Chapt 40: Pesan Tak Sampai

36 3 0
                                        

"Jika ini yang terakhir, beri aku kesempatan untuk memulainya lagi."

Jenazah Aga segera melewati tahap otopsi. Bu Sari sudah menerima ini semua berkat penjelasan dari Allan, walau melewati sedikit suasana tak mengenakkan, mereka bisa melaluinya. Di belakang ambulan, Allan dan yang lain juga beberapa siswa SMA Petapa mengiringi perginya salah satu yang terbaik dari mereka. Pukul 15.30, liang lahat digali sedalam dua meter sebagai tempat peristirahatan terakhir untuk Aga. Ambulan dengan karangan bunga indah nan menyakitkan membuat siapa saja yang melihatnya ikut terbawa suasana.

"Hil.."

"Lang?"

"Lo yang sabar ya."

Hilya memberikan senyuman tipis namun sangat tulus, "Makasih, Lang."

Tubuh Aga dimasukkan perlahan dalam lubang gelap menuju awal kehidupan baru. Tak lama, ia menutup dirinya dengan sempurna. Burung-burung yang beterbangan memberi salam penghormatan terakhir untuk sesama makhluk-Nya.

"Bunda.." Hilya memeluk Bu Sari.

"Anak bunda udah tenang," ucapnya sembari meneteskan air mata.

"

Makasih bund, udah izinin Hilya deket sama Aga."

"Kamu anak baik, bunda yang harus makasih sama kamu," Hilya melepas pelukannya.

"Lo udah pindah rumah aja, Ga," Davin memandangi proses itu dengan cucuran air mata.

"Agaaaa..Fa kenapa Aga udah pergi sih, Fa? Gue kemarin marahin dia abis-abisan," Rezka sangat menyesali perbuatannya.

"Ga, makasih, lo orang pertama yang peduli sama gue," Allan tak ketinggalan mengucapkan pesan terakhirnya.

"Aga, lo udah buat gue ketawa tiap ngliat muka kocak lo, sekarang gue bakal diem-dieman lagi," mungkin kalimat itu yang paling Arfa tak ingin ucapkan.

"Gue bangga punya sahabat kaya elo, Ga," Davin tersenyum tanpa menyembunyikan kesedihannya.

"Ga, maafin gue sama Elang ya, lo tenang di sana," semua orang seakan diberi kesempatan untuk mengucap salam perpisahan pada Aga.

"Hil.." panggil Davin diikuti langkah kaki dari Hilya.

"Kita cuma beda rumah, Ga, tapi kalo rasa, kita masih sama," syair menyakitkan itu membuat berlian berharga membasahi pipinya.

"Tuhan lebih sayang sama elo," rasanya Davin tak ingin menghentikan percakapannya dengan Aga.

Syerin, Ryza, Riella, Jena, dan Friska menghampiri tubuh Hilya yang terduduk lemas tepat di samping gundukan tanah.

"Selamat jalan, Ga, makasih udah ngrubah hidup gue," Syerin merasa sangat berhutang budi pada beribu kebaikan yang sudah Aga berikan.

***

"Pa.."

"Kamu ngapain pake barang itu?"

"Banggain papa."

"Itu darah apa?"

"Darah keberuntungan papa."

"Ga usah berbelit-belit."

"Ini darah orang yang bakal ngehancurin hidup papa."

"Papa males nanggepin kamu."

"Papa..papa pikir Hiro ga tau kalo papa yang udah bakar rumahnya Baron Clovis," Dave membulatkan bola matanya seketika.

"Kamu habis nglakuin apa?"

"Bunuh orang yang mau beberin rahasia papa."

Dave memeluk Hiro dengan erat, "Papa bangga sama kamu."

"Tok, tok, tok," pintu di ketuk dengan keras.

"Papa bukain pintu buat kamu ya," Dave berjalan dengan keyakinan.

"Selamat sore Bapak Dave, maaf kedatangan kami kemari atas laporan kasus pembunuhan oleh Saudara Hiro Rasyanda Jackson sekaligus kebakaran disengaja oleh bapak sendiri, untuk memudahkan prosesnya dimohon tersangka ikut kami sekarang."

"Siapa, pa?"

"Polisi, katanya dia mau nangkep kamu sama papa, emang kita ngapain?"

"Aneh emang polisinya," elak Hiro didukung Dave.

"Maaf pak, mohon ikut kami dulu," salah satu polisi itu memberi kode untuk mengunci pergerakan Dave dan Hiro.

"Apa-apaan sih pak? Saya aja ga buat salah apa-apa!" perkataan Hiro sudah tak dipedulikan oleh polisi.

Akhirnya, sebelas tahun penantian yang sudah mereka tunggu, pembalasan datang saat waktu telah mengizinkan.

***

Jumat, 16 Juli 2021

"Itu apa, Vin?"

"Titipan dari Aga, buat kita semua."

"Lihat dong lihat," Rezka merusak barisan rapi antara Arfa, Friska, dan Riella.

"Kata Aga, dia minta ini di puter waktu ulang tahunnya ke tujuh belas."

"Cepetan puter, gua kangen sama Aga," Rezka memaksa.

"Iye-iye ini."

"Sssttt..dengerin-dengerin," seru Rezka

Dalam layar berukuran sekitar 6 inch..
"Lo ngrasa ga kalo sebenernya kita belum kenal lama, tapi rasanya gue udah dekeeet banget sama lo semua. Dulu gue ngira ga ada yang mau temenan sama gue, sampe akhirnya pertama kali gue nglirik Davin. Eh tapi lo semua jangan ngira kalo gue jatuh cinta sama dia, gue jatuh cintanya sama Hilya. Waktu itu gue ngrasa hidup gue ga sia-sia di sini. Bisa buat lo semua ketawa udah buat gue ngrasa jadi orang yang berguna. Gue emang ga sempurna, tapi gue ngrasa sempurna di deket lo semua. Gue udah mau tujuh belas tahun, kasih kado terbaik buat gue ya..sebenernya itu aja sih yang pengen gue omongin sama kalian. Udah deh ah, jadi melow," Aga menundukkan kepalanya sebentar, lalu, "Makasih, udah buat gue ngrasa berharga."

"Lo udah tujuh belas tahun sekarang," ucap Davin dengan mata berkaca-kaca.

Hilya mengukir senyumnya lagi, "Selamat ulang tahun, kesayangan Hilya."

°°°

Saya kira semua manusia berharga dari awal kelahirannya, nyatanya hanya beberapa dari mereka yang pernah dan berhak merasa bahagia. Untuk kesekian kalinya, saya merasa ada dan nyata di dekat orang-orang yang namanya tertera di rentetan kisah hidup saya.

-Atesia Syerin-

Tamat

•••
Ini yang terakhir, dan ku harap yang terbaik

Terimakasih untuk 40 bagian penting dalam kehidupan Atesia Syerin, terimakasih untuk terkuaknya siapa Allan Barley, dan terimakasih untuk sebagian hidup Aga Annakhi

Saya, Prajwalita Cinta
Untukmu, Alovie

ATESIA (END)Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang