Chapt 11: Benturan Hebat

42 8 0
                                        

"Aku harap, kita tak sesingkat takdir Tuhan."

"Naakkk..Syeriinn..udah berangkat?" terdengar suara lembut seorang perempuan di rumah Syerin.

"Non Syerin udah berangkat, bu," kata seorang sopir di sana.

"Syerin berangkat sendiri? Kok bapak ga nganterin?"

"Tadi sama temennya naik motor," jelas sopir itu.

"Nanti Syerinnya minta dijemput apa dianterin sama temennya lagi?"

"Katanya dianterin sama temennya, bu."

"Ya udah, saya pulang cuma mau ambil barang aja."

"Barang apa bu? Bisa saya bantu?"

"Ga usah, pak. Oh iya nanti kalo anak saya pulang jangan dibolehin keluar sendiri pake motor," perintahnya diikuti sopir yang mengangguk.

***

Awal perjalanan memang tergambar suasana yang sangat bahagia. Walau Davin sendirian, ia tetap menikmati kebersamaan dengan teman-temannya. Sejenak mereka melupakan segala masalah di hidup mereka, sampai-sampai melupakan kemarahan Ero dan Elang.

"BRAAAAKKKK!!!"

Semua mata melebar seketika, "DAVIIINNNNN!!!"

Seseorang yang membuat Davin terkapar membuka helmnya.

"Elang?" ucap Allan lirih.

"Brengggsekkk lo, Laaanggg!" teriak Aga.

Aga berlari ke arah Elang dan langsung memukul perutnya. Elang yang memang sangat licik memberikan senyum yang melebar di satu sisi. Perkelahian tak terhindarkan, ditambah lagi dengan Ero yang baru saja datang untuk membantu Elang. Allan yang juga terbawa emosi ikut berkelahi melawan Ero.

"Udahhh panggil ambulan cepetttt!" Riella yang sangat panik terus berteriak meminta tolong padahal kondisi jalan sangat sepi.

"Iya ini gue udah telfon, lo diem dulu," kata Hiro sambil tetap mengguncangkan tubuh Davin.

Allan dan Aga yang masih ingin menuntaskan perkelahian itu terus saja membuat Ero dan Elang tak berdaya. Tak lama, Ero melarikan diri bersama Elang. Tujuan utama mereka bukan untuk berkelahi, namun untuk mencelakai salah satu sahabat Allan.

Tak berselang lama, ambulan datang menghampiri mereka, "Udah cepet bawa ke ambulan cepet!" Hilya sama paniknya dengan Riella.

"Lo mau nelfon siapa, La?"

"Ryza."

"Nanti aja di rumah sakit! Kita masih syok," pinta Syerin yang memikirkan perasaan Ryza.

Mereka semua mengikuti ambulan yang membawa Davin. Aga dan Hiro mendampinginya karena Hilya dan Jena yang sudah mahir mengendarai motor.

"Udah kamu sekarang naik!" pinta Allan pada Syerin.

Di dalam ambulan, Aga tak bisa menahan air matanya jatuh ke wajah Davin yang penuh dengan cairan merah pekat. Hiro yang tak ingin menangis membentur-benturkan kepalanya ke ambulan berkali-kali.

"Viiinnn, lo harus selamat pokoknya lo harus selamat. Gue gamau lo jauh dari gue, gue gamau," ucap Aga lemas.

"Lo tenang dulu, Gaaa.."

"Gimana gue bisa tenang? Sodara gue kecelakaan, Ro, dia ga sadar!" bentak Aga.

Memang sedekat itu ikatan batin Davin dan Aga hingga saat Aga berbicara tanpa berpikir pun ia menganggap Davin seperti saudaranya sendiri.

ATESIA (END)Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang