Chapt 1: Asing

226 32 14
                                    

"Ku kira pertemuan kita tak akan sepanjang ini."


"Tante! Aku berangkat," teriak Syerin.
Hari itu bulan kedua Syerin bersekolah di SMA Petapa. Gadis yang selalu nampak ceria itu masih tetap mengukir senyum di wajah sendunya. Ia benar-benar menjadi pusat perhatian bahkan saat kali pertama menginjakkan kaki di SMA Petapa. Tak heran, kaki jenjang dan kulit mulusnya berhasil menghipnotis siapapun yang melihatnya.

***

"Woy, Lan! Gue kira bakal telat lagi lu," ejek Davin.

"Alah paling-paling baru ga sehati sama Pak Barley," sahut Aga.

Allan, remaja tampan yang mungkin sebelum ia ada di SMA Petapa sudah di kenal semua orang karena ketampanan dan kekayaannya. Laki-laki berusia 16 tahun itu adalah Keluarga Barley yang sangat dihormati kalangan kelas atas. Banyak yang mengantri untuk menjadi kekasihnya. Mungkin ia bisa menikahi semua gadis di sekolahnya, namun Allan adalah tipe yang lebih suka mengejar daripada dikejar.

"Diem lu," Allan membalas perkataan kedua sahabatnya dengan malas.

"Eh, Lan, lu udah kenalan kan sama cewe super kinclong di kelas kita? Lu jangan pura-pura gatau ya," tanya Aga dengan nada menggoda.

"Ga ada yang lebih kinclong dari mama gue," jawab Allan sembari melirik Aga.

"Gila lu, Nyonya Barley ya cuma punya Tuan Barley lah," Aga kembali berbicara.

Allan memang menomorsatukan ibunya. Wajar saja, beliau selalu memanjakan Allan dengan harta yang tidak ada habisnya. Tapi bukan itu alasannya, Allan tau bahwa wanita pertama yang harus ia cintai adalah seorang ibu. Sangat pantas jika Allan menjadi incaran hampir semua siswi di SMA Petapa. Pesonanya tiada tanding. Tinggi yang hampir berada di titik 186 cm, cara berjalannya yang terlihat berwibawa, juga sopan santunnya yang tetap terjaga, walau kadang lupa.

"Gue juga Pangeran Barley kali, Ga," Allan semakin malas dengan suasana pagi hari itu.

"Nah itutuh Princess Barleynya," Davin menunjuk Syerin yang sedang berjalan dengan sepatu boots kulit berwarna hitam. Rambutnya yang bergelombang terurai bebas tanpa ikatan bak bidadari dari negeri dongeng.

"Unreal emang," ucap Hiro dengan mulut terbuka dan mata yang membulat seketika.

"Wah wah gue bilangin Yiying tau rasa lo," ancam Davin. "Nahkan panjang umur si Yiying," lanjut Davin.

Zenaya Yifko, sahabat Syerin yang sebelas dua belas menyamai parasnya, biasa dipanggil Jena, namun Yiying adalah panggilan yang diberikan Hiro kepada Jena yang berasal dari kata sayang lalu menjadi yayang dan berhenti di kata yiying.

"Syerrr...tumben baru dateng lo," sapa Jena.

"Orang mana lo, Jen sampe gatau ramenya jalan raya di jam segini," elak Syerin.

Alasan yang sebenarnya adalah sepatu kulit kesayangannya yang belum disiapkan. Sesayang itu Syerin dengan barang yang ia miliki. Jangan berpikir bahwa Syerin tidak mampu membeli yang lain, ia hanya menerapkan prinsip jika masih bisa digunakan jangan boros dalam banyak hal. Keluarga Syerin sama kayanya dengan keluarga Allan, yang membedakan hanya nasib kekeluargaannya saja.

"Ya maap kali, Syer, sensi amat," Jena menyenggol lengan Syerin sembari memberi kode untuk segera masuk kelas.

Di kelas, Allan anti dengan kursi paling depan, ia menempati kursi baris kedua dari depan hanya sekali seumur hidup dalam pengalaman bersekolah. Sama halnya dengan Davin, Aga, Hiro, Arfa, dan Rezka, kelima sahabat Allan yang bisa melakukan telepati saking dekatnya ikatan batin yang mereka miliki. Syerin juga tidak ingin berada di kursi depan, ia bersama Jena, Ryza, Hilya, Friska, dan Riella selalu memiliki topik perbincangan ala wanita jika duduk di dua baris terakhir.

ATESIA (END)Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang