Menatap penampilan dirinya di cermin, sudah rapih. Kakinya melangkah berjalan ke arah rak sepatu, setelah mengambil sepasang sepatu Sena berjalan ke arah sofa.
Pintu kamar terbuka, menampilkan wanita yang masih terlihat muda. "Udah baikan sayang?"tanya Yura, dan dijawab anggukan oleh Sena.
"Terus kamu mau kemana?"tanya Yura saat melihat anaknya sudah rapih.
"Sena mau cari udara segar, bosen dikamar terus."ujar Sena tersenyum tipis.
Yura ikut tersenyum, mendekati ke arah Sena dan mengusap rambutnya. "Ikhlasin ya?"ucap Yura tiba-tiba, membuat Sena yang sedang menalikan sepatu terdiam.
Namun tak lama dirinya mengangguk dan tersenyum. "Iya mi, Sena udah ikhlasin semuanya kok."balas Sena, ia berdiri dari duduknya dan segera berpamitan.
Diperjalanan, Sena menatap fokus ke jalanan. Lampu lalu lintas berganti dengan warna merah, perlahan mobil itu melaju pelan. Disela-sela menunggu lampu lalu lintas berganti, pandangan Sena jatuh pada sepasang remaja yang tepatnya berada disamping mobil Sena.
Dengan jelas, Sena melihat wajah lelaki itu dibalik helmnya. Dan dibelakangnya, perempuan itu melingkarkan tangannya dipinggang Azriel.
Yap kedua remaja itu adalah Azriel dan Luna, dengan cepat Sena mengalihkan pandangannya. Bibirnya bergetar menahan tangisan, oh ayolah ia keluar itu ingin mencari udara segar. Bukan udara sesak seperti ini.
Melihat mobil didepannya sudah maju, perlahan Sena melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang. "Gini ya rasanya liat pacar sendiri tunangan sama orang."monolog Sena.
"Gue yang berjuang, tapi dia yang dapetin semuanya."ucap Sena terkekeh sendiri.
Mobil yang ia bawa perlahan terparkir didekat taman. Ia keluar dari mobil itu dan mencari bangku taman yang kosong, pandangannya lurus ke depan.
Ingatannya kembali pada kejadian seminggu yang lalu, dimana saat itu hujan badai menerpa kota Jakarta. Sena yang pulang telat terpaksa harus meneduh dihalte bus.
Bahkan dirinya menyesal tidak ikut dengan keempat temannya, sedangkan Atha lelaki itu tidak masuk sekolah. Ketiga teman Azriel? Ah mereka disibukkan oleh jabatannya sebagai OSIS. Sedangkan Azriel, lelaki itu dengan lantangnya menolak mentah-mentah permintaan dari Sena.
Bahkan lelaki itu mengucapkan kalimat yang menyakitkan bagi Sena, tak ada pilihan lain selain menerobos hujan badai ini. Hingga menyebabkan keesokan harinya ia terbaring lemas diatas kasur.
Flashback on
"El bisa minta tolong gak?"
"Apa?"
"Jemput gue dihalte deket sekolah, gue keujanan."
"Gue sibuk."
"Pliss El kali ini aja, gue kedinginan."ucap Sena, ia mengusap wajahnya yang terkena air hujan.
"Lo itu bisa ngertiin gak sih? Bisanya cuma bikin gue nambah beban doang."
"O-oh gue beban ya buat lo?"tanya Sena, tenggorokannya mendadak sakit karna menahan tangisan.
"Ya emang selama ini lo beban, udahlah gue matiin. Ganggu waktu sama Luna aja lo."
Tit.
Sena menatap nanar ponselnya, bahkan ia tertawa hambar diiringi tangisan. Membuat tawa dan tangisannya bersatu dibawah air hujan.
"Liat? Bahkan lo lebih mentingin perempuan itu dibanding gue El."lirih Sena.
Tak ada pilihan lain, Sena menerobos hujan itu. Membiarkan seluruh badannya basah kuyup.
KAMU SEDANG MEMBACA
WE'LL MEET AGAIN? [END]
Romance⚠️BELUM REVISI [SEKUEL MY HUSBAND IS MY DILAPIDATED] Disarankan untuk membaca MHID terlebih dahulu, agar bisa mengetahui karakter orang-orang sebelumnya. ••• "Lo itu cewe, tapi kelakuan lo ngelebihin laki-laki." Mata Sena memicing, bukannya marah Se...
![WE'LL MEET AGAIN? [END]](https://img.wattpad.com/cover/274067166-64-k95797.jpg)