Irene masih di unit apartemen nya, setelah ucapan blak-blak an Namjoon semalam, wanita itu gundah luar biasa. Terlebih Irene tahu bahwa Namjoon akan menghabiskan banyak waktu dengan mantan istrinya itu sejak kemarin. Bukan hal mustahil kalau mereka akan mengenang masa lalu, bukan? Di tambah Irene tahu bagaimana anak-anak itu tak menyukainya. Irene tahu mereka ingin ibu dan ayah mereka kembali bersama.
Wanita cantik itu menenggak gelas berisi cairan ungu pekat, dia sudah menghabiskan beberapa botol dalam semalam. Irene masih sibuk memikirkan Namjoon nya, dia mencintai Namjoon. Sangat.
Ponselnya berdering nyaring, membuat si empu mengangkat kepala susah payah, Irene mabuk berat, isi kepalanya serasa berputar dan dia mulai mual. Wanita itu meraih benda pipih berisik diatas meja marmer pantry apartemen nya, mengangkat panggilan yang entah dari siapa. Irene malas membaca.
"Yeoboseyo?"
"Kau dimana!?"
"Nugu ya?"
"Kau mabuk?! Astaga!" Pria bersurai blonde sampai ke tengkuk itu mendesah frustasi.
"Nugu ya? Berani-beraninya membentak ku!"
"Aku Felix, bodoh! Manajer mu! Kenapa kau mabuk di saat kau harus shooting wanita bodoh?!?" Felix benar-benar kesal.
"Cih, berisik sekali. Aku tidak mau shooting. Aku mau tidur saja. Sudah jangan menggangguku, kau pria cerewet!"
"Ya-"
Tut.. Tut.. Tut..
Irene memutus panggilan sepihak, wanita itu membiarkan ponselnya tergeletak disana dan dia pergi masuk ke kamarnya. Wanita itu gila, dia benar-benar akan tidur di tengah jadwal padatnya. Doakan Felix agar tak mengamuk.
"Wanita gila!" Umpat pria berbariton di lokasinya. Suaranya benar-benar seksi, tidak cocok dengan muka nya yang seperti baby.
"Bagaimana, Felix?" Itu Jaehwan, yang sejak tadi memang menunggu kehadiran si artis yang barusan memutus kan panggilan seenak jidat.
Felix menatap tak enak hati, membungkuk berkali-kali. Jaehwan menghela nafas dalam, dia tahu artinya gestur itu. Jadwal shooting nya berantakan. Pertama karena Seokjin yang harus cuti karena anaknya, lalu sekarang pemeran utama wanita yang entah sedang apa. Jaehwan ingin mengumpati siapa saja rasanya.
"Kau, jemput dia. Ku beri waktu satu jam untuk membawanya kemari. Atau kontrak nya ku batalkan. Dan artis mu itu harus membayar ganti rugi yang besar."
Mata Felix membulat, sial. Inilah masalah yang paling tidak disuakinya selama menjabat sebagai manajer artis terlebih itu Irene a.k.a Joo Hyun. Felix tidak punya pilihan, dia hanya membungkuk patuh dan bergegas pergi meninggalkan lokasi shooting, untuk mendatangi wanita gila yang sangat ingin di cekiknya sekarang.
°
°
- Divorce -
Seokjin duduk dengan canggung bersisihan dengan mantan ibu mertua yang telah lama tak di jumpainya, bukan karena hubungan tak baik, tapi karena kesibukan dan perasaan tak lagi memiliki hubungan membuat Seokjin sungkan untuk sekadar menghubungi, bertanya kabar. Dialah yang telah membuat keputusan yang mengecewakan semua pihak 10 tahun lalu, dialah yang egois dan mengacaukan segalanya. Seokjin merasa tak enak hati, tentu saja.
"Seokjin, bagaimana kabar mu?" Wanita paruh baya berlesung pipi mirip dengan milik putra semata wayangnya itu menyapa lembut, masih sama, tak ada yang berubah.
"Eommonim.. Aku.. Aku baik-baik saja."
Wanita itu mengangguk, tersenyum melihat gelagat canggung mantan menantunya yang amat kentara. "Syukurlah, Seokjin. Kau harus selalu baik, mengurus dua anak tanpa pendamping bukanlah hal mudah. Aku yang sudah tidak mengurus Namjoon secara langsung saja masih sering dibuata pusing. Aku sangat tahu beratnya menjadi dirimu." Wanita berstelan rapih itu terkekeh singkat, gurat wibawa nyonya besar masih begitu jelas di wajahnya yang sudah tak lagi muda.
"N-ne.. Eommonim. Maaf, karena Sunoo sampai harus masuk rumah sakit seperti ini." Ucap Seokjin, menunduk penuh sesal.
"Aigoo, kenapa meminta maaf padaku, anak-anak wajar jatuh sakit. Kita orang tua pun bisa sakit." Sahutnya menenangkan.
Seokjin tersenyum tipis, "ne, eommonim. Bagaimana kabar mu? Ku harap kau selalu sehat."
"Aku segar bugar, Seokjin.- Ahh.. Bertemu dengan mu seperti ini membuat ku rindu pada mendiang ibu mu." Ucapnya seraya menerawang sedikit ingatan masa lalu.
"Hum.. Aku juga selalu merindukan ibu dan ayah." Tatapan Seokjin berubah sendu, sudah lama rasanya sejak terakhir dia mengakui rasa itu. Pasalnya selama ini Seokjin selalu menepis rindu yang akan membuatnya kembali bersedih kala mengingat kedua orang tuanya yang telah tiada. Seokjin tak pernah tak menyesali keputusannya yang membuat mereka bersedih di penghujung waktu. Meski tak membahas apapun lebih lanjut setelah perceraiannya, Seokjin tahu kedua orang tuanya begitu kecewa saat dia memutuskan berpisah dengan Namjoon. Dan perasaann bersalah itu menghantui Seokjin setengah mati. Bahkan hingga saat ini.
Seokjin terhenyak saat tangan ibu dari mantan suaminya itu meraih tangannya, membawanya dalam genggaman hangat. Dua pasang netra berbeda generasi itu saling tatap lekat, "Seokjin-ah, kau tahukan aku begitu menyayangi mu, sejak dulu. Jangan.. Karena perpisahan mu dengan Namjoon, lalu membuat hubungan mu dengan ku ikut merenggang. Nak, aku tahu sangat terlambat mengatakan ini, tapi.. Bisakah aku tetap mendapatkan mu sebagai anakku seperti dulu? Aku selalu memikirkan mu, bagaimana hidup mu dan cucu-cucu ku. Aku tahu berat nya menjadi diri mu, Seokjin. Kita.. Telah sama-sama menjadi seorang diri, bisakah kita berbagi?"
Mata Seokjin berkaca, dialah yang telah salah selama ini, dia yang membatasi dirinya karena merasa tak pantas. Dan kini, wanita itu bahkan menatapnya masih sama hangat seperti dulu saat dia meminta Seokjin menjadi menantunya. Seokjin mengangguk, matanya berkedip membuat bulir bening jatuh begitu saja dari pelupuk, yang lebih tua merengkuh tubuh tegap itu dan memeluknya erat. Seokjin sungguh merindukan pelukan seperti ini, beda seperti pelukan Yoongi, Jimin, Taehyung, anak-anak, bahkan Namjoon. Pelukan orang tua, Seokjin rindu mengadu. Isakannya pecah saat teringat kembali masa-masa yang terus membuatnya frustasi di waktu lalu. Kalau boleh mengulang, boleh kah Seokjin memperbaiki segalanya?
Pemandangan yang mengharukan, membuat yang mengintip keadaan ikut menahan sesak. Namjoon berdiri di ambang ruangan menatap dan mendengar segalanya, dia hancur melihat dua kesayangannya sama-sama menahan rasa. Seandainya Namjoon lebih tegas dan peka pada rasa sejak dulu, akankah semua kemalangan ini terjadi? Bahkan pikiran-pikiran manis seperti meminum coklat hangat di depan perapian dan pohon natal bersama seluruh keluarganya sembari bersenda gurau tiba-tiba memenuhinya, membuat hatinya bergemuruh semangat. Entah semangat untuk mewujudkan atau apa, namun di sisi lain pun dia merasa miris dengan impian yang terasa semu.
°
°
Felix tiba di apartemen artis nya, dia menyusuri ruangan dengan langkah gusar, mendapati sosok yang di carinya tertidur ditepi kasur dengan tubuh yang terduduk di lantai. Pakaiannya masih sama seperti terkahir dia melihatnya, Felix ingin berteriak marah saat itu juga jika tidak sayang-sayang dengan tenaga.
"Irene? Irene-ah? Yak, Bae Joo Hyun!" Felix mengguncang tubuh si wanita teler, berharap ada keajaiban agar wanita penguji kesabaran itu segera tersadar. "Oh, ayolah. Bangun atau kau dan aku akan kehilangan pekerjaan, wanita bodoh!" Felix mendesah hampir gila karena manusia di hadapannya bahkan tak bergeming.
"Astaga! Joo Hyun!"
Terkejut, Felix bak tersambar petir. Buih halus berada di sekitar bibir Irene. Wanita itu mengeluarkan busa dari mulutnya.
°
°
"Oh, astaga, kenapa jadi begini?" Jaehwan menghela nafas entah telah yang keberapa kali, pria itu mengusak kasar surai belakang yang sudah diremat kuat sejak tadi guna menyalurkan emosi. Kabar yang diterima barusan dari Felix membuatnya ingin menenggelamkan diri, setelah anak Seokjin yang terdiagnosa Leukemia, lalu sekarang Joo Hyun masuk rumah sakit karena overdosis obat? Kesialan ini terlalu bertubi. Orang seperti Jaehwan pun punya batas sabar.
KAMU SEDANG MEMBACA
Divorce
Fiksi Penggemar🎖 #1 - leeruby (Aug, 08 '21) 🎖 #1 - jhope (Mar, 01 '22) 🎖 #2 - txt (Feb, 08 '23) Mengapa mereka berpisah? Dan apakah mereka akan kembali bersama? Mana yang akan di pilih, Keluarga ataukah Ego? BXB MPREG 21+
