30. FLASHBACK

3.1K 279 30
                                        

Setelah mendengar suara bel, Sena buru-buru memasukkan buku pelajaran kedalam tasnya. Melihat guru yang sedang menjelaskan sedikit materi, Sena menggunakan kesempatan itu untuk mengabari Satya. Tidak mungkin kan ia berteriak ketika masih ada guru?

Tangannya mengetik dengan cepat, sesekali ia memperhatikan guru didepan. Setelah mengirim pesan itu, Sena menoleh dimana Satya yang sedang memperhatikan guru. Sena melihat jika Satya mengambil ponselnya didalam saku, lelaki itu menunduk. Sama halnya dengan Sena tadi.

Ponselnya bergetar, menandakan jika ada pesan masuk

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

Ponselnya bergetar, menandakan jika ada pesan masuk. Tanpa lama Sena membaca pesan itu dan membalasnya singkat. Ia memasukkan ponsel kedalam saku ketika sang guru menutup pelajaran.

Semua murid berburu-buru keluar, tak terkecuali Sena dan Jihan yang masih dikelas. Mereka merapihkan meja mereka. Sena menoleh kesamping, dimana Jihan yang sedang memasukkan buku.

"Gue mau latihan, bilang sama anak-anak ditongkrongan kalo gue gabisa dateng."ucap Sena memberitahu, hal itu membuat Jihan terdiam beberapa detik dan mengangguk.

"Latihan buat minggu depan ya?"tanya Jihan.

Sena mengangguk, waktu begitu cepat. Hingga kini acara itu semakin dekat, mau tak mau Sena harus latihan agar acara nanti ia tampil dengan sempurna. Lagian kenapa murid dikelasnya asal menunjuk.

"Yaudah, Jihan duluan ya. Semangat buat latihannya." Setelah mengatakan itu, Jihan keluar dari kelas menuju kelas Netha. Sedangkan Sena ia melihat kepergian Jihan, disusuli dengan dirinya yang keluar dari kelas.

Kakinya melangkah untuk ketempat parkiran, dari jauh Sena sudah melihat Satya yang duduk diatas motornya. Lelaki itu fokus pada ponsel, hingga tak menyadari jika Sena sudah dihadapannya.

"Ayo."ajak Sena, ia menepuk bahu Satya membuat sang empu menoleh. Satya memasukkan ponselnya kedalam saku dan mengangguk.

"Gue laper, cari makan dulu ya?"ucap Sena.

Satya mengerutkan keningnya. "Lo laper?"tanya Satya, dan diangguki oleh Sena.

"Makan dirumah gue aja, lagian bunda gue juga kayaknya ada dirumah."

Mata Sena berbinar. "Bunda ada dirumah El?!"tanya Sena, tak sadar jika bibirnya mengucapkan nama lelaki itu. Lelaki yang kini sedang ia jauhi, terhitung sudah dua hari Sena mendiamkan lelaki itu.

Satya mengerutkan keningnya, namun tak lama kemudian ia paham. "Gue Satya Sen bukan El."ujarnya, lelaki itu terkekeh kecil.

Sena terdiam, apa benar ia mengucapkan nama lelaki itu? Menggaruk tengkuknya yang tak gatal. "Ehehe sorry."ucap Sena.

"Gapapa, ayo."ajak Satya.

Sena mengangguk, ia naik keatas motor Satya. Memegang pinggiran almamater lelaki itu. "Udah?"tanya Satya, dan diangguki oleh Sena.

Satya melajukan motornya, meninggalkan area sekolah yang sudah sepi. Tanpa mereka sadari, Azriel memperhatikannya dari kejauhan. Lelaki itu menghembuskan nafasnya pelan, ia sudah meminta maaf. Bahkan sudah mengirim pesan namun yang ada no nya diblok oleh perempuan itu.

WE'LL MEET AGAIN? [END]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang