Kamu hanyalah sebatas lara yang hinggap dalam rongga dada—Nasya Viorella Stefanie
•••
"Sya, kamu sakit?" tanya Rifkal, mengunci pandangan Nasya dalam satu titik.
Dadanya bergemuruh hebat, ada suatu hantaman keras menabrak dinding pertahanannya. Jujur, ia tak berani menjawab pertanyaan Rifkal. Takut jika lelaki itu semakin marah dengannya.
Ia berusaha agar tidak terlihat seperti orang panik. "Sakit? Hahaha, kakak ngaco, deh! Nih, lihat, aku baik-baik aja, 'kan?" ucapnya sambil pura-pura tertawa.
"Jangan bohong, Sya!" Rahang tegas Rifkal terlihat menonjol. Itu artinya ia sungguh serius akan ucapannya.
Nasya menelan ludahnya susah payah. Sekarang apa yang akan ia katakan kepada Rifkal?
"Sya, jangan takut, bilang aja. Kakak nggak akan marahin kamu,"
"Sebentar, Kakak tau darimana kalau aku sakit?"
Rifkal menghela nafasnya pelan. Apakah harus ia memberitahu Nasya soal itu, Rifkal rasa hal itu tidak perlu.
"Nggak penting, Sya."
Nasya menggeleng cepat. "Jelas penting, Kak!"
"Oke, oke, Kakak akan jelasin." Rifkal mengalah, ia tak mau menambah derita adiknya.
FLASHBACK ON
Siang itu hujan lebat mengguyur Ibu Kota Jakarta. Tepatnya pukul 1 siang, Rifkal nekat menerobos derasnya guyuran air.
Jauh sebelum ia ingin kembali ke rumah, Rifkal memutuskan untuk mencari kebenaran tentang penyakit adiknya. Tempo hari Rifkal pernah memaksa Leo untuk menceritakan semua tentang adiknya, Nasya.
Tak peduli dengan suara hujan yang ribut, juga suara gemuruh guntur yang saling sahut menyahut. Ia mencoba melirik arloji di pergelangan tangan. Rifkal masih belum yakin, tapi daripada ia penasaran lebih baik mencari tahu sendiri.
Menempuh waktu hampir 1 jam, ia mendengus sebal lantaran terjebak macet. Memang jarak antara rumah sakit tersebut dengan kampusnya lumayan jauh, sehingga memakan waktu yang cukup lama.
Dan disinilah kakinya berpijak. Di depan gedung kokoh bercat putih. Rifkal telah turun dari mobilnya, ia menatap nanar bangunan tersebut. Bagaimana jika yang dibilang Leo itu sungguhan? Tak terbayang betapa hancurnya perasaan Rifkal, sebab ia telah gagal menjadi seorang Kakak.
Ia mulai melangkahkan kaki untuk masuk. Ketika sudah sampai dalam, Rifkal menanyakan ruangan atas nama 'Dr. Egy Herlambang' kepada salah satu suster.
"Permisi, bisa bicara dengan Dokter Egy?" Rifkal masuk tanpa permisi.
"Dengan saya sendiri. Ada hal yang bisa saya bantu?" tanya Dokter Egy.
"Langsung aja, saya nggak mau basa-basi. Apa pasien dokter ada yang bernama Nasya Viorella?"
Sejenak, Dokter Egy berpikir. Ia mencoba mengingat nama itu kembali. "Oh, iya, ada. Dia anak yang baik, murah senyum, dan kalau tidak salah masih SMA." kata Dokter Egy.
"Apa saya boleh tahu penyakit yang di derita Nasya?" tanya Rifkal dengan raut sangat memohon.
Karena sudah berjanji dengan Nasya, Dokter Egy tak mungkin mengingkari janjinya. Nasya meminta agar Dokter Egy menyimpan rahasia tentang penyakitnya. Mau keluarganya pun yang ingin tahu, Nasya sangat melarang hal itu.
"Maaf sebelumnya, Mas siapanya Nasya, ya?" Dokter Egy menatap Rifkal dengan curiga.
"Saya Kakak kandungnya, Dok."
KAMU SEDANG MEMBACA
NASYA STORY
Romance⚠Beberapa part mengadung adegan kekerasan, dimohon bijak dalam menyikapinya⚠ Nasya Viorella Stefanie. Semua mengatakan bahwa cewek itu nyaris sempurna. Nasya itu baik, Nasya itu cantik, Nasya juga pintar. Namun sayangnya seluruh teman sekelasnya men...
