40 - Taruhan Arini dan Camelia

59 4 0
                                        

Assalamualaikum teman-teman ! Saya baru saja memposting di wattpad saya cerita lanjutan dari Kutu Buku 😁

Kisah Daud dan Arini merupakan kisah remaja yang terjebak dalam hubungan asmara cinta anak SMA. Akan tetapi latarbelakang keduanya berbeda. Arini merupakan anak seorang gubernur atau sultan di suatu daerah di Indonesia sedangkan Daud merupakan siswa tercerdas dan terkenal dingin. Mereka tidak pernah bisa cocok jika dilihat dari latarbelakang mereka. Hingga kemudian, sesuatu mengikat mereka berdua dan lambat laun asmara bersemi diantara mereka berdua.

Seperti apakah kisah mereka berdua? Seseru apa? Sebagaimana janji saya, kita bertemu selalu dengan mereka di hari Sabtu 😁

So tanpa perlu membuang waktu berlama-lama mari kita sama-sama menyelam ke dalam ceritanya 😁

******

Selepas acara, mereka disuguhkan makanan oleh panitia. Daud bersama timnya langsung pergi untuk mengisi perut. Arini bersama Rena, Mira, dan Diandra bergabung bersama satu meja dengan Daud dan timnya. Arini tentu saja mengambil tempat di samping Daud. Yang lebih menjengkelkan adalah ternyata Camelia bersama Lilya, Isabel, dan Marina duduk juga dengan mereka. Bahkan Camelia duduk di samping Daud juga.

Arini tentu saja kesal dengan situasi seperti ini dan dia sangat tidak terima dengan apa yang ada. Arini melirik Camelia dengan sinis. Camelia pun melakukan hal yang sama. Mereka saling melirik dengan sinis. Daud menghela napas resah. Dua orang cewek yang menyukainya membuatnya kesal dengan sikap mereka yang kekanak-kanakan.

Sedangkan Hakim terus menatap Daud dengan benci. Ia mengalihkan pandangan pada Arini dengan sayu. Ia sedih melihat Arini yang terpaksa harus membuat dirinya mengemis perhatian Daud dengan disaingi oleh Camelia. Ingin sekali Hakim membawanya jauh-jauh dan menyadarkan Arini bahwa ada seorang cowok yang jauh lebih baik dan lebih pantas untuk Arini yaitu dirinya sendiri. Hakim sedih melihat Arini harus mendamba perhatian Daud padahal wanita yang sangat cantik seperti dirinya tidak perlu melakukan hal itu. Justru dialah yang seharusnya mendapatkan perhatian siapapun.

Hakim mengepal erat-erat tangannya berusaha menenangkan dirinya sebaik mungkin. Mika yang duduk di sampingnya melirik tangan Hakim yang terkepal erat. Mika membelalakkan mata.

“Hakim, lo baik-baik saja kan?” Tanya Mika merasa khawatir.

Hakim mendengus kesal. “Gue cabut dulu. Pengen sendiri.”

Mika melirik Daud dengan tidak nyaman sambil masih berbicara dengan Hakim. “Lo jangan pergi dong. Kita baru saja merayakan kemenangan kita.”

Hakim tidak peduli dan dia beranjak berdiri lalu meninggalkan ruang makan. Mereka semua memerhatikan kepergiannya.

“Gue cabut juga ya.” Kata Diandra dan kemudian berlari mengejar Hakim.

Arini dan Rena saling memandang dengan bertanya-tanya menyaksikan kepergian Diandra. Mereka berdua memikirkan hal yang sama.

******

Hakim memandangi kota Jakarta dari atas gedung dengan perasaan gundah gulana. Ia tidak habis pikir tentang Arini yang begitu gampangnya merendahkan diri dan martabatnya untuk mengemis perhatian Daud.

“Kenapa Rin? Kenapa lo harus sebodoh itu? Lo itu anak sultan. Lo pantas mendapatkan yang jauh lebih baik daripada Daud. Lo itu nggak pantas untuk meminta perhatian cowok seperti Daud, Rin!” Keluh Hakim.

Hakim mengusap wajahnya dengan frustrasi.

“Apa kurangnya gue Rin?”

Diandra sampai dan terdiam sejenak memandangi Hakim dari jauh. Ia ikut merasakan kesedihan yang dirasakan oleh Hakim dan dia sangat iba. Diandra menempatkan tangan di dada dengan perasaan haru seraya menatap punggung Hakim dengan sedih.

KUTU BUKU (TELAH TERBIT)Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang