Chapt 37: Rusak

25 2 0
                                    

"Lika-liku hidup ini semakin membuatku ingin tau siapa dirimu."

"Lo jadiin gue taruhan?" tanya Kafka garang.

"Kaf, bukan lo, gue ga jadiin l-lo taruhan," kegugupan Uvi membuat Kafka semakin yakin.

"Lyra, Sisca, Anjani, cewe gila lo semua," Kafka memandangi wajah mereka satu persatu.

"Kaf gue mohon maafin gue, gue nglakuin ini cuma pengen dapet uang, bukan maksud mainin perasaan lo," jelas Sisca.

"Siapa yang ngarepin elo?" Sisca terbungkam oleh ucapan Kafka barusan.

"Kaf, tapi aku beneran cinta sama kamu," Uvi berusaha meyakinkan.

"Jangan percaya, Kaf, lo gatau se ambis apa Uvi," Lyra tak terima jika Kafka harus benar-benar jatuh ke pelukan Uvi.

"Vi, gue emang cinta sama lo, tapi buat benci kelakuan lo, gue mampu," secara tak langsung, Kafka memutuskan hubungan spesialnya dengan Uvi.

"Kaf! I-iya gue ngaku, tadinya kita taruhan, tapi sekarang gue bener-bener cinta sama elo."

"Bulshit! Gue ga mau lagi ada hubungan sama elo," Kafka pergi meninggalkan mereka berempat.

"Arrghhhh," Uvi menyisir rambutnya dengar jari-jari tangan secara kasar.

"Mampus! Baru juga gue bilang, ati-ati kalo ketauan," ucapan Lyra membuat tubuh Uvi semakin bergetar.

"ARGHH! BODOH BANGET GUE!" Kafka melampiaskan amarahnya di motor. 

Tak lama, nada deringnya bersuara kencang, "Kak, jemput ya," tanpa menjawab apapun ia memutuskan sambungan telphonenya.

Kemarahan Kafka terlihat saat motor dikendarainya dengan kecepatan 110km/jam ditengah jalan raya yang menurutnya masih sepi. Saat terbayang wajah Syerin, Kafka ingat bahwa penderitaannya tak sebanding dengan adik sepupu kesayangannya. Kehilangan orangtua sekaligus cinta masa remaja. Ia menghentikan kuda mesinnya sejenak, menghela napas dan berniat melanjutkan perjalanan itu.

"Kak, lo kenapa?"

"Gue putus sama Uvi," jawab Kafka sembari melepas helmnya.

"Kok bisa?!"

"Dijadiin taruhan gue," ucapnya santai.

"Bener kan dugaan gue, ya kali Uvi sepolos itu," Syerin merasa prihatin sekaligus lega karena kakaknya tak mendapat pasangan yang salah.

"Ya udah naik, gamau kemana-mana lagi kan?"

"Engga deh, cape gue."

***

"Assalamu'alaikum, bund, Aga bawa makanan."

"Wa'alaikumsalam, makasih ya, nak. Gimana sekolahnya tadi?"

"Agak beda dari biasanya."

"Emang sekarang kaya apa?"

"Aga dimusuhin temen-temen, bund."

"Kamu buat salah apa, nak?"

"Aga cuma belain temen cewe Aga, mereka ngiranya Aga suka sama dia."

"Hilya?"

"Hilya kan emang deket sama Aga, yang ini lain."

"Terus siapa?"

"Syerin, tadinya dia sama Allan, tapi lagi ada masalah."

"Syerin? Anaknya Bu Zanna?"

"Gatau kalo mamanya, kalo papanya namanya Baron Clovis."

"Syerin..kasian kamu nak," Aga terkejut mendengar ucapan ibunya barusan.

"Bunda tau kalo orangtuanya Syerin udah meninggal?"

"Lebih dari tau, kebakaran tragis karna satu orang pendendam di kehidupan mereka."

"Jadi bener kalo Om Roby yang nglakuin ini semua?"

"Roby? Roby Barley?"

"Bunda juga kenal?"

"Tapi kenapa kamu bisa nyimpulin kalo Roby yang bakar rumah mereka?"

"Itu yang jadi penyebab Syerin jauh dari Allan."

"Siapa yang bilang kalo Roby pelakunya?"

"Aga gatau pasti, tapi kayanya Om Roby udah ngaku sama Allan."

"Bukan Roby pelakunya."

"Terus siapa, bund?" Aga selalu ingin tau akan hal itu.

ATESIA (END)Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang