Halo, Youniverse. Kali ini kita masuk extra part kedua. Tidak akan ada konflik lagi. Tapi sebagai gantinya, aku buat geregetan saja ya. Biar tidak lupa dengan Mangata. Jangan lupa share story ini yaa, supaya mereka baca juga!
Jangan lupa tekan vote dan beri komentar yang ramai. Aku berharap bisa ada 1K komentar lagi di sini. Semoga kalian semua bisa yaa! Mohon apresiasinya!
So, enjoy it!
*
Aroma roti dan kopi menjadi satu di lantai bawah. Sementara itu di lantai paling atas. Sudah berbeda lagi, campuran vanilla dan sesuatu yang segar. Terkesan mahal dan menenangkan.
Sebuah tangan memegang ponsel yang menampilkan foto seseorang dengan posisi menyamping. Pria itu memicingkan mata dan mulai berpikir keras lalu membayangkan sesuatu sesuai imajinasinya.
"Sepertinya bagus," gumamnya.
Dia kembali membesarkan layar dan mendekatkan wajahnya. Tatapan orang itu sangatlah intens.
"Ah, apa aku tanya dia saja ya? Tapi sepertinya tidak akan dijawab lagi," lanjutnya bermonolog ria.
Rambut pria itu berterbangan terkena angin dari luar yang masuk dari salah satu pintu di dekatnya yang dibuka oleh pengunjung lain di restoran itu.
"Hyung, sampai kapan kau ingin berbicara sendiri dan sibuk dengan dunia mu? Kenapa mengajakku bertemu?" tanya seseorang yang sedari tadi duduk diam di depan Taehyung.
"Ah! Benar juga. Jungkookie, pesan apa saja yang ingin kau makan ya. Aku sedang berpikir keras," jawab Taehyung.
Jungkook menatap datar. Dia mengambil buku menu dan mulai memilih-milih apa yang akan dipesannya.
"Kook, nanti kau potong rambut seperti ini ya" kata Taehyung sambil menyodorkan ponselnya. Jungkook menurunkan buku menu. Dia melotot.
"Hah?! Kau pikir aku anak sekolahan?!" pekiknya.
"Kau ini masih berumur tiga puluh empat ya, Sialan. Jadi harusnya kau bertindak layaknya hot daddy! Bukannya berperilaku seperti kakek-kakek!" kata Taehyung tak mau kalah.
"Apa maksudmu, Hyung? Memangnya ada kakek-kakek yang seperti aku ini ha?!" balas Jungkook.
Beberapa pelayan mendekat ke arah mereka. Bermaksud untuk melerai. Namun Taehyung lebih dulu tersenyum ke arah mereka dan lalu dia membuat pesanan, begitu pula Jungkook. Tiga orang pelayan itu kembali pergi dari meja keduanya.
"Kau harus mengubah penampilanmu lagi. Harus lebih segar, lebih enak dipandang. Jungkook, lihat hyung, gagah dan berani. Kau harus mencontoh ini. Bertindaklah layaknya sugar daddy," jelas Taehyung panjang lebar.
Si pemuda Jeon kembali menatapnya datar. Apa-apaan dia ini, pikirnya.
"Hyung, kau sehat?"
"Aku jelas sehat!"
"Lihatlah orang itu. Jangan dicontoh ya, tidak baik bertengkar di muka umum" ujar seseorang yang bisa didengar Jungkook maupun Taehyung. Mereka melirik perlahan ke arah wanita muda denga anak kecilnya.
"Mama! Orang aneh itu melihat kemari!" teriak sang anak.
Kening Jungkook dan Taehyung berkedut. Hati mereka serasa tertusuk karena perkataan anak kecil manis itu.
"Hyung, kita aneh" gumam Jungkook dengan raut wajah pasrah.
Taehyung mengangguk pula.
"Iya, aku tau kalau kita aneh. Jungkook, makanannya dibawa pulang saja ya? Kita makan di tempatmu bersama Byul. Aku malu dikatai begitu oleh anak kecil. Ah, hatiku sakit sekali, seperti ditusuk-tusuk duri mawar di kebun pamannya Jimin, ah sakitnya" katanya begitu dramatis.
KAMU SEDANG MEMBACA
MANGATA ✓
Fanfiction[Be wise: Mature + Erotic] Sulit, Hasa diminta menikah dengan sosok hitler dan dominan abadi seperti Jeon Jungkook. Sial atau menantang? ❝Jungkook, kalau aku tercebur ke sungai. Kau akan menolongku atau melihati saja?❞ ❝Aku akan menyuruhmu berenang...
