"Sebuah janji memang terucap, namun sebuah bukti harus terjadi."
Kafka menepati janjinya pada Celine. Ia harus mencari teman dekat yang benar-benar bisa bersatu dengannya untuk menyudahi tabiat buruk Ero dan Elang.
"Lan, gue mau ngomong sama lo!"
"Tumben, Kaf, kenapa lo?"
"Eh, ntar lu bonyok-bonyok gitu kenapa?" tanya Rezka.
"Gue dijebak Elang sama Ero."
"Hah! Kok bisa? Critain cepet critain!" Davin memaksa.
"Gue sempat di ajak Elang muay thai di tempat latihan biasa anak Bhadrika. Ya gue setuju-setuju aja karna gue kira mereka bakal adil kali ini. Ternyata mereka emang bener-bener licik," Kafka terbawa emosi dibuatnya.
"Bener-bener cari masalah tu bocah syalandd," umpat Davin.
"Lo tenang dulu bro," Aga menenangkan.
"Terus tujuan lo dateng ke kita buat apa?"
"Gue udah janji sama mama bakal cari temen yang bisa ngasih pelajaran buat Elang sama Ero. Gue bener-bener udah muak sama kelakuan mereka," jelas Kafka.
"Ya, gue setuju, Kaf. Tapi gue punya syarat buat lo."
"Apapun, Lan!"
"Lo harus jauhin Syerin," perintah Allan serius.
"Yaelaaahhh..temen gue udah mulai kasmaran," teriak Davin.
"Diem lu!" Allan membungkam mulut Davin.
"Lo tenang aja kali, Lan. Gue ga mungkin sama Syerin," Kafka menyetujui.
"Oke, kita setuju," Allan berjabat tangan ala laki-laki untuk mengakhiri percakapan rahasia di parkiran sekolah pagi itu.
***
"Jen, lo ga mau ikut ke kantin?"
"Gue ga laper, Syer."
"Lo kenapa? Ada masalah?"
"Gue gapapa, Syer, cuma lagi ga pengen ke kantin aja," jawab Jena dengan wajah lesu.
"Beb Jenaa, lu kenapa sih sayang.."
"Elu bukannya ngehibur malah rempong," tegur Ryza.
"Diem aja deh lo, ga usah mancing-mancing gue," balas Riella dengan bibir yang dimonyong-monyongkan.
"Lo mau nitip makan apa, Jen?"
"Ga usah, Syer, kalian aja yang makan."
"Ya udah kita tinggal sebentar, 15 menit balik sini lagi," kata Syerin diikuti dengan anggukan Jena.
Dalam langkah kecil menuju kantin, "Jena kenapa sih? Apa lagi dapet ya.." tanya Ryza pada dirinya sendiri.
"Gue juga gatau, Ryz. Ga biasanya dia kaya gini," Syerin menyimpulkan.
"Iya lohhh..padahal sebelumnya dia paling semangat buat ke kantin, ya karna ada Hiro," tambah Riella.
"Atau masalahnya emang ada di Hiro?" Hilya menyahut.
"Gue rasa engga deh, Hil."
"Tapi selama ini Jena kaya ga punya masalah apa-apa, Syer."
"Tapi kita juga gatau, Syer. Jena ga seterbuka itu sama kita, barangkali malah sama elo dia mau crita."

KAMU SEDANG MEMBACA
ATESIA (END)
Novela JuvenilIni tentang insan yang terjebak dalam kesepian abadi. Atesia Syerin, dua nama paling depan dari dua nama tersisa. Memulai hidup dengan kehilangan cinta pertamanya. Kehadiran orang baru terus menutup kisah masa lalu. Sayangnya itu semua hanya sement...