37 - Takut Kehilangan

3.5K 93 0
                                        

Aku akan baik-baik saja, selagi kamu masih tetap disini, menguatkan segala langkah untuk mengobati lara yang pernah ada—Nasya Viorella Stefanie

•••

Tepi lapangan adalah saksi bisu untuk kisah mereka. Entah siapa yang memulai terlebih dahulu. Lala berulang kali mengusap bulir bening yang mengalir membasahi pipi. Begitupun Adit, lelaki itu tampak membuang muka ketika berhadapan dengan Lala. Rasa kecewa dan marah seakan memenuhi rongga dadanya.

Kejadian itu pun mengundang perhatian. Seluruh siswa-siswi menyaksikan kejadian ini. Bagaimana bisa pasangan yang sangat romantis malah kisahnya berakhir tragis? Mereka sungguh tak paham.

"Gue bener-bener nggak habis pikir sama lo, La. Gue kecewa, gue marah, gue kesal, tapi gue nggak bisa apa-apa. Awalnya gue kira hubungan kita bisa diperbaiki, tapi sekarang? Gue rasa hal itu nggak perlu lagi. Buat apa? Bahkan lo jauh dari sosok Lala yang gue kenal. Lala yang baik, Lala yang ceria, Lala yang selalu semangat setiap harinya, Lala yang bisa ngertiin gue, Lala yang nggak pernah berhenti bercerita tentang bagaimana karakter dua sahabatnya. Tapi, rasanya itu semua udah hilang, Lala. Gue nggak ngerti harus ngelakuin apa..."

Adit menumpahkan segala isi hatinya dihadapan Lala. Lelaki itu tak mau memendam terlalu lama.

"Gue pikir kesalahpahaman ini bakal selesai. Ternyata masih berlanjut juga. Satu hal yang nggak pernah terbayangkan sama gue. Bisa-bisanya lo ikut menghancurkan mental Nasya? Untuk apa, Lala? Untuk balas dendam?" Adit tertawa sumbang diakhir kalimatnya. Dunia ini penuh fatamorgana. Adit tidak tahu. Ia dan Lala terlalu rumit.

Lelaki itu menghela nafas, lalu kembali melanjutkan kalimatnya yang sempat terhenti. "Padahal lo tau kalau Nasya itu mentalnya udah hancur. Gue seneng lihat Nasya ketawa, karena gue tau, dia berusaha menutupi lukanya, seperti yang pernah lo ceritain sama gue dulu. Lantas sebagai seorang sahabat lo tega? Selama ini lo cuma salah paham, La. Lo dibodohin sama Martha. Mana mungkin gue selingkuh dari lo? Gue udah punya lo, kenapa gue mesti cari yang lain? Lo terlalu sempurna, Lala."

"Selama kita break, perasaan gue nggak pernah tenang barang sedetikpun. Gue rindu suara lo, canda tawa lo, dan semuanya yang ada dalam diri lo, gue rindu, La. Dan gue nggak pernah berhenti untuk memberi penjelasan itu. Tapi, lo nggak pernah sekalipun mau dengerin penjelasan gue. Lo selalu mengambil keputusan sendiri tanpa ingin memahami gimana perasaan gue. Gue marah, lo terlalu egois, Lala."

Dengan wajah yang sembab. Lala menatap Adit dengan dalam. Hatinya perlahan terbuka setelah sekian lama. Lala tahu langkahnya memang salah. Tetapi apakah ia tidak pantas mendapatkan kata maaf?

Gadis itu masih bungkam. Ia tak akan membuka suara, sampai Adit selesai dengan penjelasannya.

"Gue nggak tau, apakah masih bisa hubungan ini diperbaiki? Bahkan hati gue udah hancur, La. Hancur setiap kali melihat perubahan dalam diri lo. Gue harap lo bisa bahagia, meskipun bahagianya bukan sama gue, Lala. Terima kasih banyak, berkat lo gue belajar banyak hal. Dan seperti permintaan lo tempo hari, gue akan jauhin lo, gue nggak akan pernah ngusik hidup lo, gue juga janji nggak akan ikut campur apapun masalah lo."

Adit tersenyum sambil menghapus jejak air mata di pipinya. Sebenarnya berat jika ia harus meninggalkan Lala. Tetapi bila Adit terus memaksa Lala, maka salah satu diantara mereka pasti akan tersakiti, entah siapapun itu.

Lala menggeleng kuat. Keputusan Adit benar-benar membuat kakinya lemah seketika. Ia tak akan pernah rela jika Adit sampai meninggalkannya. Jauh dengan lelaki itu saja hidupnya telah berantakan. Bagaimana jika Adit sampai meninggalkannya? Tak terbayang seperti apa kehidupan Lala setelah itu.

"Enggak!" Tangisan Lala pecah begitu melihat Adit akan melangkah menjauh dari tempat mereka. "Jangan tinggalin gue, Dit. Gue sayang sama lo. Gue nggak akan pernah sanggup hidup tanpa adanya lo disisi gue. Maafin gue, Dit. Gue emang salah, dan gue janji akan bertanggung jawab. Gue akan perbaiki semuanya, gue juga pasti akan minta maaf sama Nasya maupun Selli. Tapi tolong, kasih gue waktu, Dit. Gue udah pernah kehilangan lo, dan kali ini gue nggak mau kehilangan lagi."

NASYA STORY Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang