Beberapa hari kemudian, operasi Bu Sari berjalan dengan lancar. Aga sangat berterimakasih pada Allan dan berjanji akan membalasnya, namun Allan menolak. Ia juga berpesan pada Aga agar tidak memberi tau hal ini pada siapapun. Minggu kedua ajaran baru, Aga sudah bisa bersekolah kembali.
"Kang lawak dah balik ni," sapa Rezka yang hanya dibalas dengan senyuman oleh Aga.
"Tumben lu diem?"
"Belum pemanasan, Ro" elak Aga.
"Nyokap lo udah sehat kan?"
"Udah, Lan."
"Ya udah gue tinggal dulu," ijin Allan.
"Kenapa tu si Allan?"
"Baru berantem sama Syerin, berantem hebat malah," jelas Rezka.
"Emang ada apa?"
"Katanya..bokap nyokapnya Allan yang bunuh orangtuanya Syerin."
"Lo yang bener, Rez?"
"Ya gue juga ga percaya, tapi Syerinnya marah gitu."
"Tapi kayanya ga mungkin deh," Aga semakin ingin membuktikan.
"Ya udah cabut," ajak Rezka.
Jam pelajaran pertama berlalu, waktu yang mereka idamkan kini telah tiba. Merasakan masakan Buni yang luar biasa lezat dan suasana kantin yang menyenangkan tentunya.
"Gue cabut bentar ya," ijin Aga pada yang lain.
"Mau kemana lu?" Rezka tak mendapat jawaban apapun dari Aga.
"Syer! Ntar, Syer," Aga berlari mengejar Syerin yang sepertinya tak akan pergi ke kantin.
"Lo disuruh Allan?"
"Lo ada masalah apa sih sama Allan?"
"Gue yakin lo udah tau."
"Tapi gue ga percaya."
"Kalo lo nyamperin gue cuma buat bahas ini mending lo pergi."
"Engga, gue ngerti posisinya Allan, tapi gue juga pernah di posisi lo."
"Lo gatau apa-apa."
"Gue tau."
"Lo ga pernah kehilangan orang tua."
"Gue kehilangan ayah."
"S-sorry, Ga, gue lancang."
Aga menghela napas, "Gapapa, lo duduk dulu sini. Btw lo gamau ke kantin kan?"
"Males gue."
"Ya udah gue temenin, lo boleh cerita apapun sama gue."
"Mau crita apalagi, Ga? Lo jangan mancing gue."
"Karna gue tau rasanya kehilangan bokap, sekarang nyokap gue juga sakit."
"Nyokap lo sakit apa?"
"Jantung, Syer, tapi udah operasi, doain ya."
"Pasti, tapi lo ga gabung sama yang lain?"
"Gue pengen cari suasana baru."
"Gatau diuntung ya lo!" Rezka langsung menghantam perut Aga.
"Apa-apaan sih lo!" Syerin terkejut melihat kejadian barusan.
"Pinter banget lo cari kesempatan, waktu Allan jauh sama Syerin lo malah kaya gini," Rezka sangat tidak terima.
"Lo tega banget, Ga sama Allan," sahut Hiro.
"Lan, wah ga bisa dibiarin," Rezka terpancing emosi.
"Lo semua apa-apaan sih! Gue jauh dari Allan ga ada hubungannya sama Aga, dan lo, Al, jangan pernah lo gunain temen-temen lo buat deket sama gue lagi," Syerin pergi meninggalkan mereka semua.
"BANGSAT LO GA!" Rezka memukulnya lagi.
"REZ!" Allan menghadang kepalan tangan Rezka yang hampir melukai wajah Aga.
"Lo kenapa malah belain dia sih, Lan? Jelas-jelas dia ngekhianatin elo, baik sama bodoh ga beda jauh ternyata," Rezka yang tak dapat pembelaan dari Allan merasa sangat kecewa.
"Lo mikir, Lan! Jangan terlalu baik sama orang," Hiro pun mengikuti langkah Rezka.
"Lo ga ikut mereka, Fa?" Allan menanyai dengan nada rendah.
"Ga minat," jawabnya singkat.
"Sorry, Lan," Aga meninggalkan mereka berdua seakan tak terjadi apa-apa sebelumnya.
"Lo kenapa masih maafin dia, Lan?"
"Gue ga berhak nglarang Syerin deket sama siapapun, Fa."
Arfa hanya tersenyum tipis melihat kebijaksanaan dari Allan.
"Woi lo pada!" Rezka menggebrak meja di kelas. "Ga usah lo semua temenan sama bocah sialan itu."
"Siapa?" tanya salah satu siswa.
"Aga! Ga tau di untung tu bocah."
"Emang Aga ngapain?"
"Ngrebut Syerin dari Allan, bener-bener bangsat tu orang."
"Gila bener, berani-beraninya ngrebut Syerin," sebagian siswa mendukung ajakan Rezka.
"Dia ga ngaca apa?!" Rezka semakin terbawa emosi.
"Rez, gue mohon ga usah ikut campur masalah gue sama Syerin."
"Tapi Aga nikung elo, Lan!"
"Lo siapa bisa ngatur Aga?"
"Terserah!" Rezka menduduki bangkunya dengan kasar.
"Lo tenang dulu, Rez, emang kalo orang baiknya keterlaluan ya goblok jadinya," Allan tak menyangka Hiro bisa memberi umpatan padanya.
"Lo jangan kepancing," nasihat Arfa yang hanya mendapat lirikan dari Allan.
Hari itu, mereka terpecah menjadi beberapa pihak. Entah siapa yang benar, namun mungkin kali ini Rezka ada benarnya dan Aga telah melampaui batas.
KAMU SEDANG MEMBACA
ATESIA (END)
Teen FictionIni tentang insan yang terjebak dalam kesepian abadi. Atesia Syerin, dua nama paling depan dari dua nama tersisa. Memulai hidup dengan kehilangan cinta pertamanya. Kehadiran orang baru terus menutup kisah masa lalu. Sayangnya itu semua hanya sement...
