Eps. 42

1.1K 124 12
                                        

Seokjin berlari kecil di koridor rumah sakit, sepatu pantofel nya beradu nyaring dengan lantai marmer yang di pijak. Yoongi dan Taehyung mengikutinya dengan langkah terburu, mereka semua khawatir dengan keadaan Namjoon.

Seokjin menemukan Namjoon tengah terduduk di ranjang ruang UGD, nampaknya luka pria itu sudah selesai ditangani.

Seokjin bergegas mendekat dan memeluk Namjoon erat, dia hampir menangis. Meski sedikit terkejut, Namjoon menyambutnya dengan baik.

"Oh! Sayang?"

"Namjoon, hiks.." Akhirnya Seokjin menangis. Kakinya sudah lemas sepanjang perjalanan kemari. Pelukannya diurai dan dia menangkup wajah pria itu, menatapnya lamat-lamat. "Kamu baik-baik saja, kan? Huh?"

Namjoon terkekeh, tak bisa menahan rasa gemasnya pada pria cantik itu. Tangan Seokjin di wajahnya digenggam dan dikecup. "Aku tak apa, sayang. Hanya luka kecil dan sudah dirawat dengan baik." Namjoon menunjukkan lengannya yang sudah di perban rapih.

Seokjin mendesah lega, kembali memeluk Namjoon, lebih erat. "Aku khawatir sekali. Sangat khawatir."

"Aku baik-baik saja, Jinseok. Terlebih dengan pelukan ini."

Yoongi dan Taehyung yang juga sudah berada di sana hanya mampu memandangi keduanya, sama leganya. Mereka bersyukur Namjoon tak terluka parah.

"Namjoon, bagaimana dengan Irene?" Tanya Yoongi, menginterupsi.

Pelukan Seokjin diurai, dia juga menatap Namjoon, menanti jawaban.

Namjoon menghela nafas dalam sebelum mulai menjawab, "dia kehilangan bayinya."

Yoongi, Taehyung dan Seokjin nampak terkejut. Seokjin bahkan sudah siap menangis lagi, entah mengapa mendengar seseorang kehilangan seorang anak terasa begitu menyakitkan untuk Seokjin. Meski itu Irene sekalipun.

"Dia melukai dirinya cukup parah." Namjoon agaknya juga tak sanggup menyampaikan hal pilu itu. "Juga anak itu.. Dia tak bisa bertahan lebih lama." Pria itu menunduk, memandangi perban di lengannya. Namjoon tentu merasa bersalah atas kepergian si jabang bayi yang tak bersalah, seandainya dia bisa lebih cepat meraih Irene dan menghalangi perbuatannya, mungkin itu semua takkan terjadi.

Seokjin memahami perasaan Namjoon, dia kembali memeluknya. Membiarkan Namjoon bersandar di dadanya. "Jangan salahkan dirimu, Namjoon." Lirih Seokjin.

"Itu benar, hyung. Jangan salahkan dirimu." Timpal Taehyung, ikut memberikan support.

Yoongi menghela nafas, "hah.. Ini jadi terlalu memilukan, menyedihkan." Lirihnya.

Ke empat orang dewasa itu terdiam, sementara memanjatkan doa dan harapan untuk si jabang bayi yang bahkan belum sempat dilahirkan. Semoga ruh malaikat kecil itu akan mendapatkan tempat lebih layak di kehidupan selanjutnya.



















Felix memandangi Irene yang belum sadarkan diri di ruang ICU. Sedikit merasa iba pada wanita muda itu, kenapa dia tak menjalani hidupnya dengan baik? Mengapa harus memilih jalan serumit ini? Felix tak mengerti isi pikiran si pemilik nama asli Bae Joo Hyun ini.

"Seharusnya kau bisa baik-baik saja dengan hidupmu, Irene." Gumamnya nelangsa.















- Divorce -


Hari berlalu, jadwal operasi Sunoo hampir tiba. Soobin bahkan sudah lebih siap dari saat pertama kali dirinya tahu bahwa dialah yang bisa menolong sang adik dengan melakukan operasi itu. Yeonjun banyak memberikan support padanya, begitupun kedua orang tuanya, Soobin bersyukur. Pun dia senang melihat hubungan mommy dan daddy nya terus membaik setiap hari.

DivorceTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang