Chapt 17: Kok Ga Ketemu?

26 7 1
                                    

"Mencarinya sangat membuat ragaku lelah, namun mencintaimu tak kalah membuat hatiku pecah."

"Gue cuma anak yang ga berguna, gue anak yang ga diinginkan, gue anak yang taunya cuma nyusahin papa. Gue gatau harus gimana lagi, gue emang ga berguna gue ga berguna!" ucap seseorang sambil memukul-mukul gulingnya.

Kekecewaan seakan menghisap kepercayadirian dalam dirinya. Malam itu benar-benar menyakitkan, malam dimana wanita hebat meninggalkan anak-anaknya. Memori seakan menghampiri, saat dimana semua senyum sirna dibuatnya, namun saat seorang ayah menyakiti hati anak laki-lakinya, luka sekecil apa pun akan tersisa. Itu yang dirasakan manusia tanpa ratu di hidupnya, bukan kasih sayang melainkan kesakitan.

"Papa cuma sayang sama kakak, gue bener-bener sendiri, ga ada orang yang bisa ngertiin gue. Kalo gue bahagia, itu bohong!" katanya lagi sembari mengusap air mata dengan kasar.

"Mamaaaaa..kenapa mama pergi, kenapa ma?!" tubuh yang tadinya tersangga dinding kamar akhirnya perlahan terduduk tak berdaya.

                                       ***

"Syerin, kamu cewe yang kuat kok. Aku yakin kamu bisa nglewatin ini semua," Uvi memberi semangat.

"Gue udah biasa sama keadaan kaya gini. Tapi sekarang gue lebih bahagia, ada Allan di samping gue," jelas Syerin diikuti anggukan dari Uvi.

Obrolan dan kegiatan di sana berlangsung terus menerus, tak sadar jam telah menunjukkan pukul 21.34.

"Bentar papa aku nelfon."

"Uvi, udah selesai belum acaranya?"

"Sebentar lagi, pa."

"Di jemput apa di anter Kafka lagi?"

"Sebentar, pa, Uvi tanya Kafka dul.."

"Gue anterin aja nanti," Kafka datang menghampiri Uvi.

"Uvi di anter Kafka aja, pa."

"Jangan malem-malem pulangnya, hati-hati."

"Siap, om!" teriak Kafka.

"Makasih ya, Kaf."

"Lo pulang sama Allan apa bareng gue?"

"Sama Allan lah, ntar gue ganggu lo berdua lagi."

"Ga usah ngaco!"

"Hahaha..gue pulang sama Allan aja."

"Lo tenang aja, Kaf, Syerin aman sama gue."

"Iya deh, jaga adik gue, Lan."

"Pasti."

"Pulang sekarang?" tanya Kafka pada Uvi.

"Aku ngikut kamu aja."

"Ya udah sekarang aja, nanti elo dimarahin papa lagi."

"Aku duluan ya, Syer," pamit Uvi.

"Gue duluan, lo berdua jangan macem-macem ya," perintah Kafka.

"Iya! Ribet lo," ejek Syerin.

Kafka dan Uvi pergi meninggalkan semua orang yang ada di sana. Bisa dilihat jika Uvi adalah anak yang benar-benar menjaga diri, dari ayah yang selalu melindungi dan mendukungnya hingga dorongan yang selalu diterapkan agar bermasa depan baik. Hidupnya memang tertata, namun siapa sangka, semua orang punya kekurangannya sendiri.

ATESIA (END)Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang