Selamat tinggal hanya untuk mereka yang mencintai dengan matanya saja. Nyatanya orang yang mencintai dengan hati tak akan pernah ada kata berpisah—Nasya Viorella Stefanie
•••
Duduk di kantin bersama dengan Lala serta Selli adalah hal yang Nasya rindukan. Sebab, hubungan persahabatan mereka sempat renggang beberapa waktu lalu. Tetapi pada akhirnya Nasya memaafkan keduanya, melupakan semua hal menyakitkan baginya.
Disamping itu pula, Azar, Adit, Syahdan, dan Daniel ikut bergabung disana.
"Kita kan udah kelas 12 nih, gimana kalau nanti setelah lulus liburan bareng?" Lala membuka pembicaraan sembari mengaduk-aduk kuah baksonya.
"Setuju gue kalau soal ginian," ujar Adit dengan antusias.
"Sialan! Mentang-mentang pada punya pasangan, temen lo yang satu ini harus dipikirin juga dong!" kesal Daniel begitu mendengar ucapan Adit.
Adit merangkul bahu Daniel ala sahabat, katanya. Lelaki itu berusaha membujuk agar Daniel ikut. Ia paham betul akan perkataan Daniel.
"Yaelah, bro! Hidup emang gini, kalau lo nggak punya cewek ya cari dong! Jangan diem mulu, yang ada malah lo terkesan nggak normal, monyet!"
Daniel menoyor kepala Adit. "Emang bener-bener anjing lo!"
Azar dan Syahdan hanya diam menyimak hingga keduanya selesai bertengkar. Tak ada yang melerai, meskipun sampai parah pun hal itu sudah menjadi rutinitas mereka selama 3 tahun ini.
"Adit, udah dong!" panggil Lala.
Gadis itu menghela nafas berat. Apakah telinga pacarnya ini sedang bermasalah?
"Dit, dengar nggak sih?!"
Lala berulang kali memanggil nama Adit, namun sama sekali tak ditanggapi. Akhirnya gadis bermarga Basuki itupun menarik telinga Adit.
"Aduh sakit, sayang!" keluh Adit sambil mengerucutkan bibirnya.
"Kamu ngapain sih? Nggak malu apa? Jangan kayak anak kecil gitu dong!" Lala melipat kedua tangannya di depan dada.
"Daniel duluan tuh,"
"Nggak! Kalian sama aja!" Lala menyingkirkan tangan Adit yang hendak mengacaukan rambutnya. "Nggak usah macem-macem, Adit."
"Jangan kaget, La. Mereka udah biasa kayak gini," sela Azar di tengah pembicaraan mereka.
Lala melirik Azar sekilas. Tak berminat membalas ucapannya.
"Sya, lo setuju sama usulan gue?" tanya Lala dengan tatapan memohonnya agar Nasya bersedia untuk ikut.
Terpaksa ia harus mengangguk. Jika tidak, Nasya yakin Lala akan merengek dan memaksanya terus-menerus. "Iya, Lala. Tapi gue nggak bisa janji, ya?"
"Lho kenapa?"
Giliran Selli yang membuka suara. Ia menyadari sesuatu yang aneh pada sahabatnya itu. Tak biasanya Nasya berkata seperti ini.
Senyuman Nasya merekah. "Nggak apa-apa sih."
•••
Ketika bel pulang berbunyi, semua siswi-siswi berbondong-bondong keluar dari kelas. Termasuk Nasya sendiri, ia terlalu bersemangat hari ini. Entah karena apa, yang jelas tahu hanyalah dirinya saja.
Namun langkahnya terhenti di ambang pintu. Hujan turun dengan derasnya diluar sana. Ia menghembuskan nafas kesal. Bagaimana rencananya untuk keluar dengan Azar? Apakah harus menundanya dan pergi di lain hari?
KAMU SEDANG MEMBACA
NASYA STORY
Romantik⚠Beberapa part mengadung adegan kekerasan, dimohon bijak dalam menyikapinya⚠ Nasya Viorella Stefanie. Semua mengatakan bahwa cewek itu nyaris sempurna. Nasya itu baik, Nasya itu cantik, Nasya juga pintar. Namun sayangnya seluruh teman sekelasnya men...
