Eps. 1 | Divorce

6.7K 273 19
                                        

"Ayo, kita berpisah."

Kim Namjoon, ayah dari dua orang anak itu mengernyit heran, terkejut dengan ajakan tiba-tiba sang istri. Matanya menatap lurus penuh tuntutan akan penjelasan pada pria yang baru saja mengajaknya untuk berpisah, benar-benar berpisah.

"Tiba-tiba? Apa pada akhirnya kau menyerah, Jinseok?" Namjoon bertanya datar, berusaha menutupi segala keresahan yang tiba-tiba saja menyerbu dalam benak, di hatinya.
Namun Namjoon tak begitu memahami dengan apa yang tengah dirasakannya.

Kim Seokjin, pria yang lebih tua dua tahun dari suami yang baru saja diajaknya berpisah itu mengangguk mantap. Pada akhirnya, setelah sepuluh tahun bersama, pria berparas cantik itu mengungkapkannya, memutuskan untuk menyerah.
Menyerah pada hubungan sepihaknya, menyerah pada perasaannya, menyerah pada... Harapannya.

Namjoon, pria berkulit tan itu  merespon dengan helaan nafas dalam, sebelum kemudian menghembuskannya perlahan, dia tengah berusaha keras agar tak kalut dan larut.
Namun pada akhirnya, dia mengangguk dengan setengah keraguan.

"Baiklah kalau itu mau mu, aku tidak bisa memaksa. Aku akan mengurus segalanya mulai besok. Kau dan anak-anak bisa tetap tinggal di sini. Aku akan kembali ke apartemen ku."

Tangannya terkepal kuat, Seokjin menggeleng samar, "tidak perlu, aku akan kembali ke rumah orang tuaku besok. Aku tidak mau tinggal lebih lama di sini." terlalu banyak kenangan bersamamu.

Lagi, Namjoon menghela nafasnya yang terasa semakin berat dan menyesakkan. Dia masih belum juga paham dengan apa yang tengah terjadi pada dirinya, pada hatinya.
Seharusnya dia baik-baik saja, seharusnya dia tak merasa gelisah seperti ini, seharusnya dia tahu bahwa cepat atau lambat ini akan terjadi. Sebab selama ini mereka hanya tengah berada dalam bisnis berkedok sebuah pernikahan. Setidaknya, begitulah yang diyakini oleh Namjoon.

Malam itu, lisan mereka merapalkan perpisahan, Namjoon meninggalkan Seokjin di sana, di kamar yang sebelumnya mereka tempati bersama.

Blam.

Pintu tertutup pelan, menciptakan keheningan panjang yang kini seakan mengikat kuat leher Seokjin membuat dirinya sulit bernafas dengan benar. Dadanya naik turun menahan sesak yang menyeruak. Dan pada akhirnya, dia kalah, bulir bening dari matanya menitih begitu saja.

Kim Seokjin, tengah meratapi keputusannya.

* * *





















- Divorce -


Sepulu tahun berlalu setelah malam penuh luka.

















"Kim Sunoo! Kim Soobin! Cepat turun!" Teriakan familiar untuk seluruh penghuni kediaman itu kembali menggema nyaring pagi ini. Berhasil memanggil seorang pemuda yang terlihat turun dari anak tangga dan berjalan menghampiri ke ruang makan, tempat di mana panggilan sayang itu berasal.

"Yes, mommy~" Sahut si pemuda dengan sedikit berteriak, bukan kurang ajar, hanya memastikan agar ibunya tahu bahwa dia mendengar panggilannya.

"Haish! Anak-anak ini."

"Good morning mother, did you sleep well last night?" Kim Soobin, anak sulung berusia dua puluh tahun itu menyapa ibunya yang tengah repot menyiapkan sarapan sederhana untuk kedua putranya.

"Ah, aku bahkan tidak tahu apa aku tidur dengan benar selama ini?" Jawab Seokjin seraya mendengus. "Di mana Sunoo? Kenapa semakin hari kalian semakin lelet saja, huh? Aku harus segera pergi ke agensi!" Omel Seokjin sembari terus mengoleskan selai ke atas roti tawar yang ke dua, untuk si bungsu yang belum juga kelihatan batang hidungnya.

DivorceTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang