"Di dalamnya, kau bercerita semua hal tentang dirimu."
"Dav..om, tante," Ryza masuk ke ruangan Davin.
"Ryza," sapa mama Davin.
"Om, tante, apa kabar?" tanya Ryza lembut.
"Baik, nak, kamu apa kabar?"
"Baik, tante. Davin bisa pulang kapan tante?"
"Hari ini sayang, makanya om, tante mau jemput ini.
"Kamu mau main sekalian?" tanya papa Davin.
"Kalo boleh om.." jawab Ryza ragu.
"Tu tanyain Davinnya, boleh apa engga?"
"Ga boleh!" Ryza terkejut mendengarnya.
"Kamu mau istirahat, Dav?"
"Ga boleh kalo ga lebih dari tiga jam," Davin tertawa pelan.
"Kamu jangan suka bikin orang panik," tegur mamanya.
"Duduk dulu," pinta papa Davin diikuti anggukan dari Ryza.
"Om, tante keluar dulu ya," ijin mama Davin.
"Loh mau kemana, ma?"
"Keluar sebentar," jawabnya singkat.
Pintu ditutup, "Mana yang masih sakit?"
"Kalo kamu pergi dari aku, aku sakit lagi," Davin mulai menunjukkan sifat manjanya lagi.
"Aku seriuss.."
"Aku dua rius malah," Davin tersenyum.
"Kamu kalo udah sembuh jangan bercanda terus ya," pesan Ryza.
"Selagi bisa buat kamu ketawa, kenapa engga?" Ryza terlihat salah tingkah dibuatnya.
***
"Nih pake helmnya," Allan memakaikannya pada Syerin.
Syerin dan Allan tak berkedip saat kedua mata mereka bertemu. Syerin bergegas menunduk karena takut perasaannya bisa Allan tebak.
"Lo mau ngajak gue kemana sih?"
"Udah ikut aja."
"Mau kemana dulu?"
"Pokoknya ikut aja, lo naik sekarang," Syerin menurutinya.
Dalam perjalanan, "Mau kemana sih, Al?"
"Elo kalo tanya terus gue turunin ntar," ancam Allan dengan maksud bercanda.
"Ya udah turunin!" Syerin sedikit kesal.
"Nanti lo diambil orang lagi, ga rela lah gue."
"Ketularan Davin sama Rezka ya lo?"
"Paling engga gombalan gue masih berbobot."
"Terserah lo," Allan hanya bisa tersenyum bahagia melihat wajah Syerin yang cemberut dari kaca spion.
"Sampaaiii.." motor diparkirkan pada bangunan setinggi 62 meter.
"Lo pinter juga milih tempat," puji Syerin.
"Lo suka ga?"
"Suka sama siapa?"
"Ya sama tempatnya, emang lo suka sama gue?" Allan menatap mata Syerin dengan tajam.
Bangunan tua bergambar beberapa grafiti pada dindingnya adalah tempat favorit Allan untuk melepas segala lelah dan kesedihannya. Udara yang cukup sejuk dan posisi yang lebih tinggi membuat mereka dapat melihat jalanan yang dipenuhi kendaraan berlalulalang. Syerin tak menyangka ada tempat setenang ini di tengah kota. Sebelumnya ia memang jarang sekali menjelajahi kawasan sekitar, namun kali ini Allan seolah memperlihatkan dunia baru pada Syerin.
"Al.."
"Apa?"
"Lo kok bisa nemuin tempat kaya gini?"
"Gue biasanya kesini."
"Sama siapa?"
"Sendirilah," Allan masih menatap Syerin.
"Ngapain lo kesini sendirian?"
"Nenangin diri," Allan membuang muka.
"Orang sekuat lo bisa stres ya?"
"Kadang kita keliatan paling kuat, tapi nyatanya malah paling rapuh."
"Gue salut sama lo, gue kira lo cowo ga bener yang taunya cuma seneng."
"Gue juga salut sama lo, gue ga nyangka lo setegar ini. Gue mungkin ga akan bisa buat orang ketawa kalo gue sendiri yang sengsara."
"Al, gue sekarang udah punya Kafka, Tante Celine, Om Ade, elo, sama yang lain. Gue bersyukur banget punya kalian. Tapi gue tetep kangen papa sama mama."
"Ga ada yang ga ngrasa kangen kalo udah kehilangan."
"Kenapa mereka secepet itu ninggalin gue.."
"Syer, gue ngajak lo kesini buat seneng-seneng, jadi jangan lo rusak kebahagiaan yang seharusnya lo dapetin sekarang," Syerin membalasnya dengan senyum yang tipis.
"Iya, Al, tapi lo kesini mau ngajakin gue ngapain sih?"
"Ntar," Allan mengeluarkan sesuatu dari ranselnya.
"Wihhh makan-makan kita, lo tau aja kalo gue laper," Syerin tak menyangka Allan akan menyiapkan ini semua.
"Nih makanan kesukaan lo," Allan memberikan 3 tusuk sate ayam berukuran sedang.
"Kok lo tau makanan kesukaan gue?"
"Lo lupa kalo punya kakak?"
"Kafka emang gampang banget di ajak kerjasama," kata Syerin dilanjutkan suara tawa yang lembut.
"Lo pake kalung dari gue betah juga ternyata."
Syerin bergegas melihat ke arah kalung yang menempal pada lehernya, "Kalungnya lucu."
"Iya, gue tau kok," lagi-lagi tatapan Allan membuat Syerin tak bisa menghindari kontak mata.
"Al..lo yakin sama perasaan yang lo ungkapin sebelumnya?"
"Kalung itu jadi saksi bisu, Syer."
"Tapi gue takut kalung ini putus."
"Ini cuma kalung, Syer, ga akan ada apa-apa."
"Lagi-lagi gue cuma takut kehilangan ini semua."
"Tapi gue janji, lo ga bakal kehilangan gue."
"Harapan gue juga cuma itu."
"Ya udah makan dulu, katanya tadi belum makan."
"Lo mau yang mana? Biar gue ambilin,"
Syerin menawarkan."Sama kaya lo aja."
Saatnya menikmati sate ayam di pagi hari untuk mereka berdua. Remaja yang baik adalah ia yang bisa menjaga dirinya dan orang lain. Udara segar dan sinar matahari yang tak menyengat membuat suasana begitu tenang, ditambah lagi kendaraan yang tidak seramai sebelumnya.
"Al!" satu sate jatuh ke pakaian Syerin.
"Nih pake tisu," Allan bergegas mengambilnya.
"Aduh jadi kotor nih celana gue," keluh Syerin.
"Ini juga," Allan spontan membersihkan sisa makanan yang ada di tepi bibir Syerin.
Suasana yang mendukung dari nyanyian burung yang tak sengaja melihat momen indah mereka seakan ikut gembira menyaksikan pemandangan tak biasa di atas bangunan tua tengah kota.

KAMU SEDANG MEMBACA
ATESIA (END)
Fiksi RemajaIni tentang insan yang terjebak dalam kesepian abadi. Atesia Syerin, dua nama paling depan dari dua nama tersisa. Memulai hidup dengan kehilangan cinta pertamanya. Kehadiran orang baru terus menutup kisah masa lalu. Sayangnya itu semua hanya sement...