01 - Penolakan

6.7K 162 2
                                        

Teruslah mengejar apa yang kamu inginkan, dan berhentilah ketika langkahmu sudah tidak kuat menahan — Nasya Viorella Stefanie

•••

"AZARDIAN PAMUNGKAS, LO MAU NGGAK JADI COWOK GUE?" suara lantang seorang gadis menggemparkan seisi kelas XI - Bahasa 4.

Nasya Viorella Stefanie. Gadis yang pandai menutupi luka nya, gadis yang pandai menyembunyikan tangisnya, dan gadis yang masih bisa tersenyum ketika di pelupuk matanya menetes deras sebuah air mata.

Nasya melakukan itu lagi. Menyatakan cinta pada seorang lelaki yang tak pernah peduli padanya. Jika Selli, sahabatnya melihat Nasya seperti ini lagi, ia pasti sudah marah besar padanya.

Nasya berharap kali ini Azar akan menerima cintanya dan tidak menolaknya seperti yang lalu lalu.

"Nggak!" tolak nya mentah-mentah. Lelaki itu langsung mendorong kuat tubuh Nasya hingga terhempas ke lantai. "Dasar cewek murahan!"

Kata itu telah menggema berulang kali di telinga Nasya. Ia tahu pasti Azar akan menolaknya lagi. Sakit rasanya dikatakan perempuan murahan apalagi dengan orang yang sangat kita sayangi.

Nasya mendesis pelan, kala lelaki di depannya itu mendorong tubuhnya. Ia tidak apa-apa, hal ini sudah biasa baginya. Selalu mendapatkan perlakuan kasar dari Azar dan juga ucapannya yang selalu menyakitkan.

Iya, lelaki itu adalah Azardian Pamungkas. Seantero sekolah juga tahu kalau Azar itu tampan. Para siswi sangat menggilai nya termasuk Nasya. Namun sayangnya selain tampan, Azar juga terkenal dengan sifat sombongnya.

"Kalau lo emang nggak suka sama Nasya, lo nggak usah perlakuin dia kayak gitu!" seru seorang lelaki diambang pintu kelas. "Ayo, Sya. Kita pergi!"

Leo panggilannya, lelaki ini sudah seperti malaikat penolong Nasya. Dimanapun Nasya berada, kapanpun ia tersakiti, Leo selalu ada untuk menghiburnya.

Leo adalah sahabat Nasya, sama halnya seperti Selli dan Lala. Leo tidak akan membiarkan siapapun menyakiti Nasya, termasuk Azar. Entah mengapa setiap melihat muka Azar, Leo selalu ingin menghajarnya, agar lelaki itu tidak berlaku semena-mena pada Nasya.

Melihat Nasya dibela oleh Leo, Azar menatap tak suka ke arah keduanya. Benci, itulah yang Azar rasakan ketika Nasya selalu mendekatinya.

"Kalau murahan ya murahan aja! Ngapain dibela?"

Setelah berkata tanpa dosa, Azar berlalu dari sana tanpa memperdulikan Nasya yang meringis kesakitan, bahkan untuk berdiri saja ia dibantu Leo.

Lepas Azar pergi, kini yang menjadi pusat perhatian adalah Leo dan Nasya. Leo sadar akan hal itu, cepat-cepat ia menegur mereka yang masih berkumpul melingkari dirinya dan juga Nasya.

"Apa liat-liat? Lo pada mikir kalau ini tontonan?!" tegur Leo, detik itu juga mereka bubar dari sana dan kembali ke tempat duduk masing-masing.

Martha bersama Ana datang. Mereka tahu akan kejadian ini. Martha benar-benar marah dan lihat saja yang akan ia lakukan nanti pada Nasya.

"An, kasian ya ada yang ditolak," sindir Martha sambil terkekeh.

"Nggak punya malu, Tha. Udah ditolak masih aja ngejar. Harga dirinya udah hilang kali ya?" sambung Ana.

Nasya mendengarkan segala kata-kata yang terlontar dari mulut keduanya. Begitu berefek bagi seorang seperti Nasya. Memang ia terlihat baik-baik saja namun siapa yang tahu jika mentalnya tertekan?

"Udah, nggak usah di dengerin." ucap Leo menenangkan, Nasya pun mengangguk. Keduanya langsung pergi meninggalkan kelas itu.

Martha sudah memikirkan rencana untuk memberi pelajaran pada Nasya. Masih nekat saja gadis ini untuk mendekati Azar. Berulang kali Martha peringatkan namun masih saja kekeh akan perjuangannya.

NASYA STORY Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang