Kadang kita harus lebih mengerti diri sendiri, sebelum kita ingin di mengerti oleh orang lain—Nasya Viorella Stefanie
•••
"Oh, jadi kayak gini kerjaan kamu selama Papa sama Mama nggak ada dirumah?"
Baru juga Nasya menginjakkan kakinya. Suara Adif menggema di sepanjang sudut, dan pastinya pria itu tengah memarahinya.
"Pa, bisa nggak sih marahnya nanti aja?" seloroh Nasya kesal. Entah dorongan dari mana sehingga ia berani menjawab dengan ucapan seperti itu.
"Ngelawan mulu! Udah tau salah, masih aja mau nyolot?!" bentak Adif, membuatnya terperanjat.
Nasya menghela nafas panjang. Daripada ia ribut dengan Papanya sendiri, Nasya lebih memilih untuk diam dan tak menjawab lagi. Ia melewati Adif begitu saja. Sampai sebuah tarikan kasar pada rambutnya menghentikan langkah.
"Mau kemana kamu, hah?!" tanya Adif, masih mencengkram rambut Nasya. "Mau lari dari kesalahan? Papa tanya sekarang sama kamu, darimana sampai pulang jam segini?" lanjutnya dengan emosi yang berapi-api.
Nasya melepaskan tangan Adif dari rambutnya. "Bukan urusan Papa."
"MULAI BERANI SEKARANG SAMA ORANG TUA?" Adif kembali membentaknya dengan suara yang lebih keras lagi.
Seakan tuli, Nasya kembali melangkah, dan tidak peduli lagi dengan bentakan Adif. Gadis itu benar-benar berubah.
"NASYA!"
Plak
Adif menamparnya secara keras. Sungguh Nasya tak tahan lagi dengan sikap orang tuanya. Selalu mengekang, menyiksa, dan membandingkannya dengan orang lain. Apakah Nasya perlu mati sekarang juga, agar mereka bisa menganggap kehadiran Nasya?
"Siapa yang udah ajarin kamu berani sama orang tua, hah? Pacar kamu? Teman-teman kamu? Kalau memang iya, kamu gausah lagi dekat-dekat mereka!" Adif memberikan peringatan pada padanya. "Kamu dekat sama mereka bukannya malah baik, malah ngelawan orang tua! Pasti ini diajarin teman kamu itu 'kan?"
Nasya tertawa sumbang. "Papa gatau apa-apa. Nasya berubah bukan karena mereka, tapi karena Papa sama Mama."
"Halah! Gausah nutupin kesalahan, Nasya! Sekarang prestasi kamu mana? Dari kelas 8 sampai sekarang mana pernah kamu dapat juara? Papa kasih tau ya, kamu itu udah bodoh, Sya. Jadi nggak usah lagi deh berteman sama Selli dan Lala, yang ada kamu malah nggak punya sopan santun!"
Hati Nasya mencelos mendengar kalimat yang keluar dari mulut Papanya. Ia dikatakan bodoh, dan dilarang untuk berteman dengan Selli dan Lala. Maunya apa sih?
"Anak bodoh, anak nggak guna! Kalau kamu seperti ini terus, mau jadi apa kamu, Sya? Lihat Kakak kamu sama Adik kamu, mana pernah mereka buat Papa sama Mama kecewa? Nggak kayak kamu, udah bikin kecewa, bikin orang tua malu pula!"
"Terserah, Pa. Aku udah capek. Tiap hari belajar, berusaha buat kalian, tapi apa?"
"Belajar, belajar, mana hasilnya? Nilai kamu bahkan rendah sekali."
Nasya berlari meninggalkan ruang tamu. Ia menaiki tangga untuk sampai pada kamarnya. Namun ketika Nasya sudah sampai diatas, ia malah menabrak Rifkal.
"Lo punya mata nggak sih?" cerca Rifkal.
"Maaf, Kak,"
Rifkal geleng-geleng. Mengapa pula harus bertemu adiknya satu itu. Rifkal sungguh muak, dan tak ingin melihatnya lagi. Karena baginya, Nasya itu tukang drama.
•••
Nasya membanting pintu kamarnya secara kasar. Emosinya kembali naik kala mendengar semua ucapan Adif yang cukup membuat sakit hati. Nasya ingin marah, namun tidak guna. Nasya ingin mengadu, namun pada siapa?
KAMU SEDANG MEMBACA
NASYA STORY
Romansa⚠Beberapa part mengadung adegan kekerasan, dimohon bijak dalam menyikapinya⚠ Nasya Viorella Stefanie. Semua mengatakan bahwa cewek itu nyaris sempurna. Nasya itu baik, Nasya itu cantik, Nasya juga pintar. Namun sayangnya seluruh teman sekelasnya men...
