !"
Daud berhenti tiba-tiba membuat Arini mendadak berhenti dan menabrak punggung Daud sehingga membuat hidung Arini sakit.
"Kalo mau berhenti pakai aba-aba dong." Gerutu Arini sambil mengusap hidungnya yang sakit.
Daud membalikkan badan dan menatap tajam Arini.
"Mau lo apa sih ?"
Arini tersenyum genit. "Gue mau berteman dengan lo."
"Nggak makasih. Gue nggak suka cewek bodoh dan gila kayak lo." Lalu Daud berjalan pergi meninggalkan Arini.
Arini menggerutu kesal dan kembali mengejar Daud.
"Biarin kalau menurut lo gue bodoh dan gila. Tapi kan gue cantik dan sexy."
Lagi-lagi Daud berhenti dan lagi-lagi Arini menabrak punggung Daud. Lagi-lagi hidungnya sakit.
"Iiih gue bilang kalo lo mau berhenti,"
"Lo berhenti ngikutin gue bodoh."
Arini cemberut dan tanpa tedeng aling memeluk Daud dengan erat. Membuat cowok itu benar-benar terkejut dan tercengang. Cewek ini memang sudah gila !
"Lepasin nggak. Nanti ada yang lihat !" Kata Daud dengan panik.
Arini dengan penuh kemenangan membalas. "Nggak akan. Kalau gue lepas, lo bakalan pergi lagi dan gue susah kejarnya. Jadi, gue lebih baik nahan lo kayak gini deh."
Daud merasakan emosinya memuncak ke ubun-ubun dan dengan kasar melepaskan dirinya dari Arini.
"Lo bau, gila, dan bodoh. Gue nggak suka dengan lo." Kata Daud dengan dingin dan berjalan dengan cepat meninggalkan Arini.
"Gue bau kah ?" Arini mencium aroma tubuhnya dengan lugunya. "Nggak kok, gue harum banget malahan. Gue kan pakai parfum Shumukh dibeliin papa dari Dubai. Ya kali gue bau, ah masa gue bau, parfum gue aja harganya paling mahal di dunia. Atau mungkin dia sengaja mau lari dari gue ya ?"
Menyadari hal itu Arini kesal dan menghentakkan kaki dengan kesal ketika sadar Daud sudah tidak ada dalam arah pandangnya.
"Dia kok bisa-bisanya mengabaikan gue sih ?" Arini menendang-nendang sekitar. Tanpa disengaja, ia menendang sebuah buku.
Arini terkejut dan mengambil buku itu. Buku hijau. Buku catatan Daud. Arini tersenyum. Ia merasa sangat beruntung.
******
Arini berhasil mendapatkan buku milik Daud. Hmm, sepertinya Arini ingin memanfaatkan keberuntungan itu ya.
Kira-kira apa yang akan dilakukannya ya kemudian ?
Stay tune dan terus ikuti cerita dari Kutu Buku ya my beloved readers.
Without you guys, I can't do this !
So have fun reading ya guys :) :)
KAMU SEDANG MEMBACA
KUTU BUKU (TELAH TERBIT)
Roman pour AdolescentsDaud Putra Fajar adalah siswa kelas 12 IPA 4 yang terkenal kaku, dingin, serius, dan sangat membosankan. Akan tetapi satu hal yang sangat menonjol selain sifat menyebalkannya yang terkesan anti sosial. Ia memiliki kecerdasan diatas rata-rata. Para s...
