34 - Aku Merindukanmu

2.8K 73 0
                                        

Melihatmu tertawa saja sudah membuat hatiku tenang, sebab itu satu-satunya cara agar bisa mempertahankan langkah—Azardian Pamungkas

•••

Keesokannya Nasya datang seperti biasa. Keadaan sekolah masih sepi, sepanjang koridor pun masih terlihat sunyi.

Ketika sampai kelas, Nasya langsung duduk di bangku paling belakang. Perhatian itu teralih, saat melihat setangkai bunga mawar putih di dalam loker.

Ia menatap heran sekaligus penasaran, apakah bunga tersebut pemberian dari Azar? Sebab seingat Nasya, hanya Rifkal dan Azar yang tahu jika dirinya menyukai bunga jenis ini.

Kemudian ia mengedarkan pandangan, menatap seisi kelas yang masih kosong melompong. Ia sama sekali tak melihat kehadiran lelaki itu disini.

Diambilnya bunga itu, masih terlihat segar. Ia menghela nafas, lalu berniat membicarakan hal ini dengan Azar waktu istirahat.

"Sya," panggil seseorang dari samping.

Nasya terkejut, lalu menoleh. "Eh, sejak kapan lo disini, Kev?" ujarnya, sambil mengatur nafas.

"Baru aja gue datang, terus lihat lo duduk, langsung masuk gue." terang Kevan.

"Lain kali kalau masuk, salam kek. Jangan main nyelonong aja, lo kayak setan tau!"

Kevan cengegesan, lalu duduk di sampingnya. "Bunga mawar dari siapa?" tanya Kevan, mulai penasaran.

"Gue juga belum tau, Kev."

"Lah? Ini punya lo 'kan?"

"Iya, tapi gue gatau siapa yang ngasih,"

"Yaudah, ah! Daripada kita mikirin ini, tugas pelajaran Sastra Indonesia udah belum?"

"Ada di tas gue, ambil aja kalau mau nyontek."

"Oke, gue ambil, ya,"

Selepas mengambil buku tulis dari tas biru itu, lelaki itu segera menyalin tugas Nasya.

•••

"Nasya!" Suara berat milik lelaki bertubuh tinggi itu membuat langkahnya berhenti.

Ia menoleh, lalu tersenyum kecil. Semenjak hubungan keduanya membaik, dendam itu seakan hilang seiring hari berganti.

"Kenapa?"

"Lo mau ke kantin?" tanyanya.

Nasya mengangguk pelan. "Iya, lo juga 'kan?"

"Mau bareng?"

"Boleh, ayo."

Karena kantin hanya ada di lantai satu, terpaksa mereka harus turun. Bukan pertama kalinya, bahkan sejak kelas 11 mereka telah terbiasa.

Sepanjang melewati koridor hingga anak tangga, keduanya saling bungkam. Tak ada yang membuka pembicaraan, sampai Nasya akhirnya memutuskan bersuara. Ingin mengetahui sesuatu yang tengah memerangi batinnya.

"Zar, makasih buat bunga mawarnya,"

"Yang kemarin itu?"

Gadis yang menjadi lawan bicaranya itu menggeleng cepat. "Hari ini, bukan yang beberapa waktu lalu,"

Azar tampak memikirkan ucapan Nasya. Walaupun mukanya masih terlihat tenang, tapi percayalah bahwa di dalam pikirannya bersarang sebuah pertanyaan.

"Gue nggak ngasih lo bunga mawar, Sya."

Nasya menatap lurus. Menghindari mata elang yang terus memperhatikannya. Jika bukan dari Azar, lalu dari siapa?

"Terus siapa dong? Karena yang tau kalau gue suka mawar putih cuma lo sama Kak Rifkal."

NASYA STORY Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang