Mereka lupa bahwa ada aku disini yang tak pernah dianggap hadirnya, dan mereka pun lupa akan diriku yang hampir musnah tertindas fitnah—Nasya Viorella Stefanie
•••
Lidah Azar terasa kelu. Otaknya seperti bisa berjalan cepat. Ia hanya bisa mendengarkan penjelasan Yurita dari awal hingga akhir.
"Dan asal kamu tahu, bukan Darel yang udah membully Aurin. Justru Darel adalah orang yang paling berpengaruh ketika adik kamu di tindas, Zar. Berulang kali Bunda juga tanya ke Aurin dan beberapa guru di sekolah, namun sama sekali nggak ada bukti yang mengarah pada Darel. Kamu salah paham sama foto itu, Zar."
Dada Azar bergemuruh hebat. Ia tercengang mendengar penjelasan Yurita yakni tentang fakta seorang Darel yang merupakan adik Nasya.
"Tapi, kecelakaan tadi pagi, gimana? Terbukti kalau si Nasya yang udah nabrak Bunda?"
"Azar! Kamu benar-benar udah nggak waras ya! Bukan Nasya Bunda bilang!" bentak Yurita dengan nada tinggi.
"Kenapa sih kamu nuduh Nasya terus? Dia juga manusia, Zar. Justru Bunda ditolong sama Nasya. Kalau nggak ada Nasya, mungkin Bunda gatau sekarang masih bisa disini atau enggak." Matanya mengeluarkan bulir-bulir bening. Sebenarnya kalau boleh jujur, Yurita tak ingin seperti ini. Tetapi sikap putranya sungguh telah melewati batas wajar. Ia merasa gagal menjadi seorang Ibu yang baik untuk anak-anaknya.
Melihat sang Ibunda meneteskan air mata, hati Azar sedikit demi sedikit terbuka. Ia mulai menurunkan rasa egoisnya yang besar.
"Tolong, tolong banget, nak. Bunda nggak mau kamu kayak gini terus, secepatnya kamu harus minta maaf. Nasya nggak salah, dia nggak tau apa-apa, kamu jangan main hakim sendiri, Azardian."
Azar memejamkan matanya, lalu membuang nafas berat. "Iya, Azar akan minta maaf, Bun. Tapi, Azar juga butuh waktu karena kesalahan yang udah aku lakuin cukup parah. Dan Nasya mustahil mau memaafkan segampang itu."
"Bunda percaya sama kamu. Jangan diulangin lagi, ya. Bunda gamau kamu jadi sosok lelaki yang nggak bertanggung jawab. Cukup Ayah kamu aja yang nyakitin Bunda, kamu jangan, Zar."
"Satu lagi, maaf ya Bunda udah marah-marah sama kamu, lagipula ini juga buat kebaikan kamu kedepannya."
Azar mengangguk, ia mengerti akan maksud dari ucapan Yurita. "Iya, Bun. Azar nggak marah kok, kalau gitu Azar masuk kamar dulu."
"Iya, jangan lupa sama pesan Bunda."
Yurita beranjak pergi. Dan Azar sendiri telah masuk ke dalam kamarnya. Ia membuang tas sekolah miliknya begitu saja.
Lelaki itu merebahkan diri diatas kasur empuk, menatap langit-langit kamar sembari memikirkan ucapan Yurita yang terus berputar di kepalanya.
Ia merogoh ponsel di saku celana abunya, lalu membuka layar dan menekan salah satu nomor, yakni sang pemilik ialah Adit.
"Halo, Dit,"
"Ada apa nih kawan? Tumben banget nelpon gue sore-sore gini,"
"Gue boleh cerita?"
"Yaelah pake nanya segala lo kayak sama siapa aja, yaudah sini cerita. Ada masalah apa lo?"
"Nasya,"
"Hah? Nasya? Maksud lo, gimana sih?"
Sampai maghrib menjelang Azar menceritakan seluruhnya kepada Adit. Ya, walaupun Adit sendiri kurang bisa memberikan pendapat, akhirnya lelaki itu menyarankan agar Azar juga bercerita kepada Syahdan dan Daniel. Siapa tahu diantara mereka ada yang bisa membantunya.
•••
Di kediaman Nasya malam ini terasa sepi. Hanya ada suara layar televisi yang menyala di ruang keluarga. Di atas sofa ia duduk bersebelahan dengan Rifkal.
KAMU SEDANG MEMBACA
NASYA STORY
Romance⚠Beberapa part mengadung adegan kekerasan, dimohon bijak dalam menyikapinya⚠ Nasya Viorella Stefanie. Semua mengatakan bahwa cewek itu nyaris sempurna. Nasya itu baik, Nasya itu cantik, Nasya juga pintar. Namun sayangnya seluruh teman sekelasnya men...
