22 - Teringat Masa Lalu

1.7K 57 0
                                        

Mungkin kita tetap menjadi sahabat, walaupun sekarang bisa dibilang tak lagi dekat, dan jauh sebelum mengenalnya hubungan pertemanan ini baik-baik saja—Zafar Ramadhan Dewanata

•••

Sebentar lagi hujan akan turun dan semua juga tahu itu. Langit menggelap, serta udara yang tiba-tiba dingin tak mampu menyesuaikan dengan suhu tubuh Nasya.

Gadis itu anti sekali dengan udara seperti ini. Bahkan AC dan kipas angin di kamarnya saja jarang menyala. Itu karena Nasya tak ingin menyakiti dirinya sendiri.

"Sya, bawa mobil enggak?" celetuk Leo tiba-tiba.

Nasya menoleh. "Nggak bawa, Yo. Gatau deh pulangnya gimana, mau hujan juga ini."

"Yaudah, tenang aja. Kan ada gue," ujarnya.

Nasya tersenyum tipis. "Makasih, Yo. Pulangnya masih kurang satu jam lagi. Sekarang 'kan masih pelajaran."

"Iya, Sya,"

Pelajaran Bahasa Indonesia masih berlangsung. Dan guru pun sedang menerangkan materi. Tetapi pikiran Nasya sejak tadi tak mampu mencerna apapun.

"Sya, paham enggak yang dijelasin tadi?" tanya Anita, teman sebangkunya.

Dengan cepat Nasya menggeleng. "Enggak nih, kalau lo gimana?"

"Sama, Sya. Gue juga nggak paham."

Nasya menghela nafasnya pelan. "Yaudah, gapapa."

Percakapan diantara keduanya pun selesai. Memang untuk beberapa bulan ini Nasya menjadi teman bangku Anita. Walaupun ia sulit sekali untuk akrab dengan gadis tersebut.

Ekor matanya melirik keluar jendela. Karena kelasnya yang berada di lantai dua, ia bisa melihat keadaan dari atas.

Bibir pucatnya membentuk sebuah senyuman simpul saat melihat lelaki pujaan hatinya. Disana Azar bersama Adit, Syahdan, Daniel, dan beberapa siswa dari kelas lain tengah memainkan Voli. Mungkin saja mereka sedang free class.

Jarak kelas mereka cukup dekat. Namun kesempatan untuk bertemu dengannya itu sangat sulit. Mengingat Azar adalah tipe lelaki dingin, kasar, dan tidak suka jika Nasya mendatanginya.

Andaikan Azar seperti lelaki lain. Mungkin Nasya tak akan mengemis perhatian lelaki itu walaupun secuil. Nasya paham, mungkin Azar menerimanya karena kasihan.

"Ganteng banget,"

Nasya kagum melihat ketampanan lelaki yang berhasil menempati posisi spesial dalam hatinya. Apakah Azar masih tega menyia-nyiakan gadis seperti dirinya?

•••

Rintik gerimis jatuh membasahi tanah. Leo melepas jaket hitam miliknya, guna melindungi Nasya.

Keduanya berlari kecil di tepi lapangan agar cepat sampai gerbang depan. Leo tak mau jika Nasya sampai kehujanan, cukup dirinya saja.

Leo tau dan sangat peduli dengannya. Ia hanya tak ingin penyakit yang bersemayam dalam tubuh Nasya kembali kambuh pada waktu yang tidak tepat.

Ketika sampai gerbang, Leo segera naik ke atas motornya, begitupun dengan Nasya. Kemudian setelah menghidupkan mesin motornya, Leo melajukan motor tersebut dengan kecepatan diatas rata-rata. Sangat gila, memang.

Dari kejauhan Azar dapat melihat semua hal yang dilakukan keduanya. Lelaki itu menggeram. Sungguh ia cukup kesal, entah mengapa. Mungkin ia hanya tak suka saja jika Nasya bersama lelaki lain. Apakah bisa sifat Azar ini dikatakan cemburu?

NASYA STORY Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang