Chapt 36: Kosong (13+)

31 2 0
                                    

"Ma, Allan mau tanya sama mama."

"Apa, sayang?"

"Papa udah bunuh orang tua Syerin?" Daniya menampakkan raut wajah takut saat hal itu terucap dari mulut Allan.

"Ga usah ngawur kamu," bantah Roby.

Allan tersenyum licik, "Papa jangan berlaga jadi orang baik. Hubungan Allan sama Syerin rusak, pa, rusak!"

"Kamu tau apa soal orang tua Syerin."

"Mereka meninggal karna ulah papa, kebakaran sebelas tahun lalu. Papa pikir Allan gatau?" kali ini seorang putra mencoba melawan ayah kandungnya. Bukan karena ketidaksopanan, namun Allan mencoba menyadarkan perilaku ayahnya itu.

"Kamu gatau alasan papa nglakuin ini."

"Jadi bener papa yang nglakuin semua ini?"

"Allan, belum waktunya papa crita semua ke kamu," Daniya melingkarkan tangannya pada pergelangan tangan Roby.

"Papa ga usah crita apa-apa, Allan udah paham," ia meninggalkan Daniya dan Roby di ruang tengah.

"Pa, aku udah bilang, Allan ga bakal ngerti posisi kita."

"Dia udah paham, tapi belum waktunya papa kasih tau semua. Kalo Allan emang bener cinta sama Syerin, dia bakal nglakuin sesuatu."

"Apa yang harus Allan lakuin pa? Allan gatau siapa aja dibalik semua ini."

"Papa udah bilang, ini belum waktunya."

***

Hari demi hari mereka lalui dengan noda hitam yang selalu menggelapkan hati.

"Bangsat si Aga! Sombong banget sekarang," perpecahan itu semakin menjadi-jadi.

Allan yang semakin jauh dari Syerin membuat beberapa pihak lebih diuntungkan. Siswi lainnya berlomba-lomba merebut hati Allan yang sangat tertutup itu.

"ARGHHH!" Allan menghantamkan tangannya pada dinding kasar di sebelah gudang sekolah.

Ia menghela napas dan menyandarkan tubuhnya, "Paling engga lo masih mau pake kalung dari gue, Syer."
"Gue kangen sama lo," Allan melanjutkan dialognya.

Di kelas Syerin, Aga selalu berusaha mendekatinya, menanyai banyak hal tentang keluarga dan latar belakangnya.

"Syer, kalo boleh tau, lo tinggal sama Kafka sejak kapan?"

"Sejak orang tua gue meninggal."

"Waktu kejadian itu, lo umur berapa sih?"

"Sekitar enam tahunan," jawab Syerin tanpa curiga.

"Orang tua lo kejebak?"

"Gue gatau, waktu gue sadar kalo kebakaran, gue langsung lari sambil teriak dari luar."

"Lo yang kuat ya, Syer. Hidup ga selalu nurutin kemauan lo."

Syerin hanya mengangguk dengan senyum yang biasa ia berikan pada Allan.

"Ga biasanya lo diem gini, Ga?"

"Gua kan suka ceplas ceplos, nanti malah nambah dosa lagi," Syerin menahan tawa.

"Dan..lo kenapa ga berusaha cari temen lain?"

"Gue sayang sama mereka semua, kalau pun mereka harus ngejahuin gue, gue trima itu."

"Gue kira lo orangnya ga bisa serius," ejek Syerin.

"Bisalah, Syer, buktinya gue serius sama Hilya."

"Kangen ga lo sama Hilya?"

"Kangenlah, ya kali gue diem-diem gini ga peduli."

"Enak banget lo berdua-duaan sementara Allan sekarang sendiri," Rezka mendorong meja di depan Aga.

Syerin berdiri dengan cepat, "Maksud lo apasih, Rez? Gue udah bilang, Aga ga ada hubungannya sama rusaknya hubungan gue sama Allan."

"Syer! Lo mikirlah, ini semua bukan salah Allan, kalo emang bener, ini salah orangtuanya," jelas Rezka.

"Tau apa sih lo, Rez?"

"Gue emang gatau masa lalu lo, tapi gue tau Allan cinta banget sama lo!"

"Percuma, Rez, mau lo jelasin panjang lebar juga ga bakal berubah," Hiro mencoba menghentikan kegiatan Rezka yang sekiranya sia-sia.

"Dan lo, Ga, gua bener-bener ga habis pikir, tega banget lo sama temen sendiri!" lanjut Rezka yang hanya didiamkan Aga.

"Rez! Gue mohon lo pergi dari sini," usir Syerin.

"Lo, ga lebih baik dari Ero!" Rezka menunjuk tegas pada wajah Aga.

"Lo yakin betah sama temen kaya gitu?" tanya Syerin saat mendapati Hiro dan Rezka telah meninggalkan kelasnya.

"Mungkin gue emang terlalu deket sama lo, Syer, tapi gue ga ada niatan nikung Allan, dan soal ini biar lo sama gue aja yang tau," sebenarnya Syerin kurang setuju, ia takut perpecahan diantara mereka semakin tidak karuhan.

Di sisi lain, Arfa selalu melangkahkan kaki di belakang Allan. Mungkin ia masih bisa menganalisis apa yang sebaiknya dilakukan.

"Lo ga ke kantin, Lan?"

"Ga dulu, Fa."

"Lan," Allan menoleh. "Lo yakin ga mau cari bukti? Lo udah percaya kalo bokap lo yang nglakuin ini?" untuk pertama kalinya Arfa berbicara setelah banyaknya topik yang ia lalui.

"Gue harus cari bukti apa lagi, Fa? Sedangkan bokap gue ga nyangkal tuduhan ini."

"Paling engga, lo bisa buktiin ke Syerin kalo lo bener-bener sayang sama dia."

"Gue mau ngasih Syerin kesempatan buat jauh dari anak pembunuh orangtuanya."

"Jangan lupain Aga," Arfa mengingatkan.

"Gue ga lupa dan gue yakin Aga orangnya setia."

"Semoga dugaan lo bener."

"Hubungan lo sama Friska gimana?"

"Gue ga ada hubungan spesial sama dia, tapi hubungan yang sekarang baik-baik aja," pernyataan Arfa tak mendapat jawaban apapun dari Allan.

***

"Terus, uang gue mana?"

"Noohhh, beruntung banget lo bisa pacaran sama Kafka."

"Pake trik, pake orang dalem."

"Laga lo sok lugu, Vi, ati-ati ketauan."

"Ga bakal, orang taunya gue anak baik-baik."

"Padahal mah paling munafik," ejek Lyra diikuti tawa dua temannya yang lain.

"Vi?" seseorang menghampiri mereka, suasana kafe mendadak hening dan satu keringat menetes di ujung hidung Uvi.

"Kafka," ucap Lyra lirih.

ATESIA (END)Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang