Chapt 7: Untuk Arfa

34 12 2
                                    

"Dalam dimensi waktu, aku mendapatkanmu."

Pagi harinya setelah olimpiade matematika itu berlangsung, siswa siswi tak libur sekolah. Mereka sibuk memberi ucapan selamat pada Syerin dan Allan. Para siswi berlomba-lomba memberi hadiah yang paling mahal untuk Allan, begitu pun sebaliknya. Siswa laki-laki yang merasa pantas bersanding dengan Syerin menunjukkan kebolehannya.

"Hai, Syer..salam kenal! Gue Vano dari kelas 11."

"Hai, kak!" balas Syerin dengan ramah.

"Lo dapet titipan nih," kata Vano yang mengejutkan Syerin.

"Dari siapa?"

"Ero."

"Oh, Ero. Thank you ya, kak!"

Vano membalas dengan senyuman dan langsung pergi membelakangi Syerin. Sedari tadi Allan memperhatikan mereka. Tanpa basa-basi Allan menanyai Syerin dari siapa titipan itu.

"Bunga dari siapa, Syer?"
"Dari Ero, Al."

Allan terlihat jelas menunjukkan ekspresi tidak suka saat mengetahui dari siapa bunga yang ada di tangan Syerin sekarang.

"Btw gue juga ada sesuatu buat lo nih," ucap Allan sambil memberikan sesuatu yang sudah tergenggam di tangannya.

"Ih lucu bangetttt!! Makasih Allan," Syerin girang menerima barang yang diberikan Allan.

"Sini gue bantu pakein."

"Aaa..cantik banget kalungnya."

"Kaya yang make ga tuh?"

"Oh jadi sekarang udah mau muji gue."

"Ga harus di puji semua orang juga tau kali, Syer," suasana romantis itu disaksikan puluhan siswa yang masih berada di halaman sekolah.

"Sekali lagi makasih ya, Al. Gue seneeengg banget!"

"Iya sama-sama. Ya udah lo masuk kelas dulu sana."

"Emang lo mau kemana?"

"Gue mau ketemu Davin di sebentar," Allan melambaikan tangannya. Syerin pun masuk kelas bersama Jena dan Hilya.

"Fa, nih ada titipan dari Friska," ia langsung memberikannya pada Arfa. Ternyata Arfalah yang akan ditemui Allan, bukan Davin.

"Lah lu dapet dari mana?"

"Friska nitipin ini ke gue, katanya buat lo. Ya udah gue langsung ke kelas."

Arfa yang ada di pojok sisi sekolah sendirian merasa kebingungan akan maksud Friska memberikan itu padanya. Sebuah pigura berisi foto dirinya dan Friska yang di edit seakan mereka berfoto bersama terpampang indah dengan tulisan 'in my dream' di belakangnya.

"Gue makin yakin sama lo, Fris. Maaf kalo selama ini perasaan gue belum sekuat sekarang," ucap Arfa dalam hati sambil mengelus bagian depan foto itu dengan senyuman.

Arfa bergegas kembali ke kelas karena jam pelajaran yang akan dimulai. Friska cepat-cepat menunduk saat mengetahui Arfa akan datang sebentar lagi. Friska takut pemberiannya tadi tak disukai bahkan tak diterima Arfa. Nyatanya Arfa mendekap pigura itu erat-erat dan menaruhnya di dalam tas dengan hati-hati. Perasaan Friska menjadi campur aduk mengetahui hal itu. Di satu sisi bahagianya tak bisa digambarkan, di sisi lain ia masih takut jika Arfa menerima karena mengasihaninya saja. Hanya Allan, Arfa, dan Friska yang mengetahui kejadian barusan. Friska masih belum menginginkan semua orang mengetahui betapa sayangnya ia kepada Arfa.

***

"Kafka, sayang! Ini mama bawain makan buat kamu," Celine membuka kamar Kafka yang dominan warna hitam itu.

ATESIA (END)Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang