BAB 17

340 21 0
                                        

Hallo guys gimana nih kabarnya???? Para mahasiswa apa kabar dengan tugas kalian??? Sekarang jarang banget up kenapa??? Kalian pasti tau tugas negara yang begitu menumpuk itu sebabnya jarang up........
Kuharap kalian suka sama cerita ini.......tanpa banyak kata lagi

👇👇👇👇👇

HAPPY READING GUYS📖

🍁🍁🍁🍁🍁

Sedangkan Tasya tak tinggal diam. Ia mencoba memanggil Diandra.

"Diandra!" Panggil Tasya seraya menggoyangkan bahu Diandra. Tetap tak ada jawaban. Tasya berinisiatif melihat wajah Diandra.

Pucat.

Astagaa....

"Di--Diandra Bangun!."

🍁🍁🍁🍁🍁

"Di--Diandra bangun!". Tasya khawatir dengan keadaan Diandra

Tasya berusaha membangunkan Diandra dengan menepuk pelan pipi Diandra.

"Bu, sepertinya Diandra pingsan. Sejak tadi saya bangunin gak bangun-bangun." Beritahu Tasya setibanya guru itu didekat meja mereka.

"Bu, biar saya saja bawa kerumah sakit." Tawar Dimas

"Ya udah. Kamu bawa kerumah sakit. Tasya kamu ikut Dimas."

"Iya bu."

Dimas langsung menggendong Diandra menuju mobilnya. Untung saja hari ini ia membawa mobil. Sebab motornya harus di service bulanan.

Tasya mengikuti dibelakangnya. Dan membantu dengan membukakan pintu mobil di jok belakang sebelumya ia sudah masuk kedalam supaya kepala Diandra ditaruh diatas pahanya.

Dimas segera memasuki kemudi dan melajukan mobilnya menuju rumah sakit terdekat.

🍁🍁🍁🍁🍁

Sedangkan disisi lain. Rafael merasakan perasaan yang tidak enak. Merasakan kegelisahan. Entah apa yang ia gelisahkan.

Arjuna yang melihat kegelisahan Rafael pun berbisik

"Kamu kenapa? Kok keliatan gelisah gitu?"

"Gak tau kenapa. Tiba-tiba merasa ada sesuatu yang terjadi gitu." Jelas Rafael.

"Mungkin cuma perasaanmu saja."

"Mungkin."

Mereka fokus kembali dengan penjelasan guru di depan. Mungkin hanya Arjuna saja. Rafael tidak bisa fokus.

Waktu bergulir dengan cepat. Tak terasa sudah waktunya pulang sekolah.

"Yuk Raf." Ajak Arjuna

"Hm"

Mereka menyusuri koridor sekolah menuju parkiran motor. Namun terdengar bisikan bisikan yang membuat Rafael mengalihkan atensinya pada bisikan itu.

"Eh tau gak tadi pas jam pembelajaran. Ada anak kelas 10 yang pingsan."

"Kelas 10 berapa?"

"Kalo gak salah 10 IPA 4 pas bu Ratna mengajar."

"Lo tau gak siapa namanya?"

"Kurang paham juga sih."

"Udah yuk pulang. Gak penting juga."

Medengar kelas Diandra, Rafael menjadi khawatir. Semoga saja tak terjadi apa-apa dengan Diandra. Doanya

RAFANDRA (COMPLETED)✅Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang