"Mengampunimu itu urusan Tuhan, tapi mengirimmu pada Tuhan itu adalah urusanku."
Lagi-lagi Ero belum puas dan menyesali perbuatannya, dendam masih menguasai hatinya. Dibantu Elang, busur panah hampir saja mengenai leher Syerin. Allan dan yang lain berusaha mengejarnya.
"Woi berhenti lo!" teriak Davin.
Tak disangka, saking hapalnya area latihan muay thai, Allan dan Kafka menghadang mereka dari jalan lain.
"Pelan-pelan aja yang lari," ucap Allan santai.
"Bener-bener lo, Lan, Kaf, capek gue ngejar mereka," Aga bernapas tidak teratur.
"Mau lo apa?"
"Gue cuma mau lo mati!"
"Emang lo bisa?"
Ero memberi kode pada Elang untuk melawannya. Entah apa yang ada di dalam benak mereka, Allan dan Kafka melawannya saja sudah pasti menang apalagi dengan kelima sahabatnya.
"Gue mau keadilan di sini, lo semua mundur! Gue sama lo," Ero menunjuk Allan. "Dan Elang sama lo, Kaf!"
"Lo kalo nantang liat lawan," ejek Kafka.
"Banyak bacot!" Ero terpancing emosi dan langsung memukul Kafka.
Kafka menangkisnya dengan cepat, "Katanya mau nglawan Allan?"
"Woeh edan gitu, boy," Aga menyoraki dari jauh.
Perkelahian semakin panas, Elang telah mendapat banyak luka pukulan pada wajahnya, sedangkan Ero masih berusaha mencari kelemahan Allan.
Ero tersenyum licik sambil berkata lirih, "Serang."
Puluhan orang suruhan Ero menyerang Allan dan Kafka dari belakang. Davin dan yang lain tak membiarkan itu terjadi, mereka berlari ke arah banyaknya kerumunan yang sedang mencoba menghabisi Allan.
"Al, belakang lo!"
Untung saja Allan sigap membalas tendangannya berkat Syerin. Tak mau kalah, Syerin ikut terjun dalam perkelahian atas dasar dendam itu. Sebelumnya, ia menghubungi Ryza untuk ikut membantu mereka semua.
"Licik lo, Ro!" kemarahan Syerin memuncak.
"Jangan harap gue masih cinta sama elo!"
"Buggg.." kepalan tangan Syerin menghantam wajah Ero.
Serangan bertubi di dapatnya setelah Allan menendang lekuk kaki belakangnya. Pasukan Ero semakin berkurang karena memang kurang terlatih dalam berkelahi. Satu demi satu dari mereka tak berdaya bahkan ada yang tak sadarkan diri. Senjata tajam dikeluarkan Elang, semua sangat waspada karena telah mengetahui sifatnya.
"Tangan kosong kalo beraniii.." tantang Rezka.
Angin berhembus menandakan sesuatu telah dilempar dari tangan Elang. Hampir saja belati itu mengenai dada Kafka, untungnya Davin yang sedari tadi menyadari itu semua langsung menangkapnya dan mengembalikan serangan.
"Jlepp.." belati menusuk dalam tepat pada paha kiri Elang.
"Arrrghhhh.." teriaknya.
"Syer, awas!" untuk kedua kalinya, Allan menggagalkan serangan Ero pada Syerin setelah di dalam ring tadi.
"Lo bantu yang lain, biar gue yang ngurus Ero," Syerin seakan sudah tak mengingat kenangan mereka berdua.
Allan yang telah mengetahui bahwa Syerin mampu melawan Ero memberinya kesempatan untuk bertarung sendirian.
"Maju lo," tantang Syerin yang juga membiarkan Allan melawan delapan orang suruhan Ero.
"Ciaattt..ciaaattt..." serangan demi serangan yang Ero berikan berhasil ditangkis Syerin dengan mulus.
"Jago juga adek gue," puji Kafka pelan.
Pukulan dan tendangan mereka adu menjadi perpaduan yang mengerikan. Keadaan berbanding berbalik, kali ini Syerin berada dalam kendali Ero. Punggungnya yang mendapat pukulan sangat keras mengakibatkan ia tergeletak tak berdaya.
Ero mendekatinya, "Syerin..cewe ya cewe, ga usah belagu," senyum licik terukir menyakitkan pada wajah Ero.
"Arrghh.." Syerin meronta kesakitan saat belati juga menusuk lengan kanannya.
"Syeriinnn.." teriak Allan yang masih dikepung 3 pasukan tersisa.
"Buugggg.." kali ini Ryza menyelamatkan nyawa Syerin juga Allan.
"Lo tolongin Syerin," perintah Ryza disusul Davin yang akan membantunya.
Allan berlari secepat mungkin untuk menjangkau badan Ero. Ero yang masih sibuk memberi umpatan pada Syerin tak menyadarinya.
Allan tak bisa menahan lagi amarahnya, bibir Ero dibuat berlumuran darah oleh satu pukulannya. Kemenangan mutlak diperoleh Syerin dan yang lain dengan sisa pasukan yang tinggal sedikit, itu saja hanya beberapa yang masih bisa berdiri tegak.
"Gue ga biarin lo mati karna ada Syerin di sini," Allan berusaha meredam ambisinya untuk membunuh Ero.
Sebelumnya, Allan tak pernah berbaik hati seperti sekarang ini. Jika dia ingin, siksaan akan terus mengintai musuhnya. Pengampunan mungkin masih bisa mereka dapat, namun hukuman tak akan berhenti mengejar.

KAMU SEDANG MEMBACA
ATESIA (END)
Teen FictionIni tentang insan yang terjebak dalam kesepian abadi. Atesia Syerin, dua nama paling depan dari dua nama tersisa. Memulai hidup dengan kehilangan cinta pertamanya. Kehadiran orang baru terus menutup kisah masa lalu. Sayangnya itu semua hanya sement...