Chapt 20: Menuju Lebih Tinggi

30 5 1
                                        

"Sekarang dan selamanya, aku tak dapat berdiri dalam zona perpisahan."

Setelah Davin membaik dan perasaan Syerin yang semakin kuat, juga pertemuan lima bulan yang lalu, siswa kelas sepuluh kini akan menapak pada kelas sebelas dan siswa kelas dua belas akan melanjutkan hidup yang lebih hidup. Perencanaan persiapan kelulusan berjalan sangat mulus hingga esok ditetapkannya prom night. Kebijakan berlaku sangat luar biasa, karena prom night tahun ini tidak dikhususkan untuk anak kelas dua belas saja. Dari kelas sepuluh dan sebelas juga tak mau kalah memamerkan kebolehannya dalam hal berbusana pada malam itu. Sesuai tema prom night mendatang yaitu golden generation, dress code yang ditetapkan pun berwarna biru dongker dengan beberapa torehan emas untuk menegaskan kemewahan malam nanti.

"Syer, lo mau pake dress kaya apa?"

"Ini nih kaya gini," Syerin menunjukkannya pada Allan.

"Masih mau pake sepatu boots juga?" Allan tertawa kecil

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

"Masih mau pake sepatu boots juga?" Allan tertawa kecil.

"Kalo bisa bikin lo kesel ga masalah sih," balas Syerin.

"Woi paru!" panggil Rezka.

"Paru apaan lagi?" tanya Aga.

"Pasangan baru, eaaa.."

"Ga jelas," balas Allan.

"Lan, gue dipinjemin baju dong buat prom night," pinta Aga.

"Pake noh sarung," ejek Davin.

"Kalo bukan Allan ya elo aja, Vin yang minjemin gue."

"Nanti lo kringetan jadi bau baju gue," tolak Davin.

"Lo mah ga pernah baik ama gue," canda Aga.

"Eh, Syer, nanti lo dansa ya sama Allan," goda Davin.

"Baru juga mati suri udah belagu lo, Vin," balas Allan diikuti mata Davin yang sedikit membulat.

"Eh, Syer, kakak lo udah jadian sama Uvi?" tanya Davin yang hanya dibalas dengan dua pundak yang naik.

"Hiro mana?" Allan baru menyadari jika Hiro tak bersama mereka.

"Baru sama Jena, membahas masa depan."

"Pikiranmu kui loh, Vin!" sahut Aga.

"Lu kangen nenek? Pulkam sono," Davin sedikit mendorong punggung Aga.

"Lo kenapa dari tadi diem, Rez?"

"Gue mempersilakan dua duda beradu janda, Lan," Rezka tertawa terbahak-bahak.

"Matamu!" lagi-lagi Aga sedikit mengumpat namun dengan tawa yang masih menghiasi wajahnya.

                                       ***

"Ying, besok malem aku jemput ya?" Hiro menawarkan.

"Aku kira mau sama cewe kemarin," Jena masih kesal karena kemarin mendapati Hiro sedang berduaan dengan perempuan lain.

"Aku kan udah jelasin, dia cuma ngasih barang aja ke aku."

"Ya itu barang, barang apa?"

Hiro mengedepankan tangannya yang tadinya berada di belakang badan, "Ini, Ying."

"Kamu beneran? Ini kan yang kemarin aku kasih tau ke kamu.." Jena menyesal menuduh Hiro yang tidak-tidak.

"Kamu tau kan selera aku kalo soal kaya gini kurang, makanya aku minta tolong sama dia," jelas Hiro.

"Makasih ya, Ro," hati Jena terlihat berbunga-bunga.

"Sini aku bantu pakein," dengan lembut Hiro memasangkan gelang ke tangan kiri Jena.

"Cantik.."

"Kaya kamu," Hiro menatap mata Jena. Posisi duduk yang sejajar membuat kontak mata diantara mereka.

"Aduuuuhh sweet banget siiihhh.." Rezka dan yang lain memergoki mereka.

"Lu ganggu aja, arap!"

"Yeee gue kan ikut seneng, Ro."

Seseorang datang dari kejauhan dengan muka yang sangat datar. Kafka, tak luput dari tatapan menggoda oleh siswi SMA Petapa, sama halnya saat Allan lewat barusan.

"Kenapa lu, Kaf? Ga dikasih uang jajan emak?" pertanyaan Aga membuat Kafka semakin malas berada di sekolah.

"Dimarahin guru," jawab Kafka singkat.

"Ngapain lagi lu, Kaf?"

"Biasa," jawabnya lebih singkat.

"Ya gimana guru ga marah kalo lo masukin orang ke sini?" Aga heran dengan Kafka yang masih saja melakukan hal itu.

"Kesepian gue di kelas, ga ada U-"

"U siape?" tanya Aga.

"Uvi lahhhh.." sahut Syerin.

"Noh udah kepincut kan, Syer," Davin memojokkan Kafka.

"Lo suka sama Uvi, kak?" tanya Jena.

"YANG BENER?!" teriak Riella yang berlari menghampiri mereka.

"Wah gara-gara elo, Syer.." Kafka menyalahkan Syerin walau kenyataannya memang seperti itu.

"Eh lo beneran suka sama Uvi, kak? Jangan bercanda," Riella seakan tak rela jika Kafka menyukai Uvi.

"Ih kamu kenapa sih, beb?" Rezka sedikit murung dibuatnya.

"Ya aku kaget aja, lo semua liat deh tampangnya ga meyakinkan kaya gitu," lagi-lagi Riella meremehkan Uvi.

"Lo jangan gitu, La," pinta Syerin.

"Syer, iya orangnya lemah lembut, orangnya kaya ga punya masalah, tapi ya aduuuhh.."

"Gue punya ide," Aga kembali bicara.

"Apa? Tapi biasanya ide lo ga ada yang bener," ejek Davin.

"Dengerin dulu! Gimana kalo pas prom night nanti, lo ajak Uvi dansa?" saran Aga menuju pada Kafka.

"Ya kali gue langsung ngajak dia dansa, tapi boleh juga," sambung Kafka yang tadinya kurang yakin.

"Ini beneran lo sama Uvi?" tanya Syerin sama bingungnya dengan yang lain.

"Ya gue pengen nyoba aja, pdkt gitu."

"Wah jangan-jangan cuma buat mainan lagi," tuduh Aga.

"Enggalah, tulus kok tulus," Kafka meyakinkan.

Hari itu berjalan seperti hari-hari biasanya. Hanya satu yang berbeda, persiapan prom night yang semakin meningkatkan keambisiusan seakan membuat mereka buta akan kewajiban utama. Diharapkan prom night nanti menjadi ajang yang baik untuk siswa siswi SMA Petapa.

ATESIA (END)Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang