Chapt 10: Sebuah Rencana

35 8 0
                                        

"Manusia punya rencana, Tuhan punya kuasa."

"Gimana kalo kita sunmori?" Davin memulai pembicaraan.

"Kemane, Pin?" balas Aga.

"Elu belum punya SIM, monkey!" kata Rezka yang heran dengan rencana Davin.

"Ya jangan di jalan rayalah. Kita cari suasana tanpa polusi," jelas Davin.

"Iyatuh, itung-itung hadiah tambahan karna kita menang kemarin," dukung Aga.

"BENER! Gue setuju!" sahut Hiro.

"Ape lu main setuju-setuju aje," Arfa mendongakkan kepalanya dengan cepat.

"Emangnya lu kagak setuju? Tinggal aja kalo gitu."

"Eh ya ngga gitu, Ro. Gue sih seneng banget bisa liburan gratis, iyakan, Lan?"

"Eh btw, lo gimana, Lan?" tanya Davin.

"Boleh-boleh aja, tapi kalo ketemu setan jan nangis lu, Ga," ejek Allan.

"Gue pemberani kali, buktinya Hilya ngrasa aman di deket gue."

"Bukan aman, ga," kata Davin.

"Terus?"

"APAK!"

"Ga Allan ga elu, semuanyaaa ngejekin gue."

"Yaelah bercanda kali, Ga."

"Gimana kalo kita ajak cewe-cewe?" Hiro menemukan ide baru.

"Lo kenapa ngambil ide gue sih?" tanya Rezka kesal.

"Elunya lambat!"

"Iya gitu, gimana?" Rezka menanyakan pada sahabat-sahabatnya yang lain.

"Gue sih mau banget ya," tambah lagi satu dukungan diikuti semuanya kecuali Allan.

"Terus gue ngajak siapa?"

"SYERINLAH! teriak mereka hampir bersamaan.

"Gue belum ada apa-apa loh sama dia, ya kali gue langsung ngajak sunmori," Allan ragu.

"Gapapa kali, Lan sekali-kali. Lagian kita juga rame-rame," Davin meyakinkan.

"Sebentar..lo bilang belum ada apa-apa sama Syerin, terus kemarin ngasih kalung tu ngapain ya, Bapak Allan?" Aga membongkar peristiwa beberapa hari yang lalu.

"Yang benerrr???" Rezka terkejut dengan tingkah persis seperti Riella.

"Ya itu bentuk terimakasih gue ke Syerin aja," elak Allan.

"Terimakasih karna udah sayang sama lo?" Aga mulai memancing Allan.

"Terimakasih karna udah nyemangatin gue waktu olimpiade matematikaaa.." Allan tak bisa menahan senyum.

"Gilaaaa, seorang Allan bisa malu-malu gini ya?" lagi-lagi Aga mengejek.

"Yaudah cabut!" Allan mengajak semua beranjak pergi dari lapangan basket yang biasa mereka gunakan.

Mereka semua bergegas menaiki motor untuk kembali ke rumah kedua Davin, tempat seperti biasa yang mereka fungsikan untuk membicarakan banyak hal bahkan hampir semua rahasia mereka. Allan dan kelima sahabatnya memang terlahir dari keluarga kaya raya. Tak heran jika semua masalah dalam perekonomian terbilang sangat lancar. Namun bukan berarti mereka berteman hanya karena harta, dari awal keenam remaja itu sudah memiliki kesamaan sifat dan ikatan batin yang lebih kuat daripada yang lain. Hal itulah yang membuat persahabatan terasa seperti persaudaraan.

ATESIA (END)Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang