Sena memakan sarapan yang telah dibuat oleh maminya--Yura. Keadaan meja makan itu hening tak ada yang berbicara, sudah peraturan jika sedang makan tidak boleh ada yang bersuara. Hanya ada suara denting sendok dan garpu yang mengenai piring.
Hingga akhirnya mereka telah menyelesaikan sarapannya masing-masing. Sena berdehem, hal itu menarik perhatian kedua orangtuanya.
"Apa?"tanya Yura yang kini sedang merapihkan seragam putranya, anak kedua mereka.
"Sena nanti nginep ya dirumah Netha?" Mau senakal apapun Sena, tetap jika ia ingin berpergian akan meminta ijin pada orang tuanya.
"Pulang dulu?"tanya Yura.
Sena mengangguk. "Huum, ganti seragam lah."jawab Sena.
Yura mengangguk. Kini mereka berjalan ke halaman depan, lebih tepatnya Yura mengantarkan kedua anaknya untuk berangkat sekolah dan suami yang pergi bekerja.
Sena memalingkan wajahnya ketika melihat orangtuanya itu bermesraan. Tidak tau tempat, ditambah ada adiknya yang masih kecil. "Jangan diliat."bisik Sena pada adiknya.
Adiknya yang sedikit polos itu pun sontak mengangguk, mengikuti gerakan sang kakak yang melihat ke arah lain.
"Mas berangkat dulu ya."ucap Aska, hari ini ia mengantarkan kedua anaknya itu. Biasanya Sena akan membawa mobil ke sekolah sendiri, namun entah mengapa saat ini ia malas. Ingin diantar oleh sang ayah.
Yura mengangguk. Ia menghampiri kedua anaknya itu, mencium kening mereka secara bergantian. "Belajar yang bener, jangan nakal, jangan bolos. Oke?"ucap Yura.
"Siap mam!!"ucap mereka serempak, meski didalam hati Sena ia tak yakin.
Yura tak pernah membedakan kedua anaknya itu, jika Sena menginginkan sesuatu tentu saja ia juga akan membelikannya untuk anaknya yang kedua. Begitu juga kebalikannya, mereka berdua adalah titipan Tuhan yang harus Yura jaga.
Meskipun sikap Sena yang nakal, ia memahaminya karna dulu ia juga pernah mengalaminya. Jadi tak heran jika ia selalu mendapati surat panggilan, ya mungkin karna Yura juga seperti itu dulu?
Yura dan Aska tak pernah melarang Sena untuk bermain bersama teman-temannya atau apapun. Lebih baik nakal secara terang-terangan daripada bersembunyikan? Toh, mereka berdua juga percaya pada Sena. Anak itu tidak akan melakukan hal diluar batas tanpa sepengetahuan mereka.
Sebenarnya Sena itu anak baik, hanya saja sikap nakalnya akan datang ketika ia merasa bosan. Memang persis seperti Yura dulu.
Terkadang, Sena juga akan bersikap dingin pada orang yang belum dikenalnya. Akan merasa bodo amat, dan akan berbicara seperlunya jika tidak ada hal yang penting. Sudah dipastikan jika sifat itu turun dari sang ayah, Aska.
•••
Sena memicingkan matanya ketika ia melihat lelaki yang dikenalnya sedang berjalan beringin sesekali tertawa kecil. Sena baru saja keluar dari toilet, dikarnakan ia kebelet. Namun saat keluar dari toilet, ia melihat pemandangan yang menyebalkan.
Itu adalah Azriel, lelaki yang ia sukai sedang berjalan berduaan bersama--- Sena memicingkan matanya. Tangannya mengepal, kesal saat mengetahui perempuan itu adalah Kayla.
Perempuan itu berjabat sebagai bendahara didalam organisasi OSIS, sudah Sena duga jika perempuan itu hanya mencari perhatian dari Azriel.
"Kok sama cewe itu bisa ketawa giliran sama gue enggak si?"gerutu Sena tak terima.
"Sejelek apa si gue sampe diketusin sama cowo itu?"gumam Sena.
KAMU SEDANG MEMBACA
WE'LL MEET AGAIN? [END]
عاطفية⚠️BELUM REVISI [SEKUEL MY HUSBAND IS MY DILAPIDATED] Disarankan untuk membaca MHID terlebih dahulu, agar bisa mengetahui karakter orang-orang sebelumnya. ••• "Lo itu cewe, tapi kelakuan lo ngelebihin laki-laki." Mata Sena memicing, bukannya marah Se...
![WE'LL MEET AGAIN? [END]](https://img.wattpad.com/cover/274067166-64-k95797.jpg)