"Panggilan itu selalu mengingatkanku pada tegasnya garis wajahmu."
Waktu berjalan begitu cepat, 2 bulan lagi Syerin dan Allan akan mengikuti olimpiade matematika. Semakin dekat waktu kompetisi, semakin dekat pula hubungan Syerin dan Allan.
"Lan, lo pernah mikir ga? Kok lo dipanggil 'Lan'," Syerin menanyakan hal yang tidak penting dan mungkin belum pernah ditanyakan orang lain kepada Allan.
"Lah iya, kenapa gue dipanggil 'Lan' ya?" tanya Allan pada dirinya sendiri.
"Eh entar, emang lo pengen gue dipanggil apa?" lanjut Allan.
"Gue juga bingung sih..Oh kalo nggak gue manggil lo 'Al' aja kali ya."
"Kenapa gitu?"
"Ya biar beda aja, Al. Tuhkan bagus gue panggil 'Al'."
"Iya deh gue nurut aja."
Semenjak mereka mengikuti persiapan olimpiade matematika, sampai di sekolah satu jam sebelum pelajaran dimulai telah menjadi suatu kebiasaan. Waktu itu mereka gunakan untuk mempelajari materi sekaligus mengenal lebih dekat satu sama lain. Tak heran jika Aga sudah memberikan perumpamaan surat dan perangko pada Syerin dan Allan. Mungkin perasaan persahabatan akan lebih tulus untuk mereka berdua.
"Eh, Syer, kita udah deket gini ga ada niatan buat main ke rumah gue?"
"Yakin boleh nih..." tanya Syerin yang sudah tau apa jawabannya.
"Lo mah gitu ya, awal kenal aja cuek bet gila."
"Namanya juga awal kenal pasti jaim lah," Syerin meyakinkan.
"Eh jadi lo mau ga main ke rumah gue?" tanya Allan lagi.
"Kapan?"
"Selasa deh, gue kan ga basket tuh."
"Pulang sekolah?"
"Iyes, pulang sekolah aja biar ga kemaleman. Eh tapi lo jangan iri ya," pinta Allan.
"Iri gimana? Iri sama siapa?"
"Iri sama mama gue, mama gue super duper cantik, nanti lo minder lagi."
"Gue juga yakin sih Om Roby waktu muda lebih handsome dari lo."
"Yee, kalo papanya ganteng pasti anaknya lebih ganteng lah," jelas Allan sedikit tak terima.
Roby Barley, manusia terhormat yang memang patut dihormati. Dermawan, rendah hati, sopan, dan pastinya keren. Orang bilang ala-ala sugar daddy. Allan sangat tau bagaimana membuat hati sang ayah luluh. Segudang prestasi dan caranya menghormati orang lain sangat dihargai oleh ayahnya. Saat ini jarang seorang remaja memiliki sopan santun yang masih wajib diterapkan dalam kekeluargaan, terutama di kota besar. Roby membebaskan anaknya menikmati masa muda, namun beliau tetap menjaga apa yang sepantasnya dijaga.
***
"Pa, Allan punya temen deket cewe, katanya sih cantik banget. Tapi aku belum pernah ketemu orangnya," kata Daniya pada Roby.
Daniya Tan Barley, istri pertama dan satu-satunya Roby Barley sekaligus mama tercinta Allan. Berumur kurang lebih 40 tahun dengan wajah yang masih bisa dibilang umur 30 tahunan, julukan baby face sering mendarat di hadapan Daniya. Paras dan sifatnya patut dikagumi, wanita yang anggun, lembut, dan pastinya menawan itu bisa dibilang ibu yang berhasil mendidik anaknya. Walau bergelimang harta, berbagi telah menjadi rutinitas keluarga mereka. Daniya bak ratu di negeri dongeng, tak heran jika Allan sesempurna itu.

KAMU SEDANG MEMBACA
ATESIA (END)
Подростковая литератураIni tentang insan yang terjebak dalam kesepian abadi. Atesia Syerin, dua nama paling depan dari dua nama tersisa. Memulai hidup dengan kehilangan cinta pertamanya. Kehadiran orang baru terus menutup kisah masa lalu. Sayangnya itu semua hanya sement...