36. Lapangan Kosong dari Masa Kecil

175 40 18
                                        

Setelah malam bermain monopoli dengan Dewa di rumah sakit itu, Bintang jadi punya semangat hidup lagi. Pagi hari ia akan menyiapkan sarapan dan makan bersama Oma. Setelahnya, ia akan mandi dan membantu Oma di toko bunga jika diperlukan. Jika tidak, ia akan mengunjungi calon sekolah barunya yang sudah ia tinjau melalui internet—meninjau lokasinya secara langsung dan bertanya satu dua hal kepada guru-guru di sana. Sore harinya, ia akan mengunjungi Dewa di rumah sakit, bermain bersama, bercerita, atau duduk berdua dalam diam hingga jam besuk habis.

Namun ada yang berbeda hari ini.

Akibat salah naik bus sepulang dari menjenguk Dewa di rumah sakit, Bintang tersasar di salah satu kawasan yang letaknya lumayan jauh dari rumahnya. Ia baru sadar ketika bus sudah berjalan jauh meninggalkan halte rumah sakit. Sudah banyak pemberhentian yang terlewati. Ia menyalahkan kantuk dan fokusnya yang hilang. Maka, Bintang lekas turun di halte berikutnya untuk mengambil bus yang berlawanan arah dan pulang.

Kawasan itu familiar baginya. Di sana rumah masa kecilnya bersama orang tuanya dulu.

Mata Bintang mendadak segar saat menyadarinya. Jantungnya berdegup lebih cepat. Dalam hatinya yang paling dalam, ada ruang khusus yang menyimpan kenangan tentang tempat ini. Tentang sosok dirinya semasa kecil yang berjalan kaki sepulang sekolah. Tentang rumah bertingkat dua yang kerap kali terdengar suara adu mulut dan sumpah serapah dari balik dinding-dindingnya. Tentang tangis Bintang yang tertahan sembari meringkuk sendiri di dalam kamar. Tentang lapangan kosong tempatnya lari ketika sudah tidak tahan lagi dengan kondisi di rumah. Tentang sosok yang senantiasa membersamainya melewati masa-masa suram itu, namun berakhir meninggalkannya tanpa penjelasan apapun.

Langit, teman kecilnya. Entah di mana sosok itu sekarang. Bintang menguburnya jauh di masa lalu, menolak mengingat hal-hal tentangnya di hari ia pergi. Bintang membangun tembok dari dunia setelahnya, tidak lagi menggantungkan apa-apa pada siapa-siapa. Patah hati pertama dalam hidupnya.

Hatinya tergelitik untuk menyisir kawasan yang sudah lama tidak dikunjunginya itu. Ia penasaran dengan kondisi rumah lamanya, juga lapangan kosong tempatnya mengalihkan diri dari lara.

Bintang berderap pelan melewati gapura perumahan yang dijaga oleh seorang satpam. Satpam itu mengangguk ramah dan mempersilahkannya masuk setelah ia mengatakan bahwa dirinya ingin mengunjungi rumah seorang kerabat dan menyebutkan blok rumah lamanya.

Gadis itu berjalan pelan menyusuri jalan perumahan yang dulunya ia lewati setiap hari. Banyak yang berubah. Tempat pejalan kaki yang dulunya masih berupa tanah sudah dipaving blok. Setiap rumah ditanami rumput hijau di pekarangannya, dengan tinggi yang seragam, tampak disiangi dan dirawat dengan baik. Tidak ada daun kering yang jatuh di jalanan. Semua tampak rapi.

Sampailah ia di depan rumah bertingkat dua yang menjadi saksi bisu suram masa kecilnya. Rumah itupun banyak berubah. Seperti mobil berplat putih yang terparkir di garasinya, pagar yang tampak baru dicat, juga siluet keluarga yang tampak dari jendela kamar lama Bintang. Pasangan muda yang baru dikaruniai anak pertama, tebak Bintang dalam hati, menilai dari siluet bayang wanita yang bolak-balik di depan jendela, suara tangis bayi yang nyaring, juga suara seorang laki-laki yang berusaha menenangkan si bayi namun gagal.

Bintang tersenyum sendu. Setidaknya rumah itu sekarang berada di tangan yang baik. Bukan lagi tangan yang merusak dinding-dindingnya dengan pecahan piring, memenuhi penjurunya dengan caci maki, dan membanting kasar pintu-pintunya.

Ia lalu menoleh ke bangunan di samping. Rumah berpagar putih yang dulunya ditinggali sahabat kecilnya sudah berubah total. Bentuknya tak lagi sama. Bintang berani bertaruh, pemilik barunya meruntuhkan total rumah tersebut lalu membangunnya dari awal.

Kemudian, tempat terakhir yang Bintang kunjungi adalah lapangan kosong. Langkah kakinya membawanya ke sana. Tempat ini sudah asing di mata Bintang, namun kedua tungkainya ingat persis kemana harus melangkah.

BintangTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang