Perihal melupakan memang tak akan pernah mudah untuk siapa saja, mau sesingkat apapun kisahnya, kenangan itu akan tetap ada—Azardian Pamungkas
•••
Kevan terus berceloteh tanpa henti. Sampai-sampai Nasya bosan sendiri mendengarnya. Lelaki yang baru menjadi teman sebangkunya itu cukup seru. Apapun yang menurutnya lucu dan menarik, pasti diceritakan.
"Lo bisa diem nggak? Pusing gue dengernya," Nasya menopang dagunya dengan ekspresi kesal.
"Cerita gue ngebosenin, ya? Atau lo nggak suka sama ceritanya?" tanya Kevan.
"Kev, gue bilang diem, ya diem!"
"Harus banget? Tapi, lo tau kalau sekarang jam kosong, sabi kali berbagi cerita atau pengalaman lo gitu,"
Nasya lelah. Berulang kali ia menyuruh agar lelaki itu diam. Namun, tetap saja berbicara panjang lebar. Apakah Kevan ini memang tidak mengerti bahasa manusia?
"Terserah lo, terserah!"
"Ah, lo mah, malah marah, Sya. Padahal gue pengen ngehibur lo."
"Gue nggak butuh, Kev. Lo bisa lihat 'kan? Gue baik-baik aja!"
"Masa sih?"
Kevan adalah teman yang menyebalkan. Bahkan lebih dari seorang Lala. Ah, kalau seperti ini Nasya jadi teringat mereka. Tetapi Nasya tak lupa akan status dirinya. Ia bukanlah lagi teman mereka.
"Woi, Sya! Bengong aja sih lo, kenapa?" pekik Kevan penasaran.
"Apasih, Kev?" balas Nasya ketus.
"Ya ampun, gue nanya baik-baik lho, Sya."
"Terserah lo!"
•••
Nasya memutuskan untuk pergi ke perpustakaan sekolah ketika waktu istirahat tiba. Dengan ditemani Kevan tentunya.
Gadis itu pasrah ketika Kevan terus memaksa agar iku dengannya. Padahal Nasya sendiri pun tak akan terjadi apa-apa. Mungkin maksud Kevan hanya mengantisipasi bila sewaktu-waktu ada siswa yang menganggunya, maka lelaki itu akan melindungi Nasya.
"Sya, lo mau ngapain sih ke perpus?" tanya Kevan basa-basi.
"Beli jajan," jawab Nasya asal.
"Pasti lo dehidrasi, ya? Gila lo, perpustakaan tempatnya orang baca buku, yakali beli jajanan."
"Kalau lo udah tau, ngapain nanya sih? Buang-buang waktu aja!"
Nasya melanjutkan langkahnya. Kesal mendengar pertanyaan demi pertanyaan tidak jelas dari mulut Kevan ini, harusnya ia tak usah memiliki teman saja daripada punya teman seperti Kevan. Tiap hari kerjaannya bikin naik darah terus, heran banget.
Sampai belokan Nasya tak sengaja menabrak dua orang gadis. Bukunya jatuh dan berserakan, ia mencoba memungutnya kembali. Namun sebelum itu, sebuah sepatu putih tanpa permisi berpijak di atas salah satu bukunya.
Jelas Nasya murka. Ini buku pelajaran dan sama sekali siapapun tidak boleh menginjaknya. Nasya tak rela, ia harus memberikan pelajaran kepada sang pelaku.
Sedikit kepalanya mendongak. Menatap tajam seorang gadis dengan tatanan rambut pirangnya. Nasya tak kaget, justru wajah kurang ajar ini yang perlu ia tampar sekarang juga.
"Singkirin sepatu murahan lo! Nggak guna, yang ada buku gue rusak gara-gara kaki sialan ini!" cerca Nasya sambil menendang kaki Martha.
"Bangsat! Udah mulai berani ya sekarang?" Martha mencengkram dagu Nasya kuat, hingga ia terlihat kesakitan.
KAMU SEDANG MEMBACA
NASYA STORY
Romance⚠Beberapa part mengadung adegan kekerasan, dimohon bijak dalam menyikapinya⚠ Nasya Viorella Stefanie. Semua mengatakan bahwa cewek itu nyaris sempurna. Nasya itu baik, Nasya itu cantik, Nasya juga pintar. Namun sayangnya seluruh teman sekelasnya men...
