Keluargaku memang utuh, namun aku tak pernah menemukan kehangatan di dalamnya. Sekalipun kehangatan itu ada pasti bersifat sementara—Nasya Viorella Stefanie
•••
Setelah sholat subuh Nasya tidak tidur melainkan pergi ke dapur. Ia ingin memasak sendiri kali ini. Bukan untuk dirinya tetapi Azar.
Ia mulai menyiapkan bahan serta alat yang dibutuhkan.
Bi Siti kaget saat melihat Nasya ada disana. Dengan langkah yang pasti wanita itu mendekati Nasya lalu menepuk pelan punggungnya.
"Aduh non kalau butuh apa-apa panggil bibi aja, jangan turun tangan sendiri," ujar bi Siti.
Sudut bibir Nasya terangkat membentuk senyuman. "Nasya bisa kok bi. Lagian ini juga bukan buat Nasya,"
"Terus buat siapa atuh non?"
"Nasi goreng spesial untuk orang spesial juga,"
"Yakin bisa non?"
"Bisa kok, bi. Udah bibi tenang aja,"
Nasya melanjutkan acara memasaknya untuk pagi ini. Setelah selesai ia bergegas mandi dan bersiap untuk pergi ke sekolah. Rasanya tak sabar bertemu dengan Azar nantinya.
Pukul 06.00, Nasya sudah duduk di depan meja makan. Seperti biasanya ia selalu sarapan sendiri meskipun kadang ditemani bi Siti, tetap saja rasanya sepi.
"Bi, Nasya pamit dulu, ya. Assalamu'alaikum," Nasya menyalimi bi Siti layaknya orang tua sendiri.
"Hati-hati ya, non. Waalaikumsalam,"
•••
Nasya turun dari mobilnya. Senyumnya mengembang ketika ia memasuki area sekolahnya. Ini masih terlalu pagi, jadi Nasya memutuskan untuk pergi ke kelasnya terlebih dahulu sebelum menghampiri Azar.
"Sya," panggil Selli dan Lala bersamaan.
"Eh kalian,"
Melewati koridor yang masih sepi Selli dan Lala berjalan mendahuluinya. Mereka marah dengan Nasya? Tapi masalahnya apa.
"Sel, La, kelas kita kan belok kesana."
"Iya kita tau kok, Sya. Tapi kita mau ngasih Martha pelajaran dulu, dia kelewatan banget sama lo," kata Selli tanpa ragu. Meski Nasya tak menceritakan perlakuan Martha pada keduanya, Selli dan Lala tetap akan tahu.
Mereka berdua meninggalkan Nasya yang masih terpatung disana. Nasya masih berusaha mencerna kalimat yang diucapkan Selli.
"Jadi Selli sama Lala tau?" gumamnya.
Raut muka Selli sudah diselimuti dengan amarah. Kali ini tak ada acara tawar menawar lagi. Martha memang harus diberi pelajaran lebih agar tak pernah semena-mena terhadap orang yang lemah seperti sahabatnya, Nasya.
Sedangkan Lala sangat cemas akan tindakan Selli. Sejak awal masuk gerbang sekolah Lala tak henti-hentinya menggigit bibir bawahnya. Jika sudah emosi seperti ini Selli akan sangat nekat, dan Lala takut akan hal itu.
Selli membuka pintu kelas XI - Bahasa 4 menggunakan kaki kirinya. Biarkan saja dirinya dicap sebagai siswi yang buruk. Selli hanya mau menegakkan keadilan. Martha harus merasakan apa yang Nasya rasakan.
Brak
Beberapa siswi yang berada di dalam kelas itu terlonjak kaget. Termasuk siswi yang akan menjadi sasarannya saat ini, Martha.
Tak mau basa-basi lagi Selli langsung menghampiri bangku Martha. Disamping gadis itu Ana yang akan menjadi sasaran kedua setelah Martha.
Bugh
KAMU SEDANG MEMBACA
NASYA STORY
Romance⚠Beberapa part mengadung adegan kekerasan, dimohon bijak dalam menyikapinya⚠ Nasya Viorella Stefanie. Semua mengatakan bahwa cewek itu nyaris sempurna. Nasya itu baik, Nasya itu cantik, Nasya juga pintar. Namun sayangnya seluruh teman sekelasnya men...
