#AdelardoSeries1
Percayalah
"Hidup penuh dengan teka-teki takdir. Tak terduga."
- Diandra Altair
Penasaran? langsung dibaca.
mohon maaf apabila ada kesalahan ini merupakan cerita pertama saya. mohon dimaklumi bahasanya.
mohon maaf apabila ada kesa...
Mohon maaf. Bagi yang dibawah umur lebih baik tidak membaca part ini, karena ada beberapa adegan yang tidak sesuai dengan usia dibawah umur...... jadi yang dibawah umur mending skip ke part selanjutnya.
🍁🍁🍁🍁🍁
Keadaan Diandra? Sangat memprihatinkan. Mata sembab, hidung memerah. Lebam di beberapa tempat. Berjalanpun susah. Tidak ada yang menolong. Miris bukan.
Diandra berusaha berjalan menuju kamarnya. Mengistirahatkan fisik dan batinnya. Luka fisiknya tidak sebanding dengan luka batinnya yang semakin menganga. Kadangkala Diandra tidak kuat dengan semua ini. Ia ingin ikut dengan mama--kandung--nya yang telah meninggal.
🍁🍁🍁🍁🍁
Flashback on
10 tahun yang lalu
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Sebuah mobil hitam memasuki pelataran rumah sederhana berlantai dua. Itu papanya--Altair. Diandra dan mama sila yang baru saja bermain di halaman rumah gembira menyambut papanya. Namun tak selang beberapa menit, senyum Diandra dan mama sila luntur. Melihat seorang wanita dan anak kecil seusia Diandra atau mungkin 2 tahun diatas Diandra yang turun dari mobil yang ditumpanginya.
"Oh ya, kenalkan ini Dina, isteri kedua saya. Ini wanita yang saya cintai. Dan ini anaknya Dea. Juga akan menjadi anak saya. Kami menikah 1 bulan lalu." Ucap papanya memperkenalkan orang tersebut dengan santai tanpa ada rasa bersalah pada isteri pertamanya.
"Mass...hiikkss." ucap isteri pertamanya--Sila-- Dengan terisak mendengar pengakuan suaminya yang telah mengkhianatinya. Seraya merengkuh Diandra kecil.
"Saya tidak mencintai kamu sejak awal. Kita menikah karena adanya Diandra dirahim kamu. So, kamu harus menerima ini semua." Ucap papanya. Kemudian berlalu bersama Dina dan Dea. Tanpa menghiraukan Sila yang sedih. Sedangkan Diandra hanya menatap bingung mamanya.
"Ma, mereka tadi siapa?" Tanya Diandra dengan polos.
Tanpa menjawab pertanyaan Diandra. Sila memeluk Diandra sembil terisak. Merenung semua yang terjadi dalam hidupnya.
"Sila, apakah hari ini saya ada jadwal lagi?" Tanya Altair pada sekretarisnya yang masih berfokus dengan berkas-berkasnya.
"Ada janji bertemu dengan kolega bapak dari Amerika di club. Nanti malam pak." Jawab Sila dengan sopan selaku Sekretarisnya.
"Oke, nanti kamu temani saya. Detailnya kamu kirim pesan ke saya." Sahut Altair pada sekretarisnya.
"Baik pak, ada lagi yang perlu saya bantu pak?" Tanya Sila lebih lanjut pada bosnya itu.
"Tidak. Lanjutkan pekerjaanmu." Jawab Altair pada Sila.
"Saya permisi pak." Pamit Sila. Terdengar dehaman bosnya. Kemudian berlalu menuju pintu ruangan bosnya.