BAB 26

501 31 0
                                        

Ketegangan masih terasa. Dengan jarak dekat beberapa centi saja tubuh mereka saling menyentuh. Astaga. Sudah sejak beberapa menit yang lalu padahal. Rona merah menjalar di pipinya jika ia mengingat kejadian itu lagi.

Rafael sudah pergi keruang kerjanya setelah makan bersama tadi. Diandra merasakan kecanggungan saat makan bersama. Namun Rafael? Biasa saja seperti tak ada apa-apa. Menurut pandangan Diandra.

Setelah menyelesaikan mencuci piring ia membuat coklat panas lalu melangkahkan kakinya kearah ruang televisi. Sesekali menyesapnya menikmati, manisnya coklat panas itu.

Rafael. Diruang kerja sedang membaca informasi tentang Diandra. Sejak pertama kali bertemu dengan Diandra ia langsung menyuruh anak buahnya mencari tahu tentang Diandra. Ia membaca dengan cermat mengenai profil Diandra.

Diandra Alexander

'Diandra mengubah nama belakangnya? Kenapa? Berarti Diandra saudara Revan?' Batinnya bertanya.

"Jika Diandra saudara Revan, berarti memang benar foto-foto dulu hanya fitnah semata. Jadi itu memang kesalahpahaman?" Gumam Rafael. Ia melanjutkannya.

"Kecelakaan mobil 7 tahun yang lalu, pernah Koma dan mengalami Amnesia sementara." Baca Rafael.

'Kenapa ia tak mengetahui ini? Apa penyebabnya? Apakah ini alasan Diandra menghilang selama ini? Karena Amnesia.' Sudahlah nanti akan ia tanyakan kepadanya.

Menutup leptopnya. Melangkah keluar menghampiri Diandra yang sedang asyik menonton film. Koleksinya.

"Ada yang ingin kutanyakan padamu." Beritahunya ketika ia sudah mendudukkan dirinya di samping kanan Diandra. Lalu menyesap coklat panas Diandra.

"Kenapa anda meminumnya. Anda bisa bilang kepada saya untuk membuatkannya." Kesal Diandra yang melihat minumannya di minum Rafael. Rafael hanya mengendikkan bahunya acuh.

"Apa kau pernah mengalami kecelakaan?"

"Pernah. Kata Bang Re saya pernah kecelakaan."

"Kapan?"

"Hm. 7 tahun yang lalu."

"Kenapa?"

"Apanya? Dan apa gunanya bagi anda." Menghiraukannya. Ia kembali menikmati tontonan filmnya.

"Saya ingin pulang. Ketemu Mom dan Dad."

"Ya. Besok kuantar."

"Sekarang."

"Besok."

"Sekarang."

"Besok."

"Seka----hmmmppptt

Belum selesai. Rafael membungkam mulut Diandra dengan bibirnya dengan lembut penuh perasaan. Manis dan aroma coklat dapat ia rasakan. Bibir Diandra akan menjadi candu baginya.

Diandra dapat merasakan rasa ciuman itu. Ia tentu terkejut mendapatkan ciuman secara tiba-tiba. Awalnya ia memberontak, akhirnya pasrah. Hingga ia merasakan kehabisan napas. Ia memukul dada Rafael. Memneritahu ia kehabisan napas. Rafael melepaskan ciuman mereka. Lalu mengelus bibir Diandra yang bengkak karena ulahnya dengan lembut.

"Besok. Oke?" Diandra mengangguk. Ia masih mengatur napasnya dan pikirannya seolah blank. Rafael tersenyum puas.

🍁🍁🍁🍁🍁

Rafael melajukan mobilnya membelah kota yang terkenal akan kemacetannya ini. Suhu udara sangat menyengat. Untung di mobil ada AC. Rafael menatap kedepan sesekali melirik Diandra yang melihat gedung-gedung pencakar langit di Jakarta.

RAFANDRA (COMPLETED)✅Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang