Chapt 22: Langkah Kaki

29 4 0
                                        

"Irama malam itu membuat detak jantung yang tadinya teratur menjadi berhambur."

"Baik tak usah berlama-lama lagi, kita akan memasuki acara yang paling ditunggu-tunggu, Petapa High School Dance.."

"Lo jadi ga dansa sama gue?"

"Elonya mau apa engga?"

"Ya kali gue nolak," senyuman yang dilukis Allan seakan menambah suasana semakin romantis.

Bak pangeran dan putri raja, sedikit demi sedikit langkah kaki bergerak sesuai irama. Perlahan alunan musik klasik memenuhi Garena Hotel diikuti tarian lembut mereka. Jantung Syerin berdetak semakin cepat saat Allan meraih jari-jari lentiknya, pipi merah merona yang selalu ditampakan membuat keindahan semakin terpampang nyata di hadapan Allan.

Kalung yang masih terpasang indah pada leher Syerin tak henti-hentinya memberikan kilauan. Pasangan paling bucin dan heboh sekalipun menikmati nada demi nada yang mereka gunakan sebagai acuan sekarang. Lama-kelamaan, musik yang tadinya klasik berubah pada kecepatan tinggi yang mengharuskan gerakan lebih lincah. Kafka dan Uvi yang memang sama sekali tak bisa berdansa terlihat cukup kesulitan mengikuti musik yang kedua.

Putaran yang dilakukan Syerin membuat Allan kembali mendapat kilaun dari kalungnya. Juga para siswi yang berputar dengan tangan para siswa yang siap dan sigap menahan tubuh mereka. Kontak mata yang lagi-lagi di alami Syerin dan Allan membuat keduanya tak sadar telah melempar senyum satu sama lain.
Setelah 30 menit menunjukkan tarian tebaik, puncak acara pun telah selesai.

"Makasih ya, Kaf, kamu..udah mau dansa sama aku."

"Gue yang makasih sama elo, Vi."

Seiring berjalannya waktu, hubungan Kafka dan Uvi semakin dekat. Dari keduanya seakan memberi lampu hijau untuk masing-masing. Pesta dansa berjalan dengan megah dan meriah. Kilauan payet dari gaun banyaknya siswi di sana menambah kemewahan dan suasana dansa yang romantis untuk sekelas anak remaja.

"Lo ga kangen sama mantan sahabat lo, Syer?"

"Siapa?"

"Ero."

"Lo apaan sih nyebut nama dia lagi," Syerin tertunduk dengan raut wajah muram.

"Lo bener-bener ga bisa maafin dia?"

"Emang lo bisa?"

"Saking seringnya Ero kaya gitu, gue jadi lupa itu kesalahan dia, gue nganggepnya itu udah jadi kebiasaan."

"Gue gatau kenapa dia bisa sekejam itu," percakapan terakhir sebelum yang lain menghampiri mereka.

"Wey! Gila gila gila..sejak kapan lu ga kaku, Lan?"

"Sejak sama Syerinlah," sahut Davin yang seharusnya pertanyaan dari Aga itu dijawab oleh Allan.

"Lo bisa ga sekali aja ga usah sok tau," balas Allan.

"Hiro kemana, Jen?"

"Dia tadi mau pergi sebentar, Vin."

"Kemana?"

"Gatau juga gue."

"Wah jangan-jangan tu anak mau cari cewe lain lagi."

"Ehh, Apin! Lo jangan buat sahabat gue overthinking ya," perintah Riella sembari mengibas-ngibaskan kipasnya.

"Rez! Riella lu ajarin manggil gue kaya gitu ya?" Davin sedikit kesal dengan pembelaan Riella pada Jena.

"Lo ga usah nuduh-nuduh pacar gue deh, Vin," lagi-lagi Riella menyangkal perkataan Davin.

"Dunia kok bisa sih jodohin elo sama elo?" Davin menunjuk Rezka dan Riella.

"Yee..emang masalah buat lo?!"

"Aduh pusing gue, La dengerin suara lo."

"Lama banget si Hiro?" Aga menyadari sudah hampir 15 menit mereka berbincang-bincang.

"Sebentar deh, gue cari Hiro dulu ya," izin Jena.

"Heem sono, takut Hiro keburu ngegoda cewe lain," lagi-lagi Davin menuduh Hiro.

"Ini nih pangeran kodok yang satu lagi," sapa Aga saat mendapati Kafka yang berjalan mendekat.

"Lancar banget dansa lo sama Uvi," goda Syerin.

"Aduh kak, sanggup banget natap matanya," hina Riella.

"Lo ga usah sombong ya! Selama ini gue masih diem dengerin semua hinaan lo ke Uvi."

"Lo ga usah bentak gitu juga dong, Kaf!" Rezka tak terima.

"Lo bilangin sama cewe lo, ga usah sok paling sempurna dihadapan gue."

"Lo bisa santai ga sih, Kaf? Gue tau lo belain Uvi tapi ga gini juga lo ngebales Ella!"

"Udahh..lo berdua malah ngapain sih? Acara seneng-seneng ini. Dan elo, Kaf, lo udah mau pisah sama kita-kita, nikmatin dong jangan malah adu mulut karna cewe kaya gini," Aga berusaha menjadi penengah.

"Gue ga terima aja Uvi di kata-katain kaya gitu."

"Udah deh, maafin gue sama Rezka ya, Kak," Riella menurunkan egonya.

"Nah gitu dong, jangan malu-maluin Aga yang ganteng ini dengan kelakuan kalian."

"Lama-lama elo yang gue ajak adu mulut, Ga!"

"Ampun, Kaf."

"Syer, lo pulang bareng gue apa sama Kafka?"

"Sama elo aja deh, Lan. Gue nganterin Uvi dulu soalnya," jelas Kafka.

"Iya, Al, gue sama elo aja, biar Kafka menikmati masa-masa pdktnya sama Uvi. Itung-itung biar tobat abis masukin anak SMA lain pas pelajaran," ejek Syerin.

"Lo kalo sama gua jangan gitu banget, Syer," tegur Kafka.

"Btw Jena lama banget," protes Ryza.

"Kemana tuh si Hiro sampe dicariin Jena aja belum ketemu," Davin menanggapi ucapan Ryza barusan.

"Alah paling-paling juga lanjut berduaan," Aga mencoba berpikiran positif, entah positif atau negatif.

"Yeee, emang elo sama Hilya," ejek Davin.

"Gue sama Hilya emang ga ada yang ngalahin," Aga menyombongkan diri dengan kedua tangan yang bersedekap.

"Pulang kapan lo, Syer?"

"Ngikut Allan, La."

"Udah ikut-ikut aja nih pasangan baru kita," goda Rezka.

"Udah lima bulan, Rez," Allan mengingatkan.

"Oh udah jadian, Syer?" Rezka semakin memancing mereka berdua untuk saling mengungkapkan.

"Udah biarin aja, anak kecil baru kenal cinta-cintaan," ejek Kafka menuju pada Syerin.

"Elo sok professional ya lama-lama," balas Syerin.

"Lo ga inget waktu dulu gue pacaran?"

"Terserah lo deh, bikin malu. Lo balik jam berapa, kak?" sambung Syerin.

"Nungguin Uvi."

"Loh kemana dia?"

"Gatau juga gue, paling-paling baru sama temennya."

"Emang dia punya temen?"

"Lo ga usah mulai deh, Syer."

"Hiro ngilang, Uvi ngilang, bisa barengan gitu ya?" Aga sedikit heran.

ATESIA (END)Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang