"Oh? Pa? Kenapa belum tidur?" Min Sunghoon, pemuda berusia sembilan belas tahun yang merupakan putra sulung Yoongi dan Jimin, menyapa sang ayah yang terduduk seorang diri di ruang keluarga dengan kaca mata yang bertengger apik di batang hidungnya.
"Huh? Kau baru pulang? Jam berapa ini, Sunghoon?" Pertanyaan basa-basi Sunghoon tak serta merta membuat Yoongi abai akan fakta bahwa putranya pulang terlambat malam ini.
"Ah~ aku tadi harus menghadiri rapat organisasi di kampus dulu, pa."
Yoongi menutup buku yang tengah di bacanya, menatap anaknya dengan benar dari balik kaca matanya. "Organisasi apa yang membuat mahasiswanya pulang selarut ini, Sunghoon? Kalian itu pelajar, tugas kalian yang paling utama adalah belajar. Apa aku harus memberikan teguran pada kampusmu itu, Sunghoon? Atau mau langsung kubuat tutup saja, hm?"
"Oh, come on, pa. We're almost twenty." Protes Sunghoon yang tahu bahwa ucapan sang ayah bukan sekadar guyonan. Pria itu benar-benar bisa melakukan apapun yang dia mau pada kampusnya.
"So what if you're almost twenty? Huh? Kau boleh bicara seperti itu jika sudah bisa mencari uang lebih banyak dariku." Counter balik sang ayah membuat Sunghoon mendengus pasrah. Bisa apa dia jika orang tuanya sudah bicara begitu?
"Ada apa ini? Kenapa ribut malam-malam begini?" Jimin menimpali sembari menuruni tangga, rupanya percakapan dua pria itu menariknya turun dari ranjangnya yang nyaman.
"Nothing, darling~ hanya percakapan dua orang pria dewasa." Sahut Yoongi dengan senyuman manisnya yang begitu mencurigakan. Sunghoon bahkan berhasil dibuat merinding olehnya.
Jimin menghela nafas, dia bisa mendengar seluruh percakapan ayah dan anak itu dengan baik dalam kesunyian seperti ini di malam hari, di kediaman mereka. Kemudian dia menoleh pada putra sulungnya, "masuk ke kamar mu dan istirahatlah, Hoonie. Besok kita bicara." Ucap Jimin dengan senyum tipis yang membuat Sunghoon semakin ngeri. Baiklah, sepertinya setelah ini dia akan sulit mendapatkan izin untuk pulang terlambat lagi?
Sunghoon menghela nafas pelan sebelum berlalu, setelah mengucapkan selamat malam pada kedua orang tuanya.
Jimin berjalan menghampiri Yoongi yang sudah membuka kedua tangan untuknya. Dan Jimin dengan santai mendudukkan dirinya di atas pangkuan sang suami yang segera memeluk perutnya erat.
"Kenapa tidak tidur, hum? Aku sudah menunggu mu."
"Oh, sungguh? Maaf. Aku hanya ingin memastikan putraku sampai di rumah dengan selamat." Sahut Yoongi dengan senyum manis yang selalu membuat Jimin jatuh cinta. Dia tahu Yoongi selalu perhatian pada keluarga kecil mereka.
Jimin balas tersenyum dan mengecup kening suaminya, "dia sudah pulang. Jadi, sekarang waktunya kita tidur, hum? Jangan terlalu memaksakan dirimu bergadang untuk menunggunya, sayang. Biarkan aku yang mengurus anak-anak."
"Tapi dia juga anakku, kau sudah menjaga mereka dengan baik selama aku bekerja, jadi aku juga harus melakukannya, kan?"
Sepasang suami itu menatap dalam dengan penuh cinta dan kasih, kemudian keduanya berciuman singkat sebelum beranjak pergi ke dalam kamar dan beristirahat.
•
•
•
-Divorce -
.....
Namjoon menyandarkan duduknya di head board kasur, menatap sendu pada sang anak yang telah terlelap setelah banyak menangis beberapa saat lalu. Sungguh, hati Namjoon berdenyut nyeri kala mengingat bagaimana anak yang selalu tersenyum riang itu menangis tersedu dan memeluknya dengan begitu erat. Ketakutan yang Sunoo ungkapkan bahkan bisa dimengerti dan dirasakan dengan jelas oleh Namjoon.
KAMU SEDANG MEMBACA
Divorce
Fanfiction🎖 #1 - leeruby (Aug, 08 '21) 🎖 #1 - jhope (Mar, 01 '22) 🎖 #2 - txt (Feb, 08 '23) Mengapa mereka berpisah? Dan apakah mereka akan kembali bersama? Mana yang akan di pilih, Keluarga ataukah Ego? BXB MPREG 21+
