06. BUKAN MIMPI

4.6K 432 5
                                        

Saat ini tubuh Sena terkulai lemas dikasur, ia tak bisa melakukan apapun selain bergerak ke kanan dan ke kiri. Nafasnya yang hangat menerpa area tubuhnya. Sial, hanya karna ditabrak oleh perempuan itu kini Sena harus lemas seperti ini.

Saat dikamar mandi tadi, ia melihat bahunya yang sedikit memar berwarna keunguan. Itu sangat menyebalkan, jika Yura mengetahuinya pasti akan dikira berantem.

Pintu kamar terbuka, menampilkan Yura yang membawa nampan berisi bubur dan teh hangat. Melihat anaknya yang sudah pulang dengan keadaan pucat tentu membuat Yura khawatir.

Meskipun Sena menjawab hanya demam biasa, namun menurut Yura demam tak bisa disepelekan. Mau demam biasa atau berat, Yura akan segera menyuruh anaknya itu meminum obat.

"Makan dulu yu, mami suapin."ujar Yura.

Sena mengangguk lemas, ia mendudukkan dirinya dan bersandar pada headboard kasurnya. Meskipun sakit, Sena lebih memilih untuk makan bubur daripada nasi. Menurutnya bubur lembut, dan nasi terlalu keras jika sedang sakit.

"Kok bisa kaya gini?"tanya Yura, ia menghapus keringat didahi anaknya itu.

Sena menggeleng, malas untuk menjawab pertanyaan sang ibu itu. Ia lebih memilih menerima suapan bubur dari Yura. Ia ingin segera habis dan kembali tidur.

"Besok jangan sekolah ya?"bujuk Yura.

"No, Sena harus sekolah karna ada ulangan harian mi."tolak Sena.

"Kan bisa nyusul sayang."ujar Yura.

"Enggak males, lagian Sena cuma demam biasa kok. Minum obat doang pasti nanti malem sembuh."ucap Sena

Yura menghembuskan nafasnya pelan, anaknya memang keras kepala sekali. Mewarisi sifat sang ayah. "Yaudah, tapi kalo pusing langsung minta ijin ke UKS okay? Atau telepon mami, papi, siapapun itu."

"Ahh, Atha yang deket sama kamu. Telepon dia kalo kamu pusing, oke?"tanya Yura.

Sena mengangguk cepat, ibunya itu terlalu cerewet. Tapi meskipun cerewet, Sena senang karna ia merasa diperhatikan.

"Nah udah abis, mami turun dulu ke bawah. Kalo ada apa-apa panggil aja ya?"

"Iy-"

"Kak Senaaaaa!!"

Brakk

"Adek, pelan-pelan buka pintunya sayang."tegur Yura.

Anak lelaki yang berumur dua belas tahun itu menyengir tanpa merasa bersalah, namun tak lama tatapannya beralih pada sang kakak.

"Ada temen dibawah, katanya mau jengukin kak Sena."ujar Aksa, memberi tahu sang kakak karna disuruh oleh sang ayah. Padahal ia sedang asik bermain game.

"Siapa?"tanya Sena, apa itu teman-temannya? Ah tapi tak mungkin, jika mereka kesini pasti akan selalu mengabari.

"Enggak tau, tapi katanya temen kakak kok."ujar Aksa.

Sena mengernyitkan dahinya. "Cewe atau cowo?"tanya Sena.

"Cowo."jawab Aksa.

Yura yang selesai membereskan bekas bubur itu pun menyuruh Aksa untuk membawa temannya itu kesini.

Tak lama, seorang lelaki tinggi berdiri dihadapan pintu. "Assalamu'alaikum Tante."salam Azriel, ya lelaki yang berkunjung ke rumah Sena itu adalah Azriel. Setelah mendapati kabar dari Atha jika keponakannya itu sakit membuat Azriel sedikit kaget.

Yura menoleh, lalu tersenyum. "Waalaikumsalam, temennya Sena ya?"tanya Yura.

"Iya tan, mau jenguk Sena boleh?"tanya Azriel meminta ijin.

WE'LL MEET AGAIN? [END]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang