08 - Kejamnya Seorang Ayah

2.3K 83 3
                                        

Bahkan ketika aku mengatakan yang sebenarnya, mereka masih saja memberikan tuduhan dengan cara yang keji—Nasya Viorella Stefanie

•••

"Mohon maaf, Pak. Sebelumnya saya mau tanya, ada perihal apa sampai orang tua saya dipanggil ke sekolah?" tanya Nasya. Ia benar-benar tidak mengerti dengan semua ini. Padahal ia tak melakukan kesalahan apapun. Lalu mengapa orang tuanya sampai dipanggil?

"Nasya, apakah kamu lupa dengan kejadian sekitar jam 10 tadi yang menimpa Echa, teman sekelas kamu?"

"Saya tau, Pak. Lalu apa salah saya?"

"Dengan terpaksa kami harus mengeluarkan siswi berprestasi seperti kamu."

Deg

Mendadak tubuh Nasya terasa beku. Surat yang berada dalam genggamannya pun jatuh detik itu juga. Apa kata orang tuanya nanti saat mendengar kabar ini?

"Saya tidak melakukan kesalahan apapun, Pak. Saya hanya berusaha menolong Echa agar dia tidak melakukan itu!" ujar Nasya dengan nada meninggi.

"Menolong atau mendorong?" Pak Ihsan menggelengkan kepala tidak percaya mendengarkan penjelasan Nasya.

"Pak, tolong percaya sama saya! Echa sendiri Pak yang menjatuhkan badannya."

"Maaf, Nasya. Tetapi semua bukti mengarah ke kamu. Menurut kesaksian Azar dan Martha yang berada di tempat kejadian saat kamu mendorong Echa." jelas Pak Ihsan.

Martha? Bahkan gadis itu tidak ada disana ketika kejadiannya berlangsung. Hanya Azar dan dirinya yang melihat Echa melakukan aksi gila itu.

Jelas-jelas Azar tahu jika Echa menjatuhkan dirinya sendiri tanpa ada yang mendorong. Lalu mengapa lelaki itu malah memberikan kesaksian yang palsu?

"Pak, saya benar-benar tidak melakukan hal ini!" Nasya berusaha membela dirinya sendiri.

"Sekali lagi saya mohon maaf, Nasya. Saya tidak bisa menerima lagi alasan kamu dalam hal apapun!" Ini benar-benar tidak adil. Niat Nasya menolong Echa malah berakhir seperti ini.

"Saya tunggu kehadiran kamu bersama orang tuamu besok! Saya harap kerjasamanya. Sekarang kamu boleh keluar, Nasya."

"Pak, tapi—"

"Silahkan keluar, karena pembicaraan kita sudah cukup!"

Akhirnya Nasya keluar dari ruang kepala sekolah. Nasya melewati koridor dengan langkah gontai. Tangannya meremas kuat surat berbalut amplop putih itu. Ia tak tahu lagi harus bagaimana. Sudah berusaha menjelaskan pada Pak Ihsan namun tetap saja ia yang disalahkan.

Saksi mata satu-satunya adalah Azar. Namun tak mungkin Nasya menemui Azar dengan keadaan seperti ini. Mengapa Azar begitu jahat padanya?

Plak

Sebuah tamparan mendarat di pipi mulusnya. Cera, gadis itulah pelakunya. Masalahnya saja tadi belum selesai. Lalu ini apalagi? Apakah dirinya membuat masalah terhadap Cera? Nasya rasa tidak.

"DASAR CEWEK SIALAN! LO TUH KAYAK PSIKOPAT TAU NGGAK?!" maki Cera.

"Lo tuh ngapain sih? Selalu aja ikut campur urusan orang! Kurang kerjaan, ya?"

Kali ini Nasya benar-benar berani mengatakan Cera. Gadis seperti Cera memang pantas mendapatkan ini. Cera pikir Nasya tidak berani dengannya?

"HEH! GAUSAH PURA-PURA BODOH! GAUSAH MENGALIHKAN TOPIK! LO ITU UDAH CELAKAIN ECHA! MAU LO APASIH BANGSAT!"

Nasya tertawa hambar. "Lo tau apa? Bahkan saat kejadiannya lo nggak ada disana. Nggak usah nuduh orang sembarangan!"

Cera mengepalkan tangannya kuat. Lalu beberapa detik kemudian ia mendorong Nasya. Untung saja Nasya bisa mengimbangi tubuhnya. Kalau tidak pasti ia sudah jatuh.

NASYA STORY Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang