02 - Keluarga Nasya

3.1K 121 0
                                        

Apa artinya sebuah keluarga lengkap jika mereka selalu membandingkan, selalu mengatakan bodoh, selalu mencari kesalahan yang tak pernah ku lakukan - Nasya Viorella Stefanie

•••

Nasya membelokkan stir mobilnya lalu memasuki pekarangan rumahnya yang sangat luas. Ia melihat sebuah mobil abu-abu Mitsubishi Pajero Sport dan disamping mobil itu terdapat mobil berwarna biru keluaran terbaru Porsche Panamera. Ia tahu jika kedua mobil itu milik kakak laki-lakinya dan orang tuanya.

Nasya terlahir dalam keluarga yang berada. Bayangkan saja mobil Toyota Vioz berwarna merah miliknya itu mencapai harga 321, 75 juta. Harga mobil milik orang tuanya saja berkisar sekitar 733, 7 juta. Belum lagi milik kakak laki-lakinya, mobil keluaran terbaru yang mencakup harga sekitar 2, 2 miliyar.

Namun bagi Nasya rumah mewah ini adalah neraka baginya. Tidak ada kebahagiaan setiap kali ia masuk. Yang terdengar di telinganya hanyalah sebuah perbandingan dan perkataan yang tidak pantas.

Ia benci jika selalu dibandingkan dengan kakak dan adik laki-lakinya. Di dunia ini tidak ada manusia yang sempurna. Semuanya punya kekurangan dan kelebihan masing-masing. Begitupun dengan Nasya. Orang lain tidak bisa memaksa kemampuannya, termasuk orang tuanya sendiri.

Nasya turun dari mobil lalu berjalan dengan langkah gontai. Ia melihat seragam sekolahnya yang sedikit basah dan kotor akibat ulah Martha. Ia yakin sekali ketika masuk ke dalam rumah, orang tuanya pasti akan mencibir tentang seragamnya itu.

Begitu sampai di ambang pintu Nasya mengucap salam seperti biasanya. "Assalamu'alaikum," Namun tidak ada sahutan dari siapapun. Padahal kedua orang tuanya, kakak dan adik laki-lakinya duduk di sofa ruang tamu. Hanya menjawab saja susah bagi mereka.

Nasya melirik mereka sekilas. Terlihat Helen menatapnya sangat tajam. Memperhatikan setiap inci tubuh gadis itu dari atas sampai bawah.

"Kenapa seragam kamu kotor? Habis dari mana kamu?" tanya Helen sengit membuat Nasya terperanjat.

"Tadi jatuh," jawab Nasya jujur.

Adif bersuara, "kamu itu udah besar, kalau jalan matanya dipake gabisa?"

Nasya mengangguk dan memilih diam tak menjawab lagi.

"Jangan sampai udah nggak ada otak, nggak bisa gunain mata lagi lo," sahut kakak laki-lakinya, Rifkal. Memang seperti itu, ucapan Rifkal selalu menyakitkan. Sama seperti kedua orang tuanya.

"Coba aja Nasya kamu itu seperti Rifkal dan Darel. Mereka sama-sama nurut, nggak kayak kamu." Mendengar penuturan sang Mama hatinya sangat sakit seperti tertusuk belati. Terus saja seperti ini, hidup penuh dengan perbandingan. Nasya benar-benar muak.

Rifkal tersenyum bangga. Ia suka sekali saat Nasya dibandingkan dengannya. Bagi Nasya, Rifkal telah berubah sejak 3 tahun yang lalu. Ralat, bukan Rifkal saja melainkan semua yang berada di ruangan ini.

"Aku nggak suka dibandingin, Ma." Air matanya hampir luruh saat ia mengucap kata itu.

"Kalau kamu nggak mau dibandingin, mangkanya kamu contoh Rifkal sama Darel. Lihat mereka selalu mendapatkan nilai yang memuaskan, sedangkan kamu? Hanya membuat malu Papa sama Mama aja." Helen emosi. Anak perempuan satu-satunya ini selalu membuatnya naik darah. "Mama menyesal, Sya. Karena sudah melahirkan anak seperti kamu."

"Kenapa Mama nggak bunuh Nasya aja? Nasya emang nggak pernah terlihat benar di mata kalian,"

"NASYA!" bentak Adif membuat Nasya terperanjat. Detik itu juga Adif menghampirinya lalu menampar pipi mulusnya.

Plak

Seketika pipi Nasya langsung memerah. Ia masih tak percaya jika Adif menampar nya untuk yang pertama kali. Tidak ada yang membelanya. Helen, Rifkal serta Darel hanya melihat dengan tatapan biasa. Sama sekali tidak peduli.

NASYA STORY Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang