Next part, bab-bab terakhir...... stay tune
Happy reading guyss......
📍📍📍📍📍
Setelah membicarakan masalah kematian mertuanya dengan Revan. Rafael melangkahkan kakinya meninggalkan ruang kerja Revan menuju kamar dimana sang istri tidur sejak kepulangan dari pemakaman.
Cklek!
Menghampiri ranjang dan mendudukan dirinya di area kosong ranjang. Kemudian mengelus kepala sang istri memberikan kecupan di dahinya.
'Kau pasti kuat sayang. Jangan seperti ini lagi. Aku ikut merasakan sakit melihatmu bersedih seperti ini.' Batin Rafael
Merasakan usapan di kepalanya. Diandra membuka mata, terlihat adanya lingkaran hitam menandakan sang pemilik kurang tidur.
"Kak?"
"Maaf sayang keganggu ya? Tidur lagi ya?" Diandra menggelengkan kepalanya. "Sini!" Seraya menepuk area ranjang yang kosong, meminta Rafael merebahkan dirinya di tempaf tersebut. Mengerti akan permintaan istrinya segera ia merebahkan dirinya. Membawa Diandra kedalam pelukannya.
"Tidur ya? Atau mau makan dulu?" Diandra mengeratkan pelukannya. Menenggelamkan wajahnya didada bidang sang suami. Nyaman.
Tak berselang lama. Suara dengkuran teratur terdengar menandakan Diandra sudah terlelap kembali. Melihat itu Rafael memberikan kecupan kembali dan memejamkan matanya. Mengarungi kegelapan yang ada. Ia berharap besok keadaan Diandra sudah membaik.
Semoga rencana yang telah mereka susun berjalan lancar dan Revan baik-baik saja.
Flashback on
"Jadi benar dia pelakunya?"
Rafael mengangguk tegas. "Ya, dia orangnya. Lalu apa yang akan kau lakukan?"
"Membalasnya. Kau tak perlu ikut, biar kutangani ini sendiri. Terima kasih telah membantu. Tolong jaga Diandra baik-baik." Pinta Revan.
"Baiklah, kalau itu mau mu. Kalau butuh bantuan kau hubungi saja aku. Aku akan membantumu." Ujar Rafael. Revan mengangguk.
Flashback off
🍁🍁🍁🍁🍁
Sayup-sayup Rafael mendengar seseorang muntah-muntah dikamar mandi. Ia meraba renjang disebalahnya. Kosong. Mengerjap sesaat, melirik jam di nakas yang baru menunjukkan pukul 3 dini hari. Bangun. Melangkah ke arah pintu kamar mandi.
"Sayang? Kamu tak papa?" Ujar Rafael sembari mengetuk pintu.
Cklek!
Diandra keluar. Wajahnya nampak pucat jalanpun harus berpegangan pada dinding. Tepat setelah membukanya, ia terjatuh untung saja Rafael segera meraihnya agar tak menyentuh lantai. Ia sudah tak kuat lagi untuk berjalan.
"Hei sayang, kamu sakit?" Rafael Khawatir melihat keadaan Diandra. "Kakak panggilkan dokter ya?" Tanyannya dengan nada khawatir. Diandra menggeleng menjawab pertanyaan Rafael.
"Tapi kamu pucet sekali sayang."
"Gak usah kak, mungkin ini masuk angin saja. Dibuat istirahat sebentar nanti juga sembuh."
"Kamu yakin?" Lagi-lagi Diandra mengangguk. Segera Rafael menggendong Diandra menempatkannya di ranjang kembali. Lalu beranjak menuju dapur, ia berniat mengambilkan makanan untuk Diandra.
"Kakak, mau kemana?" Lirih Diandra. Setelah mencekal tangan Rafael
"Kakak, mau kedapur mengambilkan makanan untukmu. Mengingat tadi malam kamu belum makan malam. Pasti asam lambung kamu naik. Akibatnya kamu muntah-muntah."
KAMU SEDANG MEMBACA
RAFANDRA (COMPLETED)✅
Romance#AdelardoSeries1 Percayalah "Hidup penuh dengan teka-teki takdir. Tak terduga." - Diandra Altair Penasaran? langsung dibaca. mohon maaf apabila ada kesalahan ini merupakan cerita pertama saya. mohon dimaklumi bahasanya. mohon maaf apabila ada kesa...
