34. Acara Besar

172 35 58
                                        

Pagi hari, tenang, cuaca sedang bagus-bagusnya. Bintang berjalan menyusuri koridor sekolah yang masih lengang. Bel masuk masih lama berbunyi sehingga sekolah belum ramai. Ia berderap ke koridor loker untuk menyimpan tas sebelum masuk ke kelas.

Saat sampai di depan loker, Bintang mengeluarkan kunci loker miliknya. Ia memperhatikan ada yang lain dari kunci lokernya. Gantungan kecil berbentuk bintang yang biasa tergantung di sana lenyap. Gadis itu mengernyit. Seingatnya, kemarin gantungan kunci miliknya itu masih ada.

Tapi karena tidak mau pusing perkara gantungan kunci yang sepele, Bintang memasukkan tas dan mengambil buku-buku pelajaran yang dibutuhkannya sampai jam istirahat. Setelahnya, ia berderap pelan ke kelas.

Ia berpapasan dengan Langit di perjalanannya menuju kelas. Langit berhenti melangkah saat melihat Bintang, seolah ingin memanggilnya namun tidak ia lakukan. Bintang yang berusaha tampak tidak peduli hanya berjalan melewatinya, seolah mereka tidak saling mengenal.

***

Pelajaran Fisika selalu membosankan bagi Bintang. Terlebih ketika ia sedang tidak fokus seperti saat ini. Tubuhnya ada di ruang kelas, namun pikirannya mengawang kemana-mana. Dari berita yang disampaikan oleh ibu Dewa tadi pagi, Dewa sudah bisa duduk di tempat tidur. Sebuah kemajuan yang pesat mengingat seminggu yang lalu cowok itu terkapar di ruang ICU. Ibu Dewa juga berpesan agar Bintang membawakan buku bacaan untuk Dewa kalau datang menjenguk, yang langsung disanggupi dengan senang hati oleh Bintang.

Di tengah-tengah penjelasan Pak Nas tentang fluida statis, gadis itu membuang pandangannya ke luar jendela. Ke arah koridor yang menghubungkan semua kelas X. Saat itulah matanya menangkap sosok Thalia yang baru saja melewati kelasnya dengan langkah tergesa.

Melihatnya, Bintang bangkit dari tempat duduknya lalu meminta izin kepada Pak Nas untuk ke toilet. Bintang segera berlari kecil mengejar Thalia, bermaksud menyapa. Jejak Thalia membawanya ke koridor loker, di mana Bintang mendapati gadis itu berdiri di depan loker miliknya.

"Tha—" Belum sempat Bintang memanggil gadis itu, seseorang dari arah berlawanan lebih dulu menghampiri Thalia. Mereka berbicara dengan serius sehingga Thalia tampak tidak menyadari keberadaan Bintang di belakangnya. Bintang mundur, mengambil posisi yang agak tersembunyi di balik salah satu loker, mengawasi Thalia dari jarak aman.

Bintang membeku begitu melihat sosok yang datang menghampiri gadis itu.

Alvian.

"Kapan?" tanya Thalia. Suaranya pelan. Kepalanya mendongak menatap Alvian yang beberapa centimeter lebih tinggi darinya. Bintang tidak dapat melihat ekspresi wajah Thalia karena gadis itu memunggunginya.

"Sekarang," jawab Alvian. "Gue udah ngirim catatan anonim ke laci meja Renata. Mungkin sekarang dia lagi ke kelas Langit, mengonfirmasi kebenarannya."

Thalia tidak menjawab.

Alvian mengangkat sebelah tangannya dan mengacak rambut Thalia pelan. "Makasih, Thal. You're the best."

Bintang terkesiap melihat gestur akrab itu. Terlebih lagi, Thalia tidak mengelak atau berkelit sedikitpun. Gadis itu diam di tempatnya, seolah yang dilakukan Alvian adalah sesuatu yang wajar. Mereka tampak dekat.

Bintang lari dari tempat persembunyiannya, kembali ke kelas. Napasnya tidak beraturan. Pikirannya sibuk menerka-nerka apa yang sebenarnya terjadi. Benaknya mulai menghubung-hubungkan segala sesuatu yang telah terjadi. Mawar hitam di kamarnya dengan nama Alvian. Thalia yang memeluknya di depan rumah. Mawar hitam di lokernya. Thalia yang selalu berada di sekitarnya. Thalia yang bersikap janggal akhir-akhir ini. Wajah menangisnya. Permintaan maafnya.

BintangTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang