Dia yang kuat mampu menindas, dan aku yang lemah hanya pasrah tertindas—Nasya Viorella Stefanie
•••
Langkahnya yang pasti kini telah memasuki area sekolah bersama seorang lelaki yang selalu ada untuknya, Leo.
Kemarin Leo diberi kabar oleh pembantu di rumah Nasya, jika gadis itu sedikit kurang enak badan. Maka pagi-pagi buta Leo menyempatkan pergi ke rumahnya untuk memastikan keadaan Nasya.
Wajahnya memang terlihat pucat tak seperti biasanya. Leo menyarankan agar Nasya istirahat dirumah saja, namun ia menolak.
Banyak pasang mata saat ini tengah memandangi keduanya yang berjalan layaknya orang pacaran. Menyadari itu Leo langsung menggandeng tangan Nasya untuk cepat-cepat pergi dari sana.
Plak
Sampai depan kelasnya Nasya dikejutkan oleh kehadiran Martha yang tiba-tiba menampar nya. Apa sebenarnya salah Nasya kepada Martha?
Leo mencekal kuat tangan Martha yang akan menampar Nasya kembali. Mengapa setiap hari Leo harus disuguhi drama seperti ini? Pemeran antagonis nya pun sama, Martha dan Azar.
"Cukup!" Leo melepaskan tangan Martha.
"Lo sebaiknya pergi karena ini urusan gue sama dia, bukan sama lo!" Martha mendorong tubuh Leo agar menjauh.
"Jelas urusan gue!"
Leo menahan emosinya yang hampir saja meluap karena Martha. Sedangkan Ana hanya diam menunggu sampai Martha menyuruhnya bertindak. Bisa dikatakan Ana itu sahabat namun berasa seperti budak.
"Tha, pergi aja! Gue gamau cari masalah sama Leo." bisik Ana.
Martha diam, menimbang ucapan Ana. Lalu beberapa detik kemudian tanpa mengucapkan sepatah kata pun tangannya menyeret Ana pergi dari tempat itu.
•••
"Btw, lo jadian sama Martha?" tanya Adit kepada lelaki di sampingnya.
Keempat lelaki itu tengah berjalan melewati koridor sekolah yang sudah terlihat ramai. Sebentar lagi juga pasti bunyi bel terdengar.
"Nggak! Ngaco aja lo kalau ngomong." jawab Azar masih tetap dengan gaya santainya.
Adit berdecak. "Alah, gue kemarin lihat lo mampir ke apotek sama dia,"
Azar membuang nafasnya kasar. Bisakah Adit tidak mengungkit hal itu untuk saat ini? Azar sungguh sangat malas mengingatnya lagi.
"Gue terpaksa,"
"Maksud lo?" Daniel bersuara. Gara-gara Adit nih jiwa keponya jadi keluar.
"Martha datang ke rumah gue kemarin. Terus minta anter ke apotek," jelasnya kepada ketiga temannya.
Azar tidak pernah menyukai Martha. Apapun yang Azar lakukan untuk Martha semua itu hanyalah terpaksa. Ingat hanya terpaksa.
"Bokap lo?" tanya Syahdan.
"Siapa lagi kalau bukan dia,"
Ketiganya langsung paham akan jawaban dari mulut Azar. Mereka tahu betul bagaimana keadaan keluarga Azar yang sebenarnya. Sangat kacau dibanding keluarga mereka bertiga.
Syahdan menepuk punggung Azar pelan. "Sabar, gue tau gimana rasanya jadi elo."
Azar mengangguk dengan menampilkan senyuman tipisnya. Mereka berempat terus berjalan sampai tak terasa jika sudah ada di depan kelasnya.
Bel berbunyi menandakan kelas pagi ini segera dimulai. Siswa-siswi yang tengah asik berbincang di sepanjang koridor tadi mulai memasuki kelas satu persatu.
KAMU SEDANG MEMBACA
NASYA STORY
Romance⚠Beberapa part mengadung adegan kekerasan, dimohon bijak dalam menyikapinya⚠ Nasya Viorella Stefanie. Semua mengatakan bahwa cewek itu nyaris sempurna. Nasya itu baik, Nasya itu cantik, Nasya juga pintar. Namun sayangnya seluruh teman sekelasnya men...
