Terima kasih karena selalu ada, aku akan selalu mengingat hal yang pernah kita lalui bersama. Entah itu suka maupun duka, denganmu rasanya dunia menjadi lebih indah—Nasya Viorella Stefanie
•••
Begitu Nasya membuka mata, ia mengedarkan pandangan ke sekitar. Aroma obat-obatan yang menyengat seakan membuatnya sadar akan tempat yang pertama kali ia lihat setelah menutup mata adalah rumah sakit.
Tadi ia kira Rifkal yang membawanya kesini. Namun dugaan itu salah, ketika mengetahui keberadaan Lala dan Selli yang ada dalam ruangannya.
Nasya mengira bahwa dirinya tak akan bisa bangun lagi. Ia ingat betul jika pergelangan tangannya mengeluarkan darah cukup banyak. Lalu sekarang? Ia hanya dapat melihat sebuah perban kecil yang melingkar disana, bahkan jejak-jejak darah pun telah tiada.
"Ngapain kalian bawa gue kesini?" tanya Nasya, dengan menampakkan raut sedatar mungkin.
Keduanya menoleh, menampilkan sebuah senyuman yang tentu membuat Nasya semakin benci.
"Lo udah siuman?" tanya Selli dengan raut sumringah.
"Nggak usah banyak basa-basi!" tekan Nasya membuat nyali dua gadis itu menciut. "Bukannya lo berdua pengen gue mati?"
Bagai dihantam sebuah batu. Keduanya benar-benar dibuat diam seribu bahasa oleh gadis yang berbaring diatas ranjang rumah sakit itu.
Memang benar adanya jika mereka menginginkan kematian Nasya. Dan jelas gadis itu ingat betul dengan ucapan mereka berdua yang pernah dianggap sahabat.
"Harusnya nggak usah bawa gue kesini. Biarin aja gue mati." ujar Nasya, beringsut duduk dan merapikan rambutnya.
"Sya, maaf kalau perkataan gue ataupun Lala pernah menyinggung perasaan lo tempo hari. Itu semua diluar kendali kita." terang Selli sambil menatap Nasya sendu.
Nasya menghela nafas. Lalu memutar bola matanya malas. "Apapun itu penjelasannya gue nggak peduli. Harusnya lo berdua sadar diri dong!"
"Kita bener-bener minta maaf, Sya." kata Lala sedikit memohon.
"Setelah semuanya selesai lo baru minta maaf? Bahkan disaat hidup gue hancur, lo berdua nggak ada disamping gue." Nasya tertawa sumbang, meratapi nasib buruknya. "Gue bego banget 'kan? Kenapa masih mengharapkan lo berdua yang jelas-jelas udah nggak ingin berteman sama gue lagi?"
Mendengar seluruh isi kalimatnya, Lala dan Selli saling melempar pandangan. Begitu Lala akan membuka suara, tiba-tiba pintu terbuka dan munculah Rifkal dari balik sana.
Belum sampai membalas perkataan Nasya. Lelaki itu malah menatap keduanya horor. Bahkan sepertinya kebencian tersirat di dalamnya.
"Makasih udah tolongin Nasya. Kalian bisa pergi, karena ini udah malam banget, nanti orang rumah pasti cemas." ujar Rifkal berniat mengusir dengan cara halus.
"Cepat sembuh, Sya." ucap Lala sembari tersenyum manis.
Dan hal itu membuat mereka sadar diri. Keduanya segera berpamitan dan langsung pergi meninggalkan rumah sakit.
Setelah memastikan mereka benar-benar pergi. Nasya menggeleng tak percaya atas rasa simpati Lala serta Selli.
"Besok pulang, ya? Kamu harus sekolah. Mama sama Papa nungguin kamu di rumah." pekik Rifkal, menatap lawan bicaranya secara lembut.
Sungguh Nasya sendiri tidak percaya dengan ucapan Rifkal. Ia yakin jika lelaki itu hanya menenangkan lewat ucapannya. Selebihnya hal tersebut tidak benar, Nasya yakin sekali.
"Lain kali jangan nekat kayak gini, Sya. Puas kamu udah buat seisi rumah khawatir, termasuk kakak?"
Nasya menunduk. Ia tahu jika dirinya salah. Tetapi adakah seorang anak yang ingin melihat kehancuran keluarganya? Nasya tidak akan bisa menjalani hidupnya tanpa mereka. Akhirnya ia memilih jalan akhir untuk mencoba bunuh diri.
Namun langkahnya benar-benar salah. Ia baru sadar setelah membuka mata.
KAMU SEDANG MEMBACA
NASYA STORY
Romance⚠Beberapa part mengadung adegan kekerasan, dimohon bijak dalam menyikapinya⚠ Nasya Viorella Stefanie. Semua mengatakan bahwa cewek itu nyaris sempurna. Nasya itu baik, Nasya itu cantik, Nasya juga pintar. Namun sayangnya seluruh teman sekelasnya men...
